Sanjungan Yang Melalaikan

Suatu hari di dalam hutan, rubah melihat seekor gagak terbang dengan sepotong daging di paruhnya. Sang gagak itu hinggap di dahan pohon.

Rubah yang dari pagi belum makan, mau mendapatkan daging tersebut. Ia pun berjalan hingga ke bawah pohon yang dihinggapi gagak tadi.

“Selamat petang, Gagak yang cantik!” serunya. “Betapa mempesonanya penampilanmu hari ini. Matamu tampak cerah, paruhmu bersih dan bulumu berkilau.”

Mendengar pujian itu, gagak menoleh ke bawah. Senang sekali hatinya mendapat pujian dan sanjungan dari rubah.

Melihat reaksi gagak, rubah melanjutkan rancangannya. Ia memuji gagak lebih jauh lagi.

“Melihat penampilanmu yang luar biasa, pasti suaramu juga sangat merdu melebihi suara burung lain di hutan ini. Nyanyilah satu lagu, aku ingin mendengarnya.

Merasa tersanjung, gagak mengangkat kepalanya dan bersiap membuka suara.

Ia lupa, ada daging di paruhnya. Potongan daging itu jatuh ke tanah dan segera diambil oleh rubah, sementara gagak terus bernyanyi.

Ketika ia selesai bernyanyi dan rubah sudah pergi jauh dari situ, gagak baru menyadari apa yang telah terjadi. Ia menyesal, sudah lengah hanya kerana pujian sang rubah.

Demikian juga kita senantiasa perlu bersikap waspada dan tidak lengah. Ada orang yang memberi pujian hanya kerana ingin mengambil keuntungan atau ada niat jahat terhadap kita.

Orang-orang bermulut manis akan melontarkan kata-kata pujian yang berlebihan secara berulang-ulang, namun jika kita waspada kita akan dapat merasakan bahwa hal itu diutarakan secara tidak tulus atau “mempunyai maksud yang tersembunyi” kerana ada keinginan untuk mencari keuntungan untuk kepentingan diri sendiri.

“𝑆𝑒𝑝𝑒𝑟𝑡𝑖 𝑝𝑒𝑐𝑎𝒉𝑎𝑛 𝑝𝑒𝑟𝑖𝑢𝑘 𝑏𝑒𝑟𝑠𝑎𝑙𝑢𝑡𝑘𝑎𝑛 𝑝𝑒𝑟𝑎𝑘, 𝑑𝑒𝑚𝑖𝑘𝑖𝑎𝑛𝑙𝑎𝒉 𝑏𝑖𝑏𝑖𝑟 𝑚𝑎𝑛𝑖𝑠 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝒉𝑎𝑡𝑖 𝑗𝑎𝒉𝑎𝑡.”

Leave a Comment