
Pagi itu Eric tukang kasut bangun lebih awal dari biasa. Dia membersihkan kedainya, kemudian kembali ke dalam rumahnya, menyalakan api di tungku, dan menyiapkan meja. Hari ini dia mengambil keputusan untuk tidak bekerja.
Dia menunggu kedatangan, seorang tetamu istimewa iaitu Tuhan. Malam sebelumnya Tuhan datang dalam mimpinya dan memberitahu Eric bahwa Dia akan datang mengunjunginya besok.
Eric yang excited dan penuh sukacita duduk di ruangan yang nyaman dan menunggu. Kemudian dia mendengar langkah kaki di luar dan ketukan pada pintu “dia sudah datang,” fikir Eric, sambil lari ke arah pintu dan membukanya. Ternyata itu hanyalah posmen. Wajahnya merah dan jari-jarinya biru kerana kedinginan. Dia menatap Eric sambil menelan air liur melihat cerek berisi teh di tungku. Eric mengajak dia duduk menghangatkan diri di dekat tungku dan memberikannya segelas teh.
Posmen itu berkata: “Terima kasih, teh ini sedap.” Kemudian dia menghilang di tengah cuaca dingin di luar.
Setelah posmen itu pergi, Eric membersihkan lagi mejanya. Lalu dia duduk di dekat jendela untuk menunggu kedatangan tetamunya. Dia yakin bahwa tetamu itu akan datang.
Tiba-tiba dia melihat seorang anak laki-laki yang sedang menangis. Eric memanggilnya dan mengetahui bahwa anak itu kehilangan jejak ibunya di kota dan tidak tahu jalan untuk pulang. Kemudian,Eric menulis “Tunggu saya. Saya akan kembali segera.” pada sehelai kertas dan meletakkannya di atas meja. Kemudian dia membiarkan pintu terbuka sedikit. Dia memegang tangan anak kecil itu dan membawanya pulang.
Ternyata perjalanan itu mengambil masa yang lebih lama dari jangkaan. Hari sudah mulai agak gelap waktu dia sampai di rumahnya. Ketika sampai di rumah Eric terkejut mendapati ada seseorang di dalam rumahnya sambil memandang ke luar jendela. Hatinya berdebar. “Pasti Tuhan, yang sudah berjanji untuk datang.”fikirnya.
Ketika membuka pintu Eric mendapati bahwa orang itu adalah perempuan yang tinggal di tingkat atas flatnya. Perempuan itu kelihatan sedih dan lelah. Dia memberitahu bahwa anaknya sedang sakit parah,dia tidak tahu mau berbuat apa.
Eric merasa kasian dan ikut bersedih. Perempuan itu hidup sendiri dengan anaknya sejak suaminya meninggal dalam kecelakaan. Jadi dia ikut wanita itu. Mereka bersama-sama menyelimuti anaknya dengan kain basah. Eric duduk di tepi katil anak laki-laki itu, sementara ibunya beristirahat sejenak.
Ketika Eric kembali ke rumahnya, hari sudah larut malam. Eric sangat lelah dan sungguh kecewa lalu membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Hari sudah larut. Tuhan belum juga datang.
Tiba-tiba dia mendengar suara Tuhan yang berkata, “Terima kasih, kerana menghangatkan tubuh saya di rumahmu hari ini. Terima kasih kerana menunjukkan jalan ke rumah. Dan terima kasih atas dukungan dan bantuanmu. Anakku, saya berterima kasih kerana hari ini saya telah menjadi tetamu istimewamu.”
” Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”