
“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.”
Selain melazatkan makanan atau membuat sesuatu yang tawar menjadi ada rasa, garam juga digunakan sebagai pengawet makanan, mencegah pembusukan,alternatif untuk menghalau kuman dan mencegah infeksi gigitan serangga. Antara makanan yang diawetkan dengan garam adalah telur, ikan, daging dan sebagainya. Makanan yang diawetkan dengan garam dapat dikonsumsi beberapa bulan.
Namun, hakikat cara kerja garam itu bersifat tersembunyi,perlahan-lahan tapi pasti. Tersamar, tidak ketara, dan secukupnya saja. Garam itu melazatkan makanan tanpa menjadi makanan itu sendiri. Meleleh, melebur dan akhirnya tidak terlihat lagi,yang tinggal hanya rasanya.
Keberadaan kita di dunia ini maunya seperti garam yang dapat memberi rasa bagi dunia yang sedang tawar ini, rasa yang dapat dinikmati dan berguna bagi semua orang. Menjadi garam dunia menuntut kita memberkati dengan tidak menonjolkan diri, memberi manfaat tanpa mempamer diri.
Di balik sebutir garam itu tersembunyi kerendahan hati. Menjadi garam dunia itu kita berkorban untuk tetap tulus dan jujur meskipun banyak kelicikan dan kepicikan di dunia ini. Menjadi garam dunia itu berarti kita memberkati satu sama lain dalam kerendahan hati.