
Suatu hari Iblis, bertemu Tuhan. Iblis pun menceritakan keluh kesahnya.
“Tuhan, manusia itu keterlaluan. Mereka yang korupsi, mencuri, membunuh, saya yang disalahkan. mereka kata,”digoda Iblis,” keluhnya.
Tuhan pun menyambut keluhan Iblis.
“Sama, Aku pun begitu, Blis. Banjir, kecelakaan lalu lintas, suami isteri bercerai, mereka cakap, sudah kehendak Tuhan,” kata Tuhan.
Begitulah sifat manusia. Sering lari dari tanggungjawab, sering mencari kambing hitam,melemparkan kesalahan kepada pihak lain.
Itu juga yang terjadi di Taman Eden, ketika manusia jatuh ke dalam dosa. Adam yang telah melanggar perintah Tuhan dengan memakan “buah terlarang” itu, melemparkan kesalahan kepada Hawa. Dan Hawa pula melemparkan kesalahannya kepada ular.
Ini adalah sifat yang buruk. Sebab dengan melemparkan kesalahan kepada pihak lain, bukan saja kita telah mengandakan dosa kita, tetapi kita juga tidak belajar dari kesalahan itu.
Seberapa cerdikpun kita bersembunyi dari dosa, kita tidak dapat lari dari Tuhan. Seperti Adam dan Hawa, kita tidak dapat mengelak dari konsekuensi dosa. Pada akhirnya, kita harus mempertanggungjawabkan setiap dosa kita di hadapan Tuhan.
Jika dosa dibiarkan tinggal dalam diri kita,akan melahirkan dosa-dosa lainnya. Oleh itu, kita harus memutus mata rantai dosa,dengan mengakui dan bertanggung jawab atasnya. Mungkin kita akan “sakit” sesaat menanggung akibatnya, tetapi itu lebih baik daripada kita harus menanggung akibat dosa yang berpanjangan.









