Saling Mengasihi

“Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.”

Kasih adalah bahasa kehidupan yang dengannya seseorang dikenal baik. Seseorang yang dikenal tidak baik bererti kasihnya tidak cukup dirasakan walau dia memperkenalkan diri sebagai orang yang pengasih. Kasih bukanlah pada apa yang dilakukan bagi diri sendiri tetapi tentang perbuatan pada orang lain.

Kasih adalah kerendahan hati iaitu mengakui bahwa hidupnya bukanlah apa-apa selain dari kasih Tuhan dan segala talenta yang ada adalah untuk kemuliaan Tuhan.

Lemah lembut adalah sikap hidup yang selalu menampakkan tindakan dan perkataan yang tidak menyakiti baik fizikal maupun mental sesamanya. Sopan santun dan keramahan termasuk dalam sikap ini dan dirindukan untuk dialami dari setiap orang tetapi sering sulit dilakukan. Lemah lembut itu adalah bahasa kasih yang merdu.

Sabar adalah kemampuan untuk menanggung dengan tabah segala beban yang ada tanpa mengeluh kerana lamanya waktu dan beratnya beban yang ditanggung. Ketika sabar sudah berbatas hilanglah kasih.

Saling membantu adalah kerelaan untuk memberi waktu, pemikiran, tenaga, dorongan semangat, dan material kepada orang lain untuk menolong dalam keperluannya. Saling membantu dalam hal yang baik adalah kasih.

Wanita Luarbiasa

Sepasang suami isteri,Shane dan Casie sudah 5 tahun tidak tinggal serumah. Rancangan mereka akan bercerai tahun depan. Lagipun Shane sudah ada kekasih baru.

Beberapa bulan kemudian, ada sesuatu terjadi. Shane mengalami kegagalan ginjal yang parah. Cassie tidak sampai hati melihat keadaan itu. “Bagaimanapun, dia masih suamiku,” ujarnya.

Maka Cassie sumbangkan satu ginjal untuk suaminya, tanpa syarat apapun. Rancangan untuk bercerai tetap berjalan.

Namun setelah keduanya pulih dari operasi, mereka jatuh cinta lagi. Shane berkata, “Buat apa aku mencari perempuan lain, jika di sini ada seorang yang mau berkorban begitu besar untukku?”

Akhirnya, Shane meninggalkan kekasih gelapnya dan kembali kepada Cassie.

Pengorbanan isteri sanggup meluluhkan hati suami. Pengabdian isteri adalah kecantikan batin yang tidak ternilai. Pengorbanan isteri ditunjukkan dengan perjuangannya setiap hari. Mulai dari memenuhi keperluan suami dan anak-anaknya sampai menjadi guru dalam keluarga. Dari pagi hingga malam ia berjerih lelah. Mengupayakan yang terbaik, demi masa depan keluarga. Ia lelah, tetapi bahagia.

Banyak suami atau anak memandang remeh pengorbanan isteri atau ibu. Kesibukannya mengurus rumah ataupun bekerja dianggap sudah biasa. “Memang sudah kewajibannya.” Kata mereka. Padahal di balik cerita sukses suami maupun keberhasilan anak, ada pengorbanan isteri atau ibu. Isteri atau ibu kita mungkin belum pernah menyumbangkan ginjalnya. Tapi, pengorbanannya dari hari ke hari tidak pernah kurang. Kita patut menghargainya.

“Banyak wanita telah berbuat baik, tetapi kau melebihi mereka semua.”

Ujian Kejujuran

Susan telah ditawarkan posisi baru dalam pekerjaannya. Tetapi dia bimbang kerana bos baru menghendakinya mencatat jumlah yang berbeza pada laporan penerimaan barang.

Dengan berat hati Susan menolak tawaran promosi tersebut kerana dia tidak mau melakukan penipuan.

Keesokan harinya, waktu Susan mengutarakan jawaban dan alasannya,dia hairan kerana promosi posisi baru itu diberikan kepadanya.

Rupanya, bos perusahaan itu sedang menguji kejujuran dan ketulusan hatinya. Enam calon sebelumnya gagal melepasi ujian itu.

Orang benar adalah orang yang mengerti cara hidup benar, termasuk memilih hal yang benar walaupun ada tawaran menggiurkan untuk melakukan kejahatan. Orang benar adalah orang yang tidak takut pada risiko yang harus dihadapi ketika ia memilih untuk tetap berada di “jalur” yang benar.

Tuhan pun tahu cara menghargai orang yang tetap teguh berdiri demi kebenaran sekalipun seluruh dunia melakukan hal yang sebaliknya. Pilihan yang tidak populer dan dihindari oleh banyak orang, tetapi bernilai tinggi di mata Tuhan.

“Kenangan kepada orang benar mendatangkan berkat, tetapi nama orang fasik menjadi busuk.”

Sakit Hati Yang Menghancurkan

Kita semua pernah mendengar nama Adolf Hitler (20 April 1889 – 30 April 1945) pemimpin Parti Nazi di Jerman. Menjadi canselor pada tahun 1933 dan kemudian menyandang gelaran Führer und Reichskanzler pada tahun 1934 sampai 1945. Hitler menjadi watak utama Jerman Nazi, Perang Dunia II di Eropa, dan Holocaust, pembunuhan beramai-ramai terhadap kira- kira enam juta orang Yahudi dan berjuta-juta mangsa lain .

Hitler dibesarkan oleh ayahnya dengan menggunakan kekerasan dalam mendidik anak-anaknya. Ayahnya suka memerintah dan mahu anaknya patuh kepada kata-katanya. Hitler kerap bertengkar dengan ayahnya, yang tidak setuju minatnya kepada seni lukis.

Perlakuan ayahnya membuat dia sakit hati dan dendam,dan mempengaruhi pilihan hidup dan tindakannya di kemudian hari. Sebuah pilihan hidup yang pahit dan menyebabkan kehancuran banyak orang.

Dalam kehidupan sehari-hari, dalam keluarga atau ketika kita bersosial dengan orang lain, kita tidak dapat menghindar dari kemungkinan timbulnya perselisihan faham yang boleh menyebabkan sakit hati. Namun kita boleh memilih cara meresponinya. Daripada membalas perilaku orang lain yang telah menyakiti kita, mari kita berdoa dan mengoreksi diri. Sakit hati boleh datang bila-bila saja, tetapi yang paling penting ialah bagaimana respons kita.

Sesungguhnya, orang bodoh dibunuh oleh sakit hati, dan orang bebal dimatikan oleh iri hati.”

Lepaskan Belenggu Masa Lalu

Jika kita membaca kajian terhadap pemimpin-pmimpin dunia, seperti Abraham Lincoln, Franklin D. Roosevelt, Sir Winston Churchill, Clara Barton, Helen Keller, Mahatma Gandhi, Bunda Teresa, Dr. Albert Schweitzer, dan Martin Luther King Jr.,25% dari mereka memiliki kecacatan fizikal yang serius dan 50% lainnya telah mengalami tindakan kekerasan di masa kanak-kanaknya atau dibesarkan di dalam kemiskinan.

Neil Rudenstein pernah menjadi presiden Harvard University. Latar belakang keluarga Rudenstein sama sekali bukan dari kalangan akademik tinggi. Ayahnya hanyalah seorang penjaga penjara dan ibunya seorang waitress.

Para pemimpin atau tokoh dunia tersebut tidak mempedulikan latar belakang kurang baik dari dirinya, keluarganya, atau lingkungannya. Mereka dapat melihat keadaan mereka dari sudut positif. Bahkan mereka tidak pernah mengasihani diri mereka sendiri atau meminta orang lain mengasihani mereka.

Kita tidak dapat mengubah masa lalu, tetapi kita dapat merusak masa kini yang sangat baik jika kita terus mengasihani diri atau mengharapkan orang lain untuk mengasihani kita.

Jangan biarkan masa lalu atau latar belakang kita membelenggu kehidupan sehingga menghalang kita untuk meraih kesuksesan. Terus maju dan berkarya. Bawalah semua masalah kita ke hadirat Tuhan. Percayalah, kuasa dan karya Tuhan sungguh ajaib bagi kita.

Kamu Adalah Garam Dunia

Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.”

Selain melazatkan makanan atau membuat sesuatu yang tawar menjadi ada rasa, garam juga digunakan sebagai pengawet makanan, mencegah pembusukan,alternatif untuk menghalau kuman dan mencegah infeksi gigitan serangga. Antara makanan yang diawetkan dengan garam adalah telur, ikan, daging dan sebagainya. Makanan yang diawetkan dengan garam dapat dikonsumsi beberapa bulan.

Namun, hakikat cara kerja garam itu bersifat tersembunyi,perlahan-lahan tapi pasti. Tersamar, tidak ketara, dan secukupnya saja. Garam itu melazatkan makanan tanpa menjadi makanan itu sendiri. Meleleh, melebur dan akhirnya tidak terlihat lagi,yang tinggal hanya rasanya.

Keberadaan kita di dunia ini maunya seperti garam yang dapat memberi rasa bagi dunia yang sedang tawar ini, rasa yang dapat dinikmati dan berguna bagi semua orang. Menjadi garam dunia menuntut kita memberkati dengan tidak menonjolkan diri, memberi manfaat tanpa mempamer diri.

Di balik sebutir garam itu tersembunyi kerendahan hati. Menjadi garam dunia itu kita berkorban untuk tetap tulus dan jujur meskipun banyak kelicikan dan kepicikan di dunia ini. Menjadi garam dunia itu berarti kita memberkati satu sama lain dalam kerendahan hati.

Kebaikan Dibalas Kebaikan

Carry out a random act of kindness, with no expectation of reward, safe in the knowledge that one day someone might do the same for you.

Princess Diana

Seorang ibu tunggal biasa menolong Curtis Jackson, seorang homeless yang dia jumpa semasa dalam perjalanan ke pejabatnya.

Suatu hari ibu itu kehilangan pekerjaan dan rumahnya. Bersama anaknya yang masih kecil, mereka tinggal dalam kereta.

Ketika polis menjumpai mereka,polis itu mengancam akan mengambil anaknya jika mereka tidak mempunyai tempat tinggal yang sesuai. Lalu mereka pindah ke hotel.

Siapa yang membayar sewa hotel? Curtis Jackson. Dari upah bekerja kasar, Curtis mampu membayar sewa hotel ibu dan anaknya dalam waktu cukup lama. Sehingga mencapai sekitar 9,000 dolar.

Kadang Tuhan menghendaki kita memberi saat kita sendiri sedang tidak berlebih atau bahkan kita dalam kekurangan. Bila Tuhan menghendaki kita bermurah hati pada orang yang Dia tunjukkan, mari kita taat. Percayalah, Tuhan tahu apa yang kita perlukan. Jika Dia berkehendak memelihara seseorang melalui kita, Dia pasti berkuasa juga untuk memelihara kita.

Ora Et Labora

“…Jikalau bukan Tuhan yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan Tuhan yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga.”

Ora Et Labora adalah ungkapan bahasa Latin yang bermaksud berdoa dan bekerja . Ungkapan ini sebagai penegasan bahwa berdoa dan bekerja adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan, saling melengkapi, dan ada keseimbangan.

Kita tidak boleh hanya berdoa saja tanpa melakukan sesuatu. Jadi harus disertai dengan tindakan, usaha, atau bekerja. Sebaliknya kita juga tidak boleh bekerja saja tanpa disertai berdoa, sebab bumi dan segala isinya, termasuk hidup kita, adalah milik Tuhan, Sang Pencipta dan Penyedia.

Pekerjaan kita dan semuanya adalah pemberian Tuhan. Mengawali hari dengan doa akan membuat kita tetap rendah hati di hadapan Tuhan. Doa menjaga kita supaya tidak melupakan Tuhan dalam setiap pekerjaan yang kita lakukan.

Mungkin kita berfikir bahwa semua yang kita miliki adalah hasil kerja keras semata. Memang benar kita bekerja keras dan berkeringat bahkan sampai menitiskan air mata untuk memperolehinya.

Namun, pernahkah kita renungkan bahwa ada kekuatan yang lebih besar dari diri kita, bahkan alam semesta? Iaitu Dia yang mampu memberikan segala apa yang kita perlukan? Tuhan kita bukan hanya Sang Pemberi, melainkan juga Pemilik segala sesuatu.

Berdoa tanpa bekerja atau bekerja tanpa berdoa akan berujung pada kesia-siaan. Dengan mengingat dan menerapkan ora et labora, pasti Tuhan memberkati jerih payah kita.

Slow Down

Slow down and everything you are chasing will come around you.”


-John De Paola

Di tahun baru ini mungkin ada banyak resolusi yang ingin kita capai,sehingga kita senantiasa ingin bergerak dengan cepat. Kita berfikir untuk lebih produktif dan efisien, kita perlu memadatkan agenda, tergesa-gesa menyelesaikan makan atau memandu dengan terburu-buru. Namun kita tertanya-tanya kenapa kita tidak gembira.

Carol Odell, seorang penulis sebuah kolum konsultasi bisnes, mengatakan bahwa memperlambatkan pergerakan hidup dapat memberi kesan positif bagi kita di tempat kerja dan di rumah. Dia percaya ketergesa-gesaan dapat memengaruhi pengambilan keputusan kita dan menyebabkan kita mengabaikan hal-hal penting serta orang-orang yang kita kasihi.

Itu sebabnya Carol menganjurkan setiap orang untuk memperlambatkan pergerakan hidup, dan bahkan menyarankan idea yang agak radikal dengan sengaja menunggu lampu lalu lintas menjadi merah dan menggunakan waktu itu untuk meditasi.

Mungkin sudah waktunya kita mulai memperlambatkan pergerakan agar kita dapat menikmati berkat-berkat Tuhan dan lebih gembira dalam hidup ini.

Tanpa pengetahuan kerajinanpun tidak baik; orang yang tergesa-gesa akan salah langkah. “

Special Guest

Pagi itu Eric tukang kasut bangun lebih awal dari biasa. Dia membersihkan kedainya, kemudian kembali ke dalam rumahnya, menyalakan api di tungku, dan menyiapkan meja. Hari ini dia mengambil keputusan untuk tidak bekerja.

Dia menunggu kedatangan, seorang tetamu istimewa iaitu Tuhan. Malam sebelumnya Tuhan datang dalam mimpinya dan memberitahu Eric bahwa Dia akan datang mengunjunginya besok.

Eric yang excited dan penuh sukacita duduk di ruangan yang nyaman dan menunggu. Kemudian dia mendengar langkah kaki di luar dan ketukan pada pintu “dia sudah datang,” fikir Eric, sambil lari ke arah pintu dan membukanya. Ternyata itu hanyalah posmen. Wajahnya merah dan jari-jarinya biru kerana kedinginan. Dia menatap Eric sambil menelan air liur melihat cerek berisi teh di tungku. Eric mengajak dia duduk menghangatkan diri di dekat tungku dan memberikannya segelas teh.

Posmen itu berkata: “Terima kasih, teh ini sedap.” Kemudian dia menghilang di tengah cuaca dingin di luar.

Setelah posmen itu pergi, Eric membersihkan lagi mejanya. Lalu dia duduk di dekat jendela untuk menunggu kedatangan tetamunya. Dia yakin bahwa tetamu itu akan datang.

Tiba-tiba dia melihat seorang anak laki-laki yang sedang menangis. Eric memanggilnya dan mengetahui bahwa anak itu kehilangan jejak ibunya di kota dan tidak tahu jalan untuk pulang. Kemudian,Eric menulis “Tunggu saya. Saya akan kembali segera.” pada sehelai kertas dan meletakkannya di atas meja. Kemudian dia membiarkan pintu terbuka sedikit. Dia memegang tangan anak kecil itu dan membawanya pulang.

Ternyata perjalanan itu mengambil masa yang lebih lama dari jangkaan. Hari sudah mulai agak gelap waktu dia sampai di rumahnya. Ketika sampai di rumah Eric terkejut mendapati ada seseorang di dalam rumahnya sambil memandang ke luar jendela. Hatinya berdebar. “Pasti Tuhan, yang sudah berjanji untuk datang.”fikirnya.

Ketika membuka pintu Eric mendapati bahwa orang itu adalah perempuan yang tinggal di tingkat atas flatnya. Perempuan itu kelihatan sedih dan lelah. Dia memberitahu bahwa anaknya sedang sakit parah,dia tidak tahu mau berbuat apa.

Eric merasa kasian dan ikut bersedih. Perempuan itu hidup sendiri dengan anaknya sejak suaminya meninggal dalam kecelakaan. Jadi dia ikut wanita itu. Mereka bersama-sama menyelimuti anaknya dengan kain basah. Eric duduk di tepi katil anak laki-laki itu, sementara ibunya beristirahat sejenak.

Ketika Eric kembali ke rumahnya, hari sudah larut malam. Eric sangat lelah dan sungguh kecewa lalu membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Hari sudah larut. Tuhan belum juga datang.

Tiba-tiba dia mendengar suara Tuhan yang berkata, “Terima kasih, kerana menghangatkan tubuh saya di rumahmu hari ini. Terima kasih kerana menunjukkan jalan ke rumah. Dan terima kasih atas dukungan dan bantuanmu. Anakku, saya berterima kasih kerana hari ini saya telah menjadi tetamu istimewamu.”

Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”