Benih Yang Baik Menghasilkan Buah Yang Baik.

Pada suatu hari yang seorang pemuda sedang berjalan menelusuri jalanan kota. Di sebelah kanan dan kirinya berderetan kedai yang menjual berbagai jenis barang.

Tiba-tiba langkah pemuda itu terhenti di depan sebuah kedai. Pemuda itu terkejut kerana melihat Tuhan sedang duduk di salah satu gerai.

Pemuda itu menghampiri-Nya dan bertanya, “Apa yang Engkau jual?”

Tuhan menjawab, “Apa yang kauinginkan?”

Pemuda itu berkata, “Aku inginkan kebahagiaan, ketenangan fikiran, dan kebebasan dari rasa takut… untuk diriku dan seisi dunia ini.”

Tuhan tersenyum dan berkata, “Di sini Aku tidak menjual buah. Yang Kujual hanya benihnya.”

Kita perlu menyadari dalam kehidupan ini betapa pentingnya menaburkan benih-benih tindakan yang baik. Kerana “β€¦π‘Žπ‘π‘Ž π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘‘π‘–π‘‘π‘Žπ‘π‘’π‘Ÿ π‘œπ‘Ÿπ‘Žπ‘›π‘”, 𝑖𝑑𝑒 π‘—π‘’π‘”π‘Ž π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘Žπ‘˜π‘Žπ‘› π‘‘π‘–π‘‘π‘’π‘Žπ‘–π‘›π‘¦π‘Ž.” Kita tidak dapat berharap menikmati buah-buah berkat jika kita tidak menyadari pentingnya melakukan bagian kita iaitu menabur benih.

Apakah kita cemas dengan keadaan diri kita? Mintalah pertolongan Tuhan dan mulailah menaburkan benih-benih tindakan dan tanggapan yang baru hari ini. Pada saat waktunya tiba nanti, kita akan menuai hasilnya. Benih yang kita tabur hari ini menentukan buah yang akan kita tuai besok. Jika kita menabur benih yang baik,kita pasti akan menuai buah yang baik.

Hidup Adalah Hidup

Mother Teresa pernah berkata:

𝐼𝑛𝑖 π‘π‘’π‘˜π‘Žπ‘› π‘‘π‘’π‘›π‘‘π‘Žπ‘›π‘” π‘π‘’π‘Ÿπ‘Žπ‘π‘Ž π‘π‘Žπ‘›π‘¦π‘Žπ‘˜ π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘˜π‘–π‘‘π‘Ž π‘™π‘Žπ‘˜π‘’π‘˜π‘Žπ‘›,
π‘‡π‘Žπ‘π‘– π‘‘π‘’π‘›π‘‘π‘Žπ‘›π‘” π‘π‘’π‘Ÿπ‘Žπ‘π‘Ž π‘π‘Žπ‘›π‘¦π‘Žπ‘˜ π‘˜π‘–π‘‘π‘Ž π‘šπ‘’π‘›π‘π‘–π‘›π‘‘π‘Žπ‘– π‘Žπ‘π‘Ž π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘˜π‘–π‘‘π‘Ž π‘™π‘Žπ‘˜π‘’π‘˜π‘Žπ‘›.
π΅π‘’π‘˜π‘Žπ‘› π‘‘π‘’π‘›π‘‘π‘Žπ‘›π‘” π‘π‘’π‘Ÿπ‘Žπ‘π‘Ž π‘π‘Žπ‘›π‘¦π‘Žπ‘˜ π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘˜π‘–π‘‘π‘Ž π‘π‘’π‘Ÿπ‘–π‘˜π‘Žπ‘›,
π‘‡π‘Žπ‘π‘– π‘‘π‘’π‘›π‘‘π‘Žπ‘›π‘” π‘π‘’π‘Ÿπ‘Žπ‘π‘Ž π‘π‘Žπ‘›π‘¦π‘Žπ‘˜ π‘π‘–π‘›π‘‘π‘Ž π‘˜π‘–π‘‘π‘Ž π‘‘π‘Žπ‘™π‘Žπ‘š π‘šπ‘’π‘šπ‘π‘’π‘Ÿπ‘–.β€œ

Begitu indah melihat orang-orang yang berjiwa besar. Orang yang tidak mempersalahkan siapa pun, tidak membandingkan dirinya dengan orang lain. Seperti malaikat, inilah jiwa yang besar dari orang-orang yang kaya secara rohani walaupun miskin secara material.

Hidup adalah kesempatan, gunakan itu.

Hidup adalah keindahan, kagumi itu.

Hidup adalah mimpi, wujudkan itu.

Hidup adalah cabaran, harungi itu.

Hidup adalah kewajiban, penuhi itu.

Hidup adalah pertandingan, jalani itu.

Hidup adalah mahal, jaga itu.

Hidup adalah kekayaan, simpan itu.

Hidup adalah kasih, nikmati itu.

Hidup adalah janji, genapi itu.

Hidup adalah kesusahan, atasi itu.

Hidup adalah nyanyian, nyanyikan itu.

Hidup adalah perjuangan, terima itu.

Hidup adalah tragedi, hadapi itu.

Hidup adalah perjalanan, lewati itu.

Hidup adalah terlalu berharga, jangan sia-siakan itu.

Hidup adalah hidup, berjuanglah.

Wajahmu Memancarkan Kebahagiaan Hatimu

“π‘†π‘’π‘π‘’π‘Ÿπ‘‘π‘– π‘Žπ‘–π‘Ÿ π‘šπ‘’π‘›π‘π‘’π‘Ÿπ‘šπ‘–π‘›π‘˜π‘Žπ‘› π‘€π‘Žπ‘—π‘Žπ’‰, π‘‘π‘’π‘šπ‘–π‘˜π‘–π‘Žπ‘›π‘™π‘Žπ’‰ π’‰π‘Žπ‘‘π‘– π‘šπ‘Žπ‘›π‘’π‘ π‘–π‘Ž π‘šπ‘’π‘›π‘π‘’π‘Ÿπ‘šπ‘–π‘›π‘˜π‘Žπ‘› π‘šπ‘Žπ‘›π‘’π‘ π‘–π‘Ž 𝑖𝑑𝑒.”

Beberapa pendulang emas sedang mencari emas di pinggir hutan. Setelah beberapa jam salah seorang dari mereka menemukan sebuah batu yang istimewa. Setelah memecahkannya, ia melihat bahwa batu itu mengandung emas.

Dengan penuh semangat mereka bekerja, dan tidak lama kemudian mereka menemukan sejumlah besar logam mulia yang mereka cari. Dengan hati yang dipenuhi kegembiraan yang meluap-luap mereka berteriak, “Kita menemukannya! Kita menemukan emas! Kita kaya!”

Oleh kerana bekalan tidak mencukupi,mereka singgah membelinya di sebuah kota. Selama berada di kota, tidak seorang pun dari mereka menceritakan tentang hal itu. Namun sekelompok lelaki telah berkumpul dan siap mengikuti mereka.

Mereka berkata, “Kalian pasti sudah menemukan emas.”

Para pendulang emas itu hairan, “Siapa yang memberitahu kamu?”

“Tidak seorang pun,” jawab mereka. “π‘Šπ‘Žπ‘—π‘Žπ’‰ π‘˜π‘Žπ‘™π‘–π‘Žπ‘› π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘šπ‘’π‘›π‘”π‘Žπ‘‘π‘Žπ‘˜π‘Žπ‘›π‘›π‘¦π‘Ž.”

Hal yang serupa juga akan dialami saat seseorang bertemu kebahagiaan dan sukacita. Dari wajah kita akan mengatakan kita sedang bahagia dan bersukacita. Saat kita sedih,marah dan kepahitan, wajah kita juga akan mengatakannya.

Apapun yang terkandung di hati kita,akan terpancar di wajah kita. Sebab itu ada ayat mengatakan,
“π½π‘Žπ‘”π‘Žπ‘™π‘Žπ’‰ π’‰π‘Žπ‘‘π‘–π‘šπ‘’ π‘‘π‘’π‘›π‘”π‘Žπ‘› π‘ π‘’π‘”π‘Žπ‘™π‘Ž π‘˜π‘’π‘€π‘Žπ‘ π‘π‘Žπ‘‘π‘Žπ‘Žπ‘› π‘˜π‘’π‘Ÿπ‘Žπ‘›π‘Ž π‘‘π‘Žπ‘Ÿπ‘– π‘ π‘–π‘‘π‘’π‘™π‘Žπ’‰ π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘π‘Žπ‘›π‘π‘Žπ‘Ÿ π‘˜π‘’π’‰π‘–π‘‘π‘’π‘π‘Žπ‘›.”

Kita Hidup Hanya Satu Kali Saja

“π·π‘Žπ‘› π‘ π‘Žπ‘šπ‘Ž π‘ π‘’π‘π‘’π‘Ÿπ‘‘π‘– π‘šπ‘Žπ‘›π‘’π‘ π‘–π‘Ž π‘‘π‘–π‘‘π‘’π‘‘π‘Žπ‘π‘˜π‘Žπ‘› π‘’π‘›π‘‘π‘’π‘˜ π‘šπ‘Žπ‘‘π‘– π’‰π‘Žπ‘›π‘¦π‘Ž π‘ π‘Žπ‘‘π‘’ π‘˜π‘Žπ‘™π‘– π‘ π‘Žπ‘—π‘Ž, π‘‘π‘Žπ‘› π‘ π‘’π‘ π‘’π‘‘π‘Žπ’‰ 𝑖𝑑𝑒 π‘‘π‘–π’‰π‘Žπ‘˜π‘–π‘šπ‘–β€¦”

Kita lahir ke dunia hanya satu kali dan kita hidup juga hanya satu kali saja. Hidup ini adalah kesempatan untuk melakukan banyak kebaikan yang benar kepada orang- orang di sekeliling kita sebelum kita kembali kepada sang Pencipta.

Kehidupan yang hanya sekali itu akan diakhiri dengan kematian dan itu menjadi hari penghakiman untuk menerima keselamatan dan menentukan tujuan akhir hidup kita. Apakah kita terpilih untuk menerima mahkota kehidupan atau tidak.

Hidup adalah kesempatan untuk mengasihi sesama manusia dan terlebih lagi mengasihi Tuhan kita. Dia datang menyatakan kasihNya bagi manusia hanya sekali. Ia tidak akan datang lagi sebagai manusia dan kedatangan-Nya tidak lagi untuk menanggung dosa.Ia datang sebagai penyelamat.

Tidak lama lagi kita akan menyambut ulang tahun kelahiran Juruselamat. Mari kita renungkan apakah kita sudah mempergunakan setiap kesempatan hidup kita dengan melakukan kebaikan dan kebenaran? Seandainya belum, mulai lakukan sekarang. Syukur kita masih diberi kesempatan.

Sanjungan Yang Melalaikan

Suatu hari di dalam hutan, rubah melihat seekor gagak terbang dengan sepotong daging di paruhnya. Sang gagak itu hinggap di dahan pohon.

Rubah yang dari pagi belum makan, mau mendapatkan daging tersebut. Ia pun berjalan hingga ke bawah pohon yang dihinggapi gagak tadi.

“Selamat petang, Gagak yang cantik!” serunya. “Betapa mempesonanya penampilanmu hari ini. Matamu tampak cerah, paruhmu bersih dan bulumu berkilau.”

Mendengar pujian itu, gagak menoleh ke bawah. Senang sekali hatinya mendapat pujian dan sanjungan dari rubah.

Melihat reaksi gagak, rubah melanjutkan rancangannya. Ia memuji gagak lebih jauh lagi.

“Melihat penampilanmu yang luar biasa, pasti suaramu juga sangat merdu melebihi suara burung lain di hutan ini. Nyanyilah satu lagu, aku ingin mendengarnya.

Merasa tersanjung, gagak mengangkat kepalanya dan bersiap membuka suara.

Ia lupa, ada daging di paruhnya. Potongan daging itu jatuh ke tanah dan segera diambil oleh rubah, sementara gagak terus bernyanyi.

Ketika ia selesai bernyanyi dan rubah sudah pergi jauh dari situ, gagak baru menyadari apa yang telah terjadi. Ia menyesal, sudah lengah hanya kerana pujian sang rubah.

Demikian juga kita senantiasa perlu bersikap waspada dan tidak lengah. Ada orang yang memberi pujian hanya kerana ingin mengambil keuntungan atau ada niat jahat terhadap kita.

Orang-orang bermulut manis akan melontarkan kata-kata pujian yang berlebihan secara berulang-ulang, namun jika kita waspada kita akan dapat merasakan bahwa hal itu diutarakan secara tidak tulus atau “mempunyai maksud yang tersembunyi” kerana ada keinginan untuk mencari keuntungan untuk kepentingan diri sendiri.

“π‘†π‘’π‘π‘’π‘Ÿπ‘‘π‘– π‘π‘’π‘π‘Žπ’‰π‘Žπ‘› π‘π‘’π‘Ÿπ‘–π‘’π‘˜ π‘π‘’π‘Ÿπ‘ π‘Žπ‘™π‘’π‘‘π‘˜π‘Žπ‘› π‘π‘’π‘Ÿπ‘Žπ‘˜, π‘‘π‘’π‘šπ‘–π‘˜π‘–π‘Žπ‘›π‘™π‘Žπ’‰ π‘π‘–π‘π‘–π‘Ÿ π‘šπ‘Žπ‘›π‘–π‘  π‘‘π‘’π‘›π‘”π‘Žπ‘› π’‰π‘Žπ‘‘π‘– π‘—π‘Žπ’‰π‘Žπ‘‘.”

Selalu Ada Malaikat Menjaga Kita

“πΌπ‘›π‘”π‘Žπ‘‘π‘™π‘Žπ’‰, π‘—π‘Žπ‘›π‘”π‘Žπ‘› π‘šπ‘’π‘›π‘”π‘Žπ‘›π‘”π‘”π‘Žπ‘ π‘Ÿπ‘’π‘›π‘‘π‘Žπ’‰ π‘ π‘’π‘œπ‘Ÿπ‘Žπ‘›π‘” π‘‘π‘Žπ‘Ÿπ‘– π‘Žπ‘›π‘Žπ‘˜-π‘Žπ‘›π‘Žπ‘˜ π‘˜π‘’π‘π‘–π‘™ 𝑖𝑛𝑖. πΎπ‘Žπ‘Ÿπ‘’π‘›π‘Ž π΄π‘˜π‘’ π‘π‘’π‘Ÿπ‘˜π‘Žπ‘‘π‘Ž π‘˜π‘’π‘π‘Žπ‘‘π‘Žπ‘šπ‘’: π΄π‘‘π‘Ž π‘šπ‘Žπ‘™π‘Žπ‘–π‘˜π‘Žπ‘‘ π‘šπ‘’π‘Ÿπ‘’π‘˜π‘Ž 𝑑𝑖 π‘ π‘œπ‘Ÿπ‘”π‘Ž π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘ π‘’π‘™π‘Žπ‘™π‘’ π‘šπ‘’π‘šπ‘Žπ‘›π‘‘π‘Žπ‘›π‘” π‘€π‘Žπ‘—π‘Žπ’‰ π΅π‘Žπ‘π‘Ž-𝐾𝑒 π‘¦π‘Žπ‘›π‘” 𝑑𝑖 π‘ π‘œπ‘Ÿπ‘”π‘Ž.”

Malaikat adalah makhluk yang kudus dan penuh kebaikan. Ia menjaga dan melindungi manusia yang tulus,murni dan suci hatinya seperti anak-anak kecil.

Malaikat berhubungan dengan manusia untuk menjalankan tugasnya melayani orang-orang yang harus memperoleh keselamatan, dan malaikat selalu hadir dalam setiap zaman.

Kita bersyukur kerana Tuhan yang kita yang maha baik telah menugaskan malaikat untuk menjaga,menolong dan menyertai kita para pewaris keselamatan. Kita tidak perlu takut untuk berjalan.

“π‘†π‘’π‘ π‘’π‘›π‘”π‘”π‘’π’‰π‘›π‘¦π‘Ž π΄π‘˜π‘’ π‘šπ‘’π‘›π‘”π‘’π‘‘π‘’π‘  π‘ π‘’π‘œπ‘Ÿπ‘Žπ‘›π‘” π‘šπ‘Žπ‘™π‘Žπ‘–π‘˜π‘Žπ‘‘ π‘π‘’π‘Ÿπ‘—π‘Žπ‘™π‘Žπ‘› 𝑑𝑖 π‘‘π‘’π‘π‘Žπ‘›π‘šπ‘’, π‘’π‘›π‘‘π‘’π‘˜ π‘šπ‘’π‘™π‘–π‘›π‘‘π‘’π‘›π‘”π‘– π‘’π‘›π‘”π‘˜π‘Žπ‘’ 𝑑𝑖 π‘—π‘Žπ‘™π‘Žπ‘› π‘‘π‘Žπ‘› π‘’π‘›π‘‘π‘’π‘˜ π‘šπ‘’π‘šπ‘π‘Žπ‘€π‘Ž π‘’π‘›π‘”π‘˜π‘Žπ‘’ π‘˜π‘’ π‘‘π‘’π‘šπ‘π‘Žπ‘‘ π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘‘π‘’π‘™π‘Žπ’‰ πΎπ‘’π‘ π‘’π‘‘π‘–π‘Žπ‘˜π‘Žπ‘›.”

Kita Hanya Melancong

Suatu hari Emily pergi melancong. Dia membawa banyak barang: kasut, pakaian, dan barang-barang lainnya. Dalam fikirannya, “Lebih baik saya membawa semua yang diperlukan kerana nanti saya tidak dapat pulang lagi untuk mengambilnya.” Diapun membawa satu bagasi besar yang berat.

Sesampainya di tempatnya melancong, Emily tertarik membeli banyak barang di sana: baju, souvenir, dan banyak barang-barang khas daerah tersebut.

Ketika mau pulang, Emily menghadapi kesulitan kerana banyak barang yang tidak muat di dalam bagasinya. Akhirnya dia terpaksa meninggalkan sebagian barang miliknya di hotel.

Kadang kita cenderung mengumpulkan “terlalu banyak harta” dalam perjalanan hidup kita. Kita digoda oleh iklan-iklan yang mendorong kita untuk membeli barang-barang yang seolah-olah “tanpanya kita tidak dapat hidup”. Akibatnya, kita membeli lebih, dan lebih banyak barang lagi.

Ada perumpamaan tentang seorang kaya yang telah mengimpikan semua barang bagus yang dapat diperoleh kerana hasil tuaiannya berlimpah. Ia mengatakan akan mendirikan lumbung yang lebih besar, dan menghabiskan waktu untuk makan, minum, dan bersenang-senang. Namun, Tuhan berkata kepadanya, “Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?”

Jadilah seorang yang bukan hanya kaya harta dunia tapi harta rohani juga. Kerana hidup kita di dunia ini ibarat sedang melancong. Suatu hari nanti kita harus meninggalkan semua itu jika sudah tiba waktunya untuk kita kembali pulang ke rumah yang kekal.

Akibat Kelalaian

“π‘†π‘’π‘π‘Žπ‘Ÿπ‘Ž π‘’π‘šπ‘’π‘šπ‘›π‘¦π‘Ž π‘‘π‘–π‘‘π‘’π‘šπ‘’π‘˜π‘Žπ‘› π‘π‘Žπ’‰π‘€π‘Ž π‘œπ‘Ÿπ‘Žπ‘›π‘”-π‘œπ‘Ÿπ‘Žπ‘›π‘” π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘’π‘ -π‘šπ‘’π‘›π‘’π‘Ÿπ‘’π‘  π‘šπ‘’π‘Ÿπ‘Žπ‘‘π‘Žπ‘π‘– π‘›π‘Žπ‘ π‘–π‘ π‘π‘’π‘Ÿπ‘’π‘˜ π‘šπ‘’π‘Ÿπ‘’π‘˜π‘Ž π’‰π‘Žπ‘›π‘¦π‘Ž π‘šπ‘’π‘›π‘’π‘Žπ‘– π‘˜π‘œπ‘›π‘ π‘’π‘˜π‘’π‘’π‘›π‘ π‘– π‘‘π‘Žπ‘Ÿπ‘– π‘˜π‘’π‘™π‘Žπ‘™π‘Žπ‘–π‘Žπ‘›, π‘ π‘Žπ‘™π‘Žπ’‰ π‘’π‘Ÿπ‘’π‘ , π‘‘π‘Žπ‘› π‘–π‘šπ‘π‘Ÿπ‘œπ‘£π‘–π‘ π‘Žπ‘ π‘– π‘šπ‘’π‘Ÿπ‘’π‘˜π‘Ž π‘ π‘’π‘›π‘‘π‘–π‘Ÿπ‘–, π‘Žπ‘‘π‘Žπ‘’ π‘šπ‘’π‘›π‘”π‘–π‘›π‘”π‘–π‘›π‘˜π‘Žπ‘› π‘Žπ‘π‘™π‘–π‘˜π‘Žπ‘ π‘–. – Samuel Smiles

Ana seorang gadis muda sedang menunggu pesawatnya di ruangan menunggu sebuah airport yang super sibuk. Kerana menunggu berjam-jam, Ana membeli sebuah buku untuk mengisi waktunya. Dia juga membeli sebungkus biskuit. Dia kemudian duduk di ruangan menunggu VIP, sambil membaca dengan tenang.

Seorang pemuda duduk di sebelahnya, yang kelihatannya sedang asyik membaca majalah.
Ketika Ana mengambil biskuit pertama, pemuda itu juga turut mengambil. Ana merasa geram tetapi tidak berkata apa-apa. Dalam hatinya berkata, β€œewh tidak tahu sopan santun laki-laki ini. Kalau aku bukan seorang yang sabar, sudah kutumbuk dia ni”
Setiap kali Ana mengambil sekeping biskuit, pemuda itu juga ikut-ikutan mengambil sekeping. Ana makin marah namun dia tidak ingin membuat kekacauan di ruangan menunggu itu.

Ketika tinggal satu keping biskuit Ana berkata dalam hati, β€œEhm lihat saja apa yang akan dibuat oleh orang yang tidak tahu sopan santun ini?” Lalu, pemuda itu mengambil biskuit yang tersisa, membaginya menjadi dua, dan memberikan yang separuh padanya.
β€œhuh! benar-benar sudah keterlaluan ini!!!” katanya dalam hati. Ana marah besar. Dia segera menutup bukunya, mengemas barangnya, dan bergegas menuju pintu boarding.

Ketika sudah duduk di dalam pesawat, Ana membuka begnya untuk mengambil kacamata, dan…. dia terkejut, ternyata biskut yang dibelinya masih ada di dalam begnya, dan belum dibuka. Ana merasa sangat malu. Dia merasa bersalah kerana kelalaiannya.

Dia lupa biskuitnya masih tersimpan di dalam beg. Ternyata pemuda tadi telah berbagi biskuit dengannya, tanpa marah sedikit pun. Sebaliknya Ana pula yang marah, kerana dia fikir pemuda itu ikut makan biskuitnya. Dia ingin sekali meminta maaf kepada pemuda itu atas kelalaiannya tetapi tidak ada kesempatan lagi. Sebentar lagi pesawatnya sudah mau take-off.

𝐼𝑑 𝑀𝑖𝑙𝑙 π‘”π‘’π‘›π‘’π‘Ÿπ‘Žπ‘™π‘™π‘¦ 𝑏𝑒 π‘“π‘œπ‘’π‘›π‘‘ π‘‘π’‰π‘Žπ‘‘ π‘šπ‘’π‘› π‘€π’‰π‘œ π‘Žπ‘Ÿπ‘’ π‘π‘œπ‘›π‘ π‘‘π‘Žπ‘›π‘‘π‘™π‘¦ π‘™π‘Žπ‘šπ‘’π‘›π‘‘π‘–π‘›π‘” π‘‘π’‰π‘’π‘–π‘Ÿ 𝑖𝑙𝑙 π‘™π‘’π‘π‘˜ π‘Žπ‘Ÿπ‘’ π‘œπ‘›π‘™π‘¦ π‘Ÿπ‘’π‘Žπ‘π‘–π‘›π‘” 𝑑𝒉𝑒 π‘π‘œπ‘›π‘ π‘’π‘žπ‘’π‘’π‘›π‘π‘’π‘  π‘œπ‘“ π‘‘π’‰π‘’π‘–π‘Ÿ π‘œπ‘€π‘› 𝑛𝑒𝑔𝑙𝑒𝑐𝑑, π‘šπ‘–π‘ π‘šπ‘Žπ‘›π‘Žπ‘”π‘’π‘šπ‘’π‘›π‘‘, π‘Žπ‘›π‘‘ π‘–π‘šπ‘π‘Ÿπ‘œπ‘£π‘–π‘‘π‘’π‘›π‘π‘’, π‘œπ‘Ÿ π‘€π‘Žπ‘›π‘‘ π‘œπ‘“ π‘Žπ‘π‘π‘™π‘–π‘π‘Žπ‘‘π‘–π‘œπ‘›. -π‘†π‘Žπ‘šπ‘’π‘’π‘™ π‘†π‘šπ‘–π‘™π‘’π‘ 

Kerana Ukuran Kita Tidak Sama

“π‘†π‘’π‘π‘’π‘Ÿπ‘‘π‘– π‘˜π‘Žπ‘ π‘’π‘‘ π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘˜π‘–π‘‘π‘Ž π‘π‘Žπ‘˜π‘Žπ‘–, π‘ π‘’π‘‘π‘–π‘Žπ‘ π‘˜π‘Žπ‘˜π‘– π‘šπ‘’π‘šπ‘–π‘™π‘–π‘˜π‘– π‘’π‘˜π‘’π‘Ÿπ‘Žπ‘›π‘›π‘¦π‘Ž π‘ π‘’π‘›π‘‘π‘–π‘Ÿπ‘–. π‘€π‘’π‘šπ‘Žπ‘˜π‘ π‘Žπ‘˜π‘Žπ‘› π‘‘π‘Žπ‘π‘Žπ‘˜ π‘˜π‘’π‘π‘–π‘™ π‘’π‘›π‘‘π‘’π‘˜ π‘‘π‘’π‘™π‘Žπ‘π‘Žπ‘˜ π‘˜π‘Žπ‘˜π‘– π‘π‘’π‘ π‘Žπ‘Ÿ π‘Žπ‘˜π‘Žπ‘› π‘šπ‘’π‘›π‘¦π‘Žπ‘˜π‘–π‘‘π‘–. π‘€π‘’π‘šπ‘Žπ‘˜π‘ π‘Žπ‘˜π‘Žπ‘› π‘˜π‘Žπ‘ π‘’π‘‘ π‘π‘’π‘ π‘Žπ‘Ÿ π‘’π‘›π‘‘π‘’π‘˜ π‘‘π‘Žπ‘π‘Žπ‘˜ π‘˜π‘Žπ‘˜π‘– π‘˜π‘’π‘π‘–π‘™ π‘Žπ‘˜π‘Žπ‘› π‘šπ‘’π‘›π‘¦π‘’π‘ π‘Žπ’‰π‘˜π‘Žπ‘›.”

Setiap kita diberikan anugerah yang tidak sama. Kita memiliki latar belakang yang berlainan. Dengan itu,kita jangan mengukur orang dengan baju kita sendiri, atau baju milik tokoh lain.

Setiap kita tetaplah menjadi dirinya. Tidak ada yang berhak memaksa sesamanya untuk menjadi sesiapapun. Berilah nasihat tulus pada yang orang lain dan jangan membebani dengan cara membandingkan-bandingkan.

Sungguh tidak bijak menuntut seseorang untuk menjadi orang lain. Masing-masing badan memiliki pakaiannya dan masing-masing kaki mempunyai kasutnya.

Kita harus belajar untuk menerima pandangan orang lain. Pengalaman yang berbeza akan membuat lebih berlainan lagi sudut pandang antara satu dengan yang lain.

Seyakin-yakinnya kita dengan apa yang kita fahami, itu tidak seharusnya membuat kita terbutakan dari kebenaran yang lebih bercahaya.
Pendapat kita mungkin benar, tetapi mungkin mengandung kesalahan. Pendapat orang lain itu mungkin salah, tetapi mungkin mengandung kebenaran.

Kamera Potret

β€œπΏπ‘–π‘“π‘’ 𝑖𝑠 π‘™π‘–π‘˜π‘’ π‘Ž π‘π‘Žπ‘šπ‘’π‘Ÿπ‘Ž. πΉπ‘œπ‘π‘’π‘  π‘œπ‘› π‘€π’‰π‘Žπ‘‘’𝑠 π‘–π‘šπ‘π‘œπ‘Ÿπ‘‘π‘Žπ‘›π‘‘. πΆπ‘Žπ‘π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘’ 𝑑𝒉𝑒 π‘”π‘œπ‘œπ‘‘ π‘‘π‘–π‘šπ‘’π‘ . 𝐴𝑛𝑑 𝑖𝑓 𝑑𝒉𝑖𝑛𝑔𝑠 π‘‘π‘œπ‘›’𝑑 π‘€π‘œπ‘Ÿπ‘˜ π‘œπ‘’π‘‘, 𝑗𝑒𝑠𝑑 π‘‘π‘Žπ‘˜π‘’ π‘Žπ‘›π‘œπ‘‘π’‰π‘’π‘Ÿ π‘ π’‰π‘œπ‘‘.β€œ – Ziad K. Abdelnour

Seperti kamera yang hasilnya bergantung pada apa yang kita fokuskan, begitu juga kehidupan. Kita boleh memilih untuk memfokuskan kamera itu untuk memotret hal-hal yang baik atau memotret untuk hal-hal yang buruk.

Pilihannya bergantung pada kita, apa yang mau kita lihat dan apa yang mau kita fokuskan dalam hidup ini?

Jika kita memilih untuk memotret dan berfokus kepada hal-hal yang baik dan indah yang kita miliki serta menikmati hidup ini, kita akan memiliki kehidupan yang bahagia.

Sebaliknya, jika kita memilih berfokus kepada kecacatan, kemalangan, dan ketidaksempurnaan yang kita atau orang lain miliki, hal-hal buruk yang terjadi dalam hidup kita, dan berfikir negatif dan berprasangka buruk tentang orang lain, sudah pastilah hidup kita akan penuh dengan drama dan penderitaan.

Ambil kamera, kemudian ambil sebanyak-banyak gambar sesuka hati. Dengan begitu, kita akan mengerti bentuk bahagia dari hasil potretan kamera kita sendiri.