Di Mana Kebahagiaan Itu?

“π‘‚π‘Ÿπ‘Žπ‘›π‘” π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘π‘’π‘Ÿπ‘ π‘–π’‰ π’‰π‘Žπ‘‘π‘–π‘›π‘¦π‘Ž π’‰π‘–π‘‘π‘’π‘π‘›π‘¦π‘Ž π‘ π‘’π‘™π‘Žπ‘™π‘’ π‘Žπ‘šπ‘Žπ‘› π‘ π‘’π‘›π‘‘π‘œπ‘ π‘Ž.”

Pada suatu hari,Tuhan memanggil tiga malaikatnya. Sambil menunjukkan sesuatu Tuhan berkata, β€œIni namanya π‘²π’†π’ƒπ’‚π’‰π’‚π’ˆπ’Šπ’‚π’‚π’. Ini sangat bernilai. Ini dicari dan diperlukan oleh manusia. Simpanlah di suatu tempat supaya manusia sendiri yang menemukannya. Jangan ditempat yang terlalu mudah sebab nanti kebahagiaan ini disia-siakan. Tetapi jangan pula di tempat yang terlalu susah sehingga tidak dapat ditemukan oleh manusia. Dan yang penting, letakkan kebahagiaan itu di tempat yang bersih”

Maka turunlah ketiga malaikat itu ke bumi untuk meletakkan kebahagiaan tersebut. Tetapi dimana meletakkannya?

Malaikat pertama berkata ”Letakkan dipuncak gunung yang tinggi”.
Tetapi para malaikat yang lain kurang setuju.

Lalu malaikat kedua berkata, β€œLetakkan di dasar samudera”.

Usul itupun kurang disepakati.

Akhirnya malaikat ketiga membisikkan usulnya. Ketiga malaikat langsung sepakat. Malam itu juga ketika semua orang sedang tidur, ketiga malaikat itu meletakkan kebahagiaan di tempat yang dibisikkan tadi.

Sejak hari itu kebahagiaan untuk manusia tersimpan rapi di tempat itu. Rupanya tempat itu cukup susah ditemukan. Dari hari ke hari, tahun ke tahun, kita terus mencari kebahagiaan. Kita semua ingin menemukan kebahagiaan. Kita ingin merasa bahagia. Tapi dimana mencarinya?

Ada yang mencari kebahagiaan sambil hiking ke gunung, ada yang mencari di pantai, ada yang mencari ditempat yang sunyi, ada yang mencari ditempat yang ramai.

Kita mencari kebahagiaan di sana-sini. Di shopping mall, di cafe, di tempat ibadah, di kolam renang, di lapangan olah raga, di skrin tv, di office, dan lain-lain. Ada yang mencari kebahagiaan dengan kerja keras, sebaliknya ada pula yang bermalas-malasan. Ada ingin bahagia dengan mencari kekasih dan menikah, ada yang mencari nama, kekayaan, popularity, ada yang menciptakan lagu, ada yang mengarang buku, dan lain-lain.

Semua orang mau menemukan kebahagiaan. Kebahagiaan itu diletakkan oleh tiga malaikat secara rapi. Dimana mereka meletakkannya?
πƒπˆ π‡π€π“πˆ π˜π€ππ† ππ„π‘π’πˆπ‡.

Kasih Bapa

Di China, ada sepasang suami isteri yang baru saja menikah dan begitu mendambakan seorang anak. Mereka bersyukur kerana melahirkan puteri pertama mereka dengan lancar, sihat dan selamat. Sang ayah yang begitu senang menyambut kelahiran anaknya lalu menggendong puterinya, menamainya Meggie lalu membisikkan kata-kata di telinga Meggie, β€œanakku, memilikimu adalah anugerah terindah didalam hidupku. Aku berjanji akan mengasihimu seumur hidupku”.

Waktu berlalu, Meggie semakin hari semakin bertumbuh menjadi remaja yang cantik. Ayah Meggie begitu mengasihinya. Ia memberikan apapun yang Meggie inginkan agar puteri kesayangannya itu merasa bahagia. Namun, tanpa diduga, Meggie hamil. Meggie ketakutan, ia menceritakan semua kepada sang ibu. Ibunya dengan kesabaran dan penuh kasih sayang berusaha menenangkan Meggie. Meggie takut memberitahukan hal ini kepada ayahnya. Ia membayangkan betapa marahnya sang ayah apabila ia mengetahui bahwa puteri kesayangannya yang selama ini dibanggakannya hamil di luar nikah.

Meggie sedar ia telah melukakan hati ayahnya. Namun bagaimanapun Meggi sadar ia tetap harus memberitahukan hal ini kepada ayahnya. Ketika menceritakan apa yang terjadi kepada ayahnya, wajah marahlah yang terlihat dari raut muka sang ayah. Meggie semakin takut, ia gemetar ia menutup mata dan tak berani menatap wajah ayahnya. Namun ternyata bukannya marah, sang ayah justru memeluk erat Meggie sambal berbisik, β€œAku mencintaimu anakku, aku tidak pernah melupakan janjiku”

Dalam kehidupan ini kita mungkin pernah melakukan kesalahan atau dosa yang besar,yang membuat kita merasa tidak layak lagi untuk diampuni. Namun percayalah bahwa Tuhan kita sangat mengasihi kita dan sangat bersukacita bila kita datang kepadaNya, bahkan Dia memeluk dan berbisik “Aku mengasihi engkau, anakku.”

“β€¦π‘†π‘’π‘˜π‘Žπ‘™π‘–π‘π‘’π‘› π‘‘π‘œπ‘ π‘Žπ‘šπ‘’ π‘šπ‘’π‘Ÿπ‘Žπ’‰ π‘ π‘’π‘π‘’π‘Ÿπ‘‘π‘– π‘˜π‘–π‘Ÿπ‘šπ‘–π‘§π‘–, π‘Žπ‘˜π‘Žπ‘› π‘šπ‘’π‘›π‘—π‘Žπ‘‘π‘– 𝑝𝑒𝑑𝑖𝒉 π‘ π‘’π‘π‘’π‘Ÿπ‘‘π‘– π‘ π‘Žπ‘™π‘—π‘’; π‘ π‘’π‘˜π‘Žπ‘™π‘–π‘π‘’π‘› π‘π‘’π‘Ÿπ‘€π‘Žπ‘Ÿπ‘›π‘Ž π‘šπ‘’π‘Ÿπ‘Žπ’‰ π‘ π‘’π‘π‘’π‘Ÿπ‘‘π‘– π‘˜π‘Žπ‘–π‘› π‘˜π‘’π‘ π‘’π‘šπ‘π‘Ž, π‘Žπ‘˜π‘Žπ‘› π‘šπ‘’π‘›π‘—π‘Žπ‘‘π‘– 𝑝𝑒𝑑𝑖𝒉 π‘ π‘’π‘π‘’π‘Ÿπ‘‘π‘– 𝑏𝑒𝑙𝑒 π‘‘π‘œπ‘šπ‘π‘Ž.”

Nikmati Setiap Detik Di Hidupmu

Sekumpulan pelancong mempunyai waktu 30 minit untuk menyaksikan matahari terbit di puncak gunung.

Begitu fajar tiba, semua sibuk bergambar. Akibatnya, mereka tidak sempat berdiam diri untuk menyaksikan dan menikmati indahnya momen itu, saat sinar matahari perlahan-lahan menerangi gunung dan lembah, saat langit berubah menjadi jingga, betapa agungnya burung-burung helang terbang di kejauhan dengan pekikan suara membelah kesunyian pagi, menikmati hangatnya matahari pagi menerpa wajah.

Pelancong pulang dengan hanya membawa koleksi gambar, tetapi kehilangan momen terindah. Mereka pernah ke sana, tetapi tidak pernah sungguh hadir di sana.

Tuhan selalu memberikan momen yang indah kepada kita. Momen untuk beribadah. Momen untuk berkumpul bersama keluarga. Momen untuk menunjukkan rasa cinta pada hari ulang tahun kekasih kita. Momen untuk menyaksikan keindahan alam ciptaan Tuhan.

Pastikan kita benar-benar hadir dan menikmati setiap momen yang ada. Jangan biarkan kesibukan kita merusak momen yang indah itu.

Tidak Ada Yang Sempurna

“π‘†π‘Žπ‘™π‘Žπ’‰ π‘ π‘Žπ‘‘π‘’ π‘π‘’π‘Ÿπ‘Žπ‘‘π‘’π‘Ÿπ‘Žπ‘› π‘Žπ‘ π‘Žπ‘  π‘Žπ‘™π‘Žπ‘š π‘ π‘’π‘šπ‘’π‘ π‘‘π‘Ž π‘–π‘Žπ‘™π‘Žπ’‰ π‘‘π‘–π‘Žπ‘‘π‘Ž π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘ π‘’π‘šπ‘π‘’π‘Ÿπ‘›π‘Ž. πΎπ‘’π‘ π‘’π‘šπ‘π‘’π‘Ÿπ‘›π‘Žπ‘Žπ‘› π‘ π‘’π‘šπ‘Žπ‘‘π‘Ž-π‘šπ‘Žπ‘‘π‘Ž π‘‘π‘–π‘‘π‘Žπ‘˜ 𝑀𝑒𝑗𝑒𝑑…..π‘‡π‘Žπ‘›π‘π‘Ž π‘˜π‘’π‘‘π‘–π‘‘π‘Žπ‘˜π‘ π‘’π‘šπ‘π‘’π‘Ÿπ‘›π‘Žπ‘Žπ‘›, π‘Žπ‘›π‘‘π‘Ž π‘šπ‘Žπ’‰π‘’π‘π‘’π‘› π‘ π‘Žπ‘¦π‘Ž π‘‘π‘–π‘‘π‘Žπ‘˜ π‘Žπ‘˜π‘Žπ‘› 𝑀𝑒𝑗𝑒𝑑.”

Stephen Hawkins

Suatu malam seorang ibu menghidangkan makan malam berupa telur goreng, sos, dan beberapa keping roti.

Kerana terlalu lelah bekerja seharian, sang ibu memanggang roti sampai hangus. Waktu makanan dihidangkan, anaknya melihat tegang menunggu respon sang ayah.

Tetapi ternyata, sang ayah mengambil roti itu sambil tersenyum, menyapunya dengan mentega, lalu memakannya dengan lahap. Sang ibu meminta maaf, tetapi suaminya menjawab, “Tidak apa-apa, Sayang.”

Sebelum tidur, anaknya menghampiri ayah dan bertanya, mengapa ayah mau makan roti hangus.

Sambil memeluknya, ayah berkata, “Ibumu sudah lelah bekerja. Lagipun roti itu tidak begitu buruk, masih boleh dimakan. Bersyukur saja ia masih bersama kita.”

Hidup kita juga berisi banyak hal yang tidak sempurna. Selain keberhasilan dan kebahagiaan, ada berbagai kegagalan dan kekecewaan. Tergantung apa yang menjadi fokus kita? Bahagian yang negatif, yang membangkitkan keluh kesah? Atau, bahagian yang positif, yang membuat hati kita membara dengan pujian dan syukur?

Selama jantung masih berdetak, kita harus bersyukur atas kebaikan Tuhan yang melimpah dan melingkupi kita. KasihNya, kebajikanNya, pengampunanNya, penyelamatan-Nya, kebajikanNya dan mujizat-Nya nyata nyata dalam kehidupan kita. Dia memberikan kita kecukupan.

Menghitung Hari Dengan Bijaksana


β€œπ΄π‘—π‘Žπ‘Ÿπ‘™π‘Žπ’‰ π‘˜π‘Žπ‘šπ‘– π‘šπ‘’π‘›π‘”π’‰π‘–π‘‘π‘’π‘›π‘” π’‰π‘Žπ‘Ÿπ‘–-π’‰π‘Žπ‘Ÿπ‘– π‘˜π‘Žπ‘šπ‘– π‘ π‘’π‘‘π‘’π‘šπ‘–π‘˜π‘–π‘Žπ‘›, π’‰π‘–π‘›π‘”π‘”π‘Ž π‘˜π‘Žπ‘šπ‘– π‘π‘’π‘Ÿπ‘œπ‘™π‘’π’‰ π’‰π‘Žπ‘‘π‘– π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘π‘–π‘—π‘Žπ‘˜π‘ π‘Žπ‘›π‘Ž.”

Setiap hari adalah hari baru dan satu hari hanya dapat kita jalani satu kali saja. Kemudian hari tersebut berganti dengan hari berikutnya yang sama lamanya namun berbeda keadaannya. Hari yang telah kita lalui itu sudah menjadi masa lalu dan tinggal kenangan. Hari ini merupakan kesempatan, sedangkan hari-hari yang akan datang menjadi suatu pengharapan bagi kita.

Oleh kerana berharganya waktu, mari kita mempergunakannya dengan bijaksana dan memperhatikan hari demi hari dengan sungguh-sungguh, supaya tidak ada satu hari pun yang berlalu dengan sia-sia.

Kita yang telah dikaruniai banyak talenta, pergunakanlah sebaik-baiknya, sebab kita tidak tahu apakah esok kita masih ada kesempatan menyambut matahari menyingsing. “πΎπ‘Žπ‘Ÿπ‘’π‘›π‘Ž 𝑖𝑑𝑒, π‘π‘’π‘Ÿπ’‰π‘Žπ‘‘π‘–π‘˜π‘Žπ‘›π‘™π‘Žπ’‰ π‘‘π‘’π‘›π‘”π‘Žπ‘› π‘ π‘Žπ‘˜π‘ π‘Žπ‘šπ‘Ž, π‘π‘Žπ‘”π‘Žπ‘–π‘šπ‘Žπ‘›π‘Ž π‘˜π‘Žπ‘šπ‘’ 𝒉𝑖𝑑𝑒𝑝, π‘—π‘Žπ‘›π‘”π‘Žπ‘›π‘™π‘Žπ’‰ π‘ π‘’π‘π‘’π‘Ÿπ‘‘π‘– π‘œπ‘Ÿπ‘Žπ‘›π‘” π‘π‘’π‘π‘Žπ‘™, π‘‘π‘’π‘‘π‘Žπ‘π‘– π‘ π‘’π‘π‘’π‘Ÿπ‘‘π‘– π‘œπ‘Ÿπ‘Žπ‘›π‘” π‘Žπ‘Ÿπ‘–π‘“, π‘‘π‘Žπ‘› π‘π‘’π‘Ÿπ‘”π‘’π‘›π‘Žπ‘˜π‘Žπ‘›π‘™π‘Žπ’‰ π‘€π‘Žπ‘˜π‘‘π‘’ π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘Žπ‘‘π‘Ž, π‘˜π‘Žπ‘Ÿπ‘’π‘›π‘Ž π’‰π‘Žπ‘Ÿπ‘–-π’‰π‘Žπ‘Ÿπ‘– 𝑖𝑛𝑖 π‘Žπ‘‘π‘Žπ‘™π‘Žπ’‰ π‘—π‘Žπ’‰π‘Žπ‘‘. π‘†π‘’π‘π‘Žπ‘ 𝑖𝑑𝑒 π‘—π‘Žπ‘›π‘”π‘Žπ‘›π‘™π‘Žπ’‰ π‘˜π‘Žπ‘šπ‘’ π‘π‘œπ‘‘π‘œπ’‰, π‘‘π‘’π‘‘π‘Žπ‘π‘– π‘’π‘ π‘Žπ’‰π‘Žπ‘˜π‘Žπ‘›π‘™π‘Žπ’‰ π‘ π‘’π‘π‘Žπ‘¦π‘Ž π‘˜π‘Žπ‘šπ‘’ π‘šπ‘’π‘›π‘”π‘’π‘Ÿπ‘‘π‘– π‘˜π‘’π’‰π‘’π‘›π‘‘π‘Žπ‘˜ π‘‡π‘’π’‰π‘Žπ‘›.”

Kita harus selalu waspada dan tidak lengah sedetik pun. Kita harus bertanggung jawab menjalani hidup sepanjang waktu yang diberikan Tuhan, sebab waktu yang kita jalani ini sedang bergerak menuju kekekalan, dan hidup yang kita jalani sekarang ini memiliki dampak kepada kekekalan. A pa pun yang kita lakukan sekarang sangat menentukan status kita di hadapan Tuhan kelak.

Hati Yang Teguh

“π»π‘Žπ‘‘π‘– π‘šπ‘’π‘›π‘”π‘’π‘›π‘Žπ‘™ π‘˜π‘’π‘π‘’π‘‘π‘–π’‰π‘Žπ‘›π‘›π‘¦π‘Ž π‘ π‘’π‘›π‘‘π‘–π‘Ÿπ‘–, π‘‘π‘Žπ‘› π‘œπ‘Ÿπ‘Žπ‘›π‘” π‘™π‘Žπ‘–π‘› π‘‘π‘–π‘‘π‘Žπ‘˜ π‘‘π‘Žπ‘π‘Žπ‘‘ π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘’π‘‘ π‘šπ‘’π‘Ÿπ‘Žπ‘ π‘Žπ‘˜π‘Žπ‘› π‘˜π‘’π‘ π‘’π‘›π‘Žπ‘›π‘”π‘Žπ‘›π‘›π‘¦π‘Ž.”

Kita meresponi segala hal di dunia ini dengan hati. Situasi juga mempengaruhi hati tetapi hati itu sendiri menentukan situasi hidup setiap orang dan dengan demikian hati menentukan suasana kehidupan.

Kepekaan adalah kemampuan untuk mengerti dan merasakan keadaan hati orang lain, baik itu kesenangan maupun kesedihan, serta membantunya untuk keluar dari kesedihan atau kesusahan yang dialaminya. Turut merasakan keadaan orang yang bersedih pun sudah merupakan kekuatan bagi yang lemah, jalan terang bagi yang berduka. Semakin peka seseorang terhadap sesamanya berarti semakin penuh kasih ia.

Semakin hati seseorang tertuju kepada orang lain, semakin baiklah orang itu tetapi semakin ingin berkuasa demi kepentingannya sendiri, semakin lemah kualiti hidupnya dan semakin mempersulit kehidupan di sekitarnya.

Hati yang teguh adalah kemampuan untuk menanggung beban kesedihan dan kesusahannya sendiri. Orang yang mampu menanggung sendiri hidupnya termasuk setiap kesedihannya adalah orang yang kuat.

Keadaan hati seseorang itu terpancar dari wajah dan expresinya. Jika hatinya ‘sihat’ , expresi wajahnya ceria, riang dan mudah tersenyum. Apakabar hatimu? “π‘Œπ‘Žπ‘›π‘” π’‰π‘Žπ‘‘π‘–π‘›π‘¦π‘Ž 𝑑𝑒𝑔𝑒𝒉 πΎπ‘Žπ‘’π‘—π‘Žπ‘”π‘Žπ‘– π‘‘π‘’π‘›π‘”π‘Žπ‘› π‘‘π‘Žπ‘šπ‘Žπ‘– π‘ π‘’π‘—π‘Žπ’‰π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘Ž, π‘ π‘’π‘π‘Žπ‘ π‘˜π‘’π‘π‘Žπ‘‘π‘Ž-π‘€π‘’π‘™π‘Žπ’‰ π‘–π‘Ž π‘π‘’π‘Ÿπ‘π‘Žπ‘¦π‘Ž.”

Give And Take

β€œπ‘†π‘’π‘”π‘Žπ‘™π‘Ž π‘ π‘’π‘ π‘’π‘Žπ‘‘π‘’ π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘˜π‘Žπ‘šπ‘’ π‘˜π‘’π’‰π‘’π‘›π‘‘π‘Žπ‘˜π‘– π‘ π‘’π‘π‘Žπ‘¦π‘Ž π‘œπ‘Ÿπ‘Žπ‘›π‘” π‘π‘’π‘Ÿπ‘π‘’π‘Žπ‘‘ π‘˜π‘’π‘π‘Žπ‘‘π‘Žπ‘šπ‘’, π‘π‘’π‘Ÿπ‘π‘’π‘Žπ‘‘π‘™π‘Žπ’‰ π‘‘π‘’π‘šπ‘–π‘˜π‘–π‘Žπ‘› π‘—π‘’π‘”π‘Ž π‘˜π‘’π‘π‘Žπ‘‘π‘Ž π‘šπ‘’π‘Ÿπ‘’π‘˜π‘Ž. “

Semua orang berharap diperlakukan baik oleh orang lain: dihargai, dihormati, didengar, diperhatikan dan sebagainya. Jika kita ingin dihargai orang lain belajarlah menghargai orang lain, jika kita ingin diperhatikan, belajarlah untuk memperhatikan, jika ingin mendapatkan perlakuan yang ramah dari orang lain, belajarlah berlaku ramah terhadap mereka, jika kita ingin orang lain menepati janjinya, maka kita pun harus belajar menepati janji. Apa yang ingin suami perbuat terhadap isteri, isteri pun harus berbuat demikian kepada suami. Inilah yang disebut hukum kesamaan.

Ada ayat mengatakan β€œdan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.” Di zaman sekarang ini banyak orang hanya melihat kepentingan sendiri saja dan ini menyebabkan keretakan sebuah hubungan, baik itu dalam kehidupan berumah tangga, pertemanan, persahabatan atau bermasyarakat.

Sesungguhnya hukum kesamaan adalah sangat alamiah, sederhana dan mudah untuk dipraktikkan dalam kehidupan kita sehari-hari, tidak merugikan malah justru mendatangkan dampak yang positif bagi diri sendiri dan juga orang lain. Kalau kita memperlakukan orang lain dengan sangat baik, maka orang itu pun cenderung akan berbuat seperti apa yang telah kita perbuat terhadapnya.

Hendaklah kita saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat. π‘΄π’‚π’“π’Š π’Œπ’Šπ’•π’‚ π’Žπ’†π’Žπ’–π’π’‚π’Šπ’π’šπ’‚ π’•π’†π’“π’π’†π’ƒπ’Šπ’‰ 𝒅𝒂𝒉𝒖𝒍𝒖.

Kesulitan Yang Mengubah Kita

“πΎπ‘–π‘‘π‘Ž π‘šπ‘’π‘šπ‘’π‘Ÿπ‘™π‘’π‘˜π‘Žπ‘› π‘šπ‘Žπ‘ π‘Ž-π‘šπ‘Žπ‘ π‘Ž π‘ π‘’π‘˜π‘Žπ‘Ÿ π‘’π‘›π‘‘π‘’π‘˜ π‘šπ‘’π‘›π‘—π‘Žπ‘‘π‘– π‘˜π‘’π‘Žπ‘‘, π‘—π‘–π‘˜π‘Ž π‘‘π‘–π‘‘π‘Žπ‘˜, π‘˜π‘–π‘‘π‘Ž π‘Žπ‘˜π‘Žπ‘› π‘‘π‘’π‘‘π‘Žπ‘ π‘™π‘’π‘šπ‘Žπ’‰.”

Seorang anak mengeluh pada ayahnya tentang hidupnya yang sulit. Ia tidak tahu lagi harus berbuat apa dan ingin menyerah saja. Ia lelah berjuang. Setiap satu persoalan terpecahkan, persoalan yang lain muncul.

Ayahnya yang seorang tukang masak, membawa anaknya ke dapur. Ia mengambil tiga periuk, mengisinya dengan air dan meletakkannya pada tungku yang sedang menyala.

Beberapa saat kemudian air dalam periuk itu mendidih. Pada periuk pertama, ia memasukkan lobak. Pada periuk kedua, ia memasukkan telur. Dan pada periuk ketiga ia memasukkan beberapa biji kopi tumbuk. Ia membiarkan ketiganya mendidih. Selama itu si anak terdiam seribu bahasa.

Dua puluh minit kemudian, sang ayah mematikan api. Lalu mengambil lobak dari dalam periuk dan meletakkannya pada sebuah piring. Kemudian ia mengambil telur dan meletakkannya pada piring yang sama. Terakhir ia menyaring kopi yang diletakkan pada piring itu juga. Ia lalu menoleh pada anaknya dan bertanya, β€œApa yang kamu nampak, Nak?”. Lobak, telur, dan kopi,” jawab sang anak.

Ia membimbing anaknya mendekat dan memintanya untuk memegang lobak. Anak itu melakukan apa yang diminta dan mengatakan bahwa lobak itu terasa lembut. Kemudian sang ayah meminta anaknya memecah telur. Setelah telur itu dipecah dan dikupas, sang anak mengatakan bahwa telur rebus itu kini terasa keras. Kemudian sang ayah meminta anak itu merasa kopi. Sang anak tersenyum ketika merasa aroma kopi yang sedap itu. β€œApa maksud semua ini, ayah?” tanyanya. Sang ayah menjelaskan bahwa setiap benda tadi telah mengalami hal yang sama, yaitu direbus dalam air mendidih, tetapi selepas perebusan itu mereka berubah menjadi sesuatu yang berbeza.

Lobak yang sebelumnya kuat dan keras, setelah direbus dalam air mendidih, berubah menjadi lembut dan lemah. Telur pula, sebaliknya, yang sebelumnya mudah pecah, setelah direbus menjadi keras dan kukuh. Sedangkan biji kopi tumbuk berubah menjadi sangat unik. Biji kopi, setelah direbus, malah mengubah air yang merebusnya itu.

β€œMaka, yang manakah dirimu?” tanya ayah pada anaknya. β€œpada waktu dalam kesulitan menghadang langkahmu, perubahan apa yang terjadi pada dirimu? Apakah kamu menjadi lobak, telur atau biji kopi?”

Tanam Kebiasaan Yang Baik Dalam Hidup.

Pada suatu hari seorang tua yang bijaksana berjalan melalui hutan bersama seorang pemuda yang terkenal tidak bertanggung jawab dan keras kepala. Orang tua itu menghentikan langkahnya, lalu menunjuk sebuah pohon yang masih kecil. β€œcabutlah pohon itu” katanya. Pemuda itu membungkuk dan hanya dengan jari saja dengan mudah ia dapat mencabut pohon itu sampai ke akar-akarnya.

Mereka berjalan lebih jauh lagi dan orang tua itu berhenti di depan sebuah pohon yang agak besar. β€œCoba cabut pohon ini pula” katanya. Sekali lagi si pemuda menuruti perintah itu, namun kali ini ia menggunakan kedua tangannya dan dengan sekuat tenaga mencabut pohon tersebut sampai ke akar-akarnya.

Mereka berjalan lagi lalu berhenti di pohon yang sangat besar,β€œsekarang cabut pohon ini” kata orang tua itu.

β€œWah, itu tidak mungkin!” protes si pemuda. Saya tidak dapat mencabut pohon besar tersebut.”

Orang tua itu menjawab, β€œKamu benar. Kebiasaan, entah baik maupun buruk, sama seperti pohon yang masih kecil, dapat dicabut dengan sangat mudah. Kebiasaan yang akarnya mulai mendalam seperti pohon yang sudah agak besar, untuk mencabutnya diperlukan usaha dan tenaga yang kuat.

Kebiasaan yang sudah lama telah berakar sangat mendalam, sehingga orang itu sendiri tidak dapat mencabutnya. π½π‘Žπ‘”π‘Žπ‘™π‘Žπ’‰ π‘‘π‘–π‘Ÿπ‘–π‘šπ‘’ π‘Žπ‘”π‘Žπ‘Ÿ π‘˜π‘’π‘π‘–π‘Žπ‘ π‘Žπ‘Žπ‘› π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘ π‘’π‘‘π‘Žπ‘›π‘” π‘˜π‘Žπ‘šπ‘’ π‘‘π‘Žπ‘›π‘Žπ‘šπ‘˜π‘Žπ‘› π‘Žπ‘‘π‘Žπ‘™π‘Žπ’‰ π‘˜π‘’π‘π‘–π‘Žπ‘ π‘Žπ‘Žπ‘›- π‘˜π‘’π‘π‘–π‘Žπ‘ π‘Žπ‘Žπ‘› π‘π‘Žπ‘–π‘˜.”

Berdoa kepada Tuhan dan ubah sedikit demi sedikit perilaku yang buruk menjadi baik. Walaupun Kadangkala kita gagal, jangan putus asa,ulangi lagi. Jika kita memiliki sikap ingin berubah, kita pasti dapat mencabut dan membuang β€œAKAR” buruk dan jahat itu.

Manusia Bijaksana, Baik, Berani dan Kuat Itu Adalah…

Manusia paling bijaksana itu, mungkin manusia yang paling tersakiti oleh sekitarnya tapi dia memilih untuk menelan rasa itu menjadikannya pelajaran yang paling berharga untuk terus melangkah ke hadapan.

Manusia paling baik dan murah hati itu, walaupun bukan orang kaya tapi dia tidak bosan-bosan berbuat baik kerana dia tahu apa itu kekurangan dan menyadari bahawa kita hidup perlu bertolong-tolongan.

Manusia paling berani itu, mungkin pernah menjadi orang yang paling penakut dan tersudutkan. Tapi dia memutuskan untuk mulai berani kerana dia menyadari kita sebenarnya tidak pernah berjalan sendiri. Ada Tuhan yang menyertai dan berjalan di hadapan kita.

Manusia paling kuat itu, mungkin mereka yang paling sering menangis dan meneteskan airmata. Tapi dia memilih melakukannya diam-diam, kemudian menyeka wajahnya, tersenyum di luar dan menjadi lebih kuat setiap hari.