“Tidak perlu panik jika tersesat. Kita hanya perlu mengubah kemana kita ingin pergi.”
imakelar
Ada sekumpulan anak muda hiking di gunung. Tapi sudah 3 jam berlalu, mereka belum juga sampai di tempat tujuan sesuai dengan anggaran waktu. Namun mereka berkeras bahwa laluan mereka itu betul dan tetap meneruskan perjalanan.
Setelah hampir 5 jam berjalan mereka sadar dan mengakui bahwa mereka sudah tersalah jalan. Laluan perjalanan yang mereka tempuh tidak sesuai map. Mereka sepakat untuk patah balik dan turun ke basecamp.
Sesampainya di basecamp mereka bertemu dengan pekerja di sana. “Kamu bernasib baik kerana cepat menyadari kamu sudah sesat”, kata pekerja itu. “laluan tadi menuju area tanah runtuh yang belum stabil dan sangat berbahaya.”
Kita pun mungkin ada pengalaman yang sama. Setelah beberapa saat kita melakukan sesuatu, tiba-tiba kita menyadari bahwa tindakan kita itu tidak betul dan kitapun cepat-cepat “kembali ke basecamp“.
Tetapi ada orang walaupun tahu bahwa langkahnya sudah salah atau akan salah, ia tetap meneruskannya dan mengabaikan peringatan-peringatan Tuhan.
Mengeraskan hati dan mengabaikan semua tanda yang jelas dan dapat difahami hanya akan mengundang kecelakaan dan malapetaka dalam hidup kita.
“…orang yang mengeraskan hatinya akan jatuh ke dalam malapetaka.”










