
“Sayang, saya rasa kita perlu mulai diet,” kata seorang suami pada isterinya.
Si isteri mencemuh. “Dia menganggap saya semakin gemuk dan hodoh,” fikirnya.
Pada hari yang lain, si isteri, dengan niat menghindarkan suaminya dari kena saman, berkata, “sayang, jangan laju-laju kalau memandu”
Si suami mengerutkan kening, fikirnya, “Huh, selalu saja dia menganggap saya ini tidak tahu aturan.”
Apabila pola komunikasi seperti ini dibiarkan berlarutan, kita boleh membayangkan bagaimana keadaan rumahtangga suami-isteri itu.
Ketidakjelasan dan kesalahfahaman dalam berkomunikasi dapat menimbulkan luka emosional. Komunikasi yang sepatutnya menjadi jambatan penghubung antara manusia, akan berubah menjadi tembok pembatas jika berterusan dengan cara komunikasi yang salah.
“Jikalau seseorang memberi jawab sebelum mendengar, itulah kebodohan dan kecelaannya.” (Proverbs). Jangan terburu-buru berasumsi sebelum kita benar-benar memahami maksudnya. Tanggapan yang kurang teliti hanya menimbulkan masalah.
Apabila kita ragu-ragu atau tidak memahami apa yang disampaikan, jangan segan untuk meminta kejelasan. Metode ini disebut sebagai mendengarkan secara reflektif. Mendengarkan bukan sekadar berdiam diri ketika mitra kita berbicara, melainkan menyelidiki baik-baik untuk memahami maksudnya.
Untuk memastikan, ulangi apa yang diucapkan orang itu, dan berilah dia kesempatan untuk menjelaskan. Contohnya, Si isteri, boleh bertanya baik-baik, “sayang mengajak saya berdiet, ya?” Lalu, biarkan si suami menjelaskan apa maksudnya, dan kemudian si isteri dapat memahami apa yang di sampaikan. Barulah terjadi komunikasi yang jelas dan salah faham pun dapat dihindarkan.