Kamu Orang Pilihan

Hampir semua orang kenal dan ‘fans’ kepada Cristiano Ronaldo dos Santos Aveiro. Pemain Bola Sepak dari Portugal dan sekarang bermain di Manchester United, England.

Namun tiada yang menyangka bahwa pada tahun 1984, Dolores Aveiro, ibu Cristiano Ronaldo, pernah ingin menggugurkan janin dalam kandungannya. Doktor tidak mau melakukan aborsi, namun Dolores tetap nekad. Ia pulang ke rumah dan minum bir panas dan berlari-lari sehingga penat agar janin itu gugur.

Namun, kehendak Tuhan tidak sama dengan keinginan manusia. Janin itu tetap bertahan hidup dan lahir menjadi bayi yang kuat, bahkan kemudian menjadi pemain bola yang kuat dan terkenal, yang akhirnya menjadi supporter kepada keperluan keluarga.

Tuhan telah menentukan dan menghendaki kehidupan kita sejak dalam kandungan. “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau…” .

Dan Tuhan juga sudah menetapkan dan menyediakan masa depan yang gilang gemilang untuk kita semua. Walaupun mungkin saat ini kita mengalami kesulitan percayalah, “your pain has a purpose.” Tetap bertahan sebab kamu orang pilihanNya.

“For I know the plans I have for you,” declares the LORD, β€œplans to prosper you and not to harm you, plans to give you hope and a future.”

Prioritas Hidup Kita

Apa pun yang kita miliki termasuk keturunan adalah berkat dan kasih karunia dari Tuhan. Nafas kehidupan kita sendiri pun pemberian dari Tuhan.
Tuhan dapat melakukan hal yang mustahil bagi manusia untuk terjadi menurut kehendak-Nya.

Ada kisah tentang Manoah dan isterinya yang mandul. Suatu hari malaikat Tuhan mendatangi isteri Manoah dan mengatakan bahwa pasangan itu akan dikaruniai anak.

Ketika isterinya menceritakan kejadian itu kepada Manoah, ia tidak berdoa minta anak tetapi Manoah berdoa meminta petunjuk dan hikmat,apa yang akan dilakukan setelah anak itu lahir nanti.

“Then Manoah prayed to the Lord: β€œPardon your servant, Lord. I beg you to let the man of God you sent to us come again to teach us how to bring up the boy who is to be born.”

Dear friends, Prioritas kehidupan ini bukanlah untuk memiliki segalanya tetapi untuk mempertanggungjawabkan segala sesuatu yang Tuhan percayakan dan berikan kepada kita.

“The highest heavens belong to the Lord,but the earth he has given to mankind.” Psalm 115:16

Respon Terhadap Cemooh

“Bodohlah yang menyatakan sakit hatinya seketika itu juga, tetapi bijak, yang mengabaikan cemooh.”

Kata lain bagi cemooh adalah ejekan,hinaan ataupun celaan. Kata yang dari mulut seseorang yang bermaksud untuk menghina,melemahkan atau menjatuhkan orang lain.

Jika dicemooh lalu kita menjadi marah kerana hal itu,maknanya pencemooh itu berhasil dan menang. Jadi untuk tidak memberikan kemenangan mudah kepada pencemooh itu,ada dua cara yang kita boleh lakukan.

Pertama adalah KUATKAN MENTAL iaitu tidak menjadi sakit hati. Apa pun hal buruk yang diceritakan oleh orang lain kita usahakan untuk tidak menanggapinya dengan rasa sakit hati.

Kedua, kita abaikan saja si pencemooh itu. Biarkan ia berlalu seperti angin. Apa lagi jika bahan cemooh hanyalah hal-hal yang tidak penting. Ibarat kata pepatah: “anjing menggonggong kafilah berlalu”.

Namun kita perlu kekuatan yang teguh untuk melakukan ini,dan sumber kekuatan kita adalah sang Pencipta kita.

β€œSegala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”

Seperti Tancapan Paku

Margaretha seorang entrepreneur yang masih muda,cantik,kaya dan memiliki talenta yang luarbiasa. Namun sayang,sikapnya narsistik,sangat sombong, egois, suka menyinggung perasaan orang lain,tidak suka melihat orang yang lebih pandai,bahkan sering menindas orang-orang yang dianggapnya kecil. Dia suka menuduh orang lain sombong,berlagak pandai dan ‘menaikkan mutu’.

Sikap buruknya itu membuat orang-orang di sekitarnya menjauh. Merasa dirinya makin tersingkir, dia tersinggung,fikirannya terganggu dan hatinya dipenuhi amarah yang mendalam.

Suatu hari, Margaretha pergi berjumpa seorang guru bijak untuk meminta saran dan nasihat agar orang-orang di sekitarnya tidak lagi menjauhi atau mengucilkan dirinya.

Setelah mendengar semua keluh kesahnya,guru itu berkata dengan bijak, β€œgirl, sebagai terapi, lakukanlah hal-hal berikut ini: Setiap kali kamu berbuat jahat, menyakiti hati orang lain, tandailah perbuatanmu dengan menancapkan sebuah paku di atas pagar depan rumahmu. Setelah pagar rumahmu telah penuh dengan tancapan paku, datanglah kembali kepadaku.”

Maka, pulanglah Margaretha ke rumah dan menjalankan nasihat gurunya. Setiap kali ia berbuat jahat atau menyakiti hati orang lain, ia tancapkan sebuah paku di atas pagar rumahnya. Selang beberapa bulan kemudian, pagar rumahnya telah penuh oleh tancapan paku.

Dan kenyataannya, tidak ada perubahan. Orang-orang di sekitarnya tetap menjauh dan tidak mau berhubungan dengannya. Margaretha merasa lelah, kecewa dan tidak bahagia.

Lalu, ia mendatangi gurunya.Guru yang sudah menduga kedatangannya berkata, β€œgirl, dari raut wajahmu, aku tahu, tentu pagar rumahmu sudah dipenuhi paku. Benar? Nah, sekarang cuba kamu berbuat baik dan ramah kepada orang lain dan setiap kali kamu mampu berbuat baik,cabut satu paku dari pagarmu. Nanti bila paku-paku yang di pagar itu sudah habis kau cabuti, datang ke sini.”

Margaretha pulang dan bertekad mematuhi nasihat guru. Setiap hari, ia berusaha sekuat tenaga mengendalikan sikap buruknya dan setiap kali berhasil melakukan perbuatan baik, segera satu paku dia cabut.

Beberapa bulan kemudian, paku-paku di pagar rumahnya pun telah habis dicabuti. Tanpa disadari, Margaretha telah berubah menjadi orang yang lebih sabar, mau mengerti orang lain, dan lebih bijak.

Waktu kembali ke rumah guru, dengan senyum gembira gurunya menyambutnya dan kerkata, β€œgirl,sekarang kamu tentu sudah menjadi orang yang berbeza. Kau pasti lebih sabar, lebih bijak, dan mampu melakukan perbuatan baik.
Apa yang dapat dipelajari dari semuanya ini? Lihatlah pagarmu, di sana ada bekas tancapan paku, bukan? Mau ditutupi atau dipoles seperti apa pun, pagar rumahmu tidak dapat kembali seperti sediakala. Sama seperti itulah luka yang pernah kau buat pada orang lain. Walaupun kamu berusaha untuk meminta maaf dan memperbaikinya, tetap ada bekas luka di hati mereka.”

Manusia tidak luput dari berbuat salah,sengaja ataupun tidak. Dan manusia juga kadang tidak mudah memaafkan apalagi jika kesalahan perlakuan buruk itu sungguh-sungguh melukai hati, menjatuhkan harga diri, dan menimbulkan penderitaan batin yang berkepanjangan. Mari, kita jaga ucapan, hati dan fikiran, juga sikap dan perilaku kita.

Waktumu Tinggal Sedikit

Pemuda itu tergamam ketika doktor memberitahu bahwa hidupnya tidak akan lama lagi.

Setelah pulang dari klinik, pemuda itu dengan segera mengambil keputusan untuk mengubah tabiatnya.

Ia menjadi ramah dan memahami masalah di officenya.. Ia mulai bangun awal pagi untuk membantu isterinya memasak sarapan dan menyiapkan anak ke sekolah. Ia tidak lagi membentak anaknya kerana lambat bergerak.

Vonis doktor membuat dia menghargai setiap kesempatan untuk meninggalkan kesan baik bagi orang lain yang ada di sampingnya. Tapi mungkin jika pemuda tidak pernah diberitahu doktor bahwa waktu yang dia ada sudah singkat,belum tentu dia mengambil keputusan untuk berubah.

Kadang kita juga menjalani hidup seolah-olah kita memiliki waktu yang tidak akan berakhir. Lalu kita hidup berbuat sesuka hati. Tanpa peduli perasaan orang di sekeliling kita. Mazmur Daud berkata; “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.“

Waktu itu tidak boleh diputar. Jadi,jangan sia-siakan waktu yang berharga itu. Dengan menyadari kerapuhan kita dalam menuju hikmat dan kebijaksanaan sejati,bertanyalah kepada Sang Pencipta. Niscaya kita dimampukan memandang segala sesuatu sesuai dengan kehendakNya. Dan jika kita terus belajar menjalani hidup secara bijaksana, kita dalam pemeliharaan-Nya.

Awasilah Dirimu

Perkataan “AWAS” adalah peringatan agar kita berhati-hati. Perkataan ini selalu kita jumpa di mana saja. “Awas Selekoh Tajam di Hadapan”, “Awas Kerja-kerja pembaikan sedang djalankan”, “Awas kanak-kanak sekolah sedang melintas”, dan banyak lagi.

Ada yang lebih ekstrem lagi: “Awas ada anjing garang!”. Kita harus mengambil berat setiap amaran atau peringatan ini. Jika kita melanggarnya,mungkin akan membahayakan diri sendiri dan orang lain.

Kita harus mengawasi diri sendiri terlebih dahulu, bukan orang lain. Memang mudah kita mengawasi, mengamat-amati, menilai, mengoreksi kelemahan, serta menghakimi orang lain. Tetapi kadang lupa untuk mengawasi diri sendiri atau bercermin pada diri sendiri.

“Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, kerana dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau.”

Kita harus jadi teladan bagi orang-orang di sekitar kita, baik dalam perkataan, dalam tingkah laku dalam kasih, dalam kesetiaan dan dalam kesucian kita.

Bebas Memilih

“…menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.”

Seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi yang pantas, bidang perindustrian juga semakin pesat dibangun dan membuka banyak peluang pekerjaan. Namun kepesatan pembangunan perindustrian menimbulkan masalah baru iaitu sisa toksik yang berbahaya.

Apabila pembuangan sisa toksik ini tidak dikelola dengan baik dan dibuang sembarangan,ia akan menimbulkan pencemaran alam. Contohnya jika sisa toksik dibuang ke sungai atau laut,spesis yang hidup di dalamnya boleh mati akibat keracunan.

Hal ini tidak jauh berbeza dengan kehidupan kita. Jika kita terus berada di tempat yang kotor dan penuh dengan pencemaran, lama kelamaan kita pun tercemar dan mengalami keracunan.

Beginilah gambaran tentang hidup yang berkompromi dengan dunia atau mencemarkan diri dengan dunia. Mungkin pada awalnya tidak menampakkan gejala apa-apa, tetapi bila berterusan dan keadaan ini tidak ditangani, kotoran-kotoran tersebut akan menembus masuk ke dalam kehidupan kita.

Namun hidup kita di tengah dunia yang jahat dan kotor ini,kita mempunyai kebebasan untuk memilih. Apakah kita mau hidup dalam kecemaran atau menjaga hidup tetap bersih. Kehendak Tuhan dalam hidup kita adalah menjaga kesucian dan kekudusan.

Namun, Tuhan tidak memaksa kita, Ia tidak ingin memperlakukan manusia seperti robot untuk mengikuti kehendak-Nya. Kita bebas memilih. Tetapi yang harus kita ingat adalah setiap ketidaktaatan pasti membawa konsekuensi yang menghancurkan, dan ketaatan pasti mendatangkan ‘upah’ yang baik.

Pilihan di tangan kita. Kehancuran atau ‘upah’ yang baik.

Sebenarnya Culas

Steve bercita-cita menjadi penulis. Ia pun meminta saranan daripada gurunya ms.Alice tentang cara menulis.

Ms.Alice menyarankan Steve banyak membaca buku. Namun Steve menolak kerana dia tidak suka membaca.

Lalu ms.Alice menyarankan Steve untuk berkenalan dengan penulis atau bergabung dalam komuniti penulis. Steve menolak juga kerana alasan pemalu.

Ms.Alice ada idea lain iaitu menyarankan Steve mencari ilham dari internet. Sekali lagi Steve menolak dengan alasan dia tidak tahu apa yang perlu dicari di internet.

Ms.Alice geram lalu bertanya, “Jadi kamu mau apa?”

Steve menjawab, “diberi saranan agar dapat menulis.”

Penyebab kenapa Steve menolak semua saranan ms.Alice bukan kerana saranan itu susah atau tidak dapat dilakukan, tetapi sebenarnya Steve malas atau culas.

Ada peringatan tentang kemalasan yang pernah dituliskan: “Hati si pemalas penuh keinginan, tetapi sia-sia, sedangkan hati orang rajin diberi kelimpahan.” Seandainya Steve mau berusaha dengan tekun, lama-kelamaan dia akan mampu menulis.

“Hendak seribu daya,tak hendak seribu dalih.” Tuhan dan manusia tidak tertarik dengan pemalas. Memiliki kemampuan, tetapi tidak mau berusaha. Keinginannya banyak, tetapi tidak mau ‘bayar harga’. Ingin semua berjalan dengan mudah dan lancar, tanpa tangannya bekerja.

Oleh itu, lebih baik berusaha dan dapat sedikit daripada tidak berusaha sama sekali,kerana pasti tidak dapat apa-apa. Pakailah setiap sumber daya yang tersedia untuk menghasilkan yang terbaik.

Manusia Yang Tidak Pernah Salah

Suatu hari Iblis, bertemu Tuhan. Iblis pun menceritakan keluh kesahnya.

“Tuhan, manusia itu keterlaluan. Mereka yang korupsi, mencuri, membunuh, saya yang disalahkan. mereka kata,”digoda Iblis,” keluhnya.

Tuhan pun menyambut keluhan Iblis.

“Sama, Aku pun begitu, Blis. Banjir, kecelakaan lalu lintas, suami isteri bercerai, mereka cakap, sudah kehendak Tuhan,” kata Tuhan.

Begitulah sifat manusia. Sering lari dari tanggungjawab, sering mencari kambing hitam,melemparkan kesalahan kepada pihak lain.

Itu juga yang terjadi di Taman Eden, ketika manusia jatuh ke dalam dosa. Adam yang telah melanggar perintah Tuhan dengan memakan “buah terlarang” itu, melemparkan kesalahan kepada Hawa. Dan Hawa pula melemparkan kesalahannya kepada ular.

Ini adalah sifat yang buruk. Sebab dengan melemparkan kesalahan kepada pihak lain, bukan saja kita telah mengandakan dosa kita, tetapi kita juga tidak belajar dari kesalahan itu.

Seberapa cerdikpun kita bersembunyi dari dosa, kita tidak dapat lari dari Tuhan. Seperti Adam dan Hawa, kita tidak dapat mengelak dari konsekuensi dosa. Pada akhirnya, kita harus mempertanggungjawabkan setiap dosa kita di hadapan Tuhan.

Jika dosa dibiarkan tinggal dalam diri kita,akan melahirkan dosa-dosa lainnya. Oleh itu, kita harus memutus mata rantai dosa,dengan mengakui dan bertanggung jawab atasnya. Mungkin kita akan “sakit” sesaat menanggung akibatnya, tetapi itu lebih baik daripada kita harus menanggung akibat dosa yang berpanjangan.

Telinga Untuk Mendengar

Suatu hari Sam bermimpi sedang berada di sorga. Ketika berjalan-jalan ia melihat sebuah rak berisi benda-benda yang kelihatan aneh.

“Apa itu?” tanya Sam kepada malaikat.

Jawab malaikat, “Oh itu telinga orang-orang yang ketika hidup di dunia mendengarkan hal-hal yang harus mereka lakukan, tetapi tidak melakukannya. Jadi waktu meninggal, telinga mereka saja yang masuk ke sorga sementara bagian tubuh yang lain tidak.”

Lalu ada rak yang lain, dan malaikat menjelaskan, “Ini lidah orang-orang yang ketika hidup di dunia memberi tahu orang lain untuk berbuat baik dan hidup baik, tetapi mereka sendiri tidak melakukannya. Maka ketika meninggal, lidah-lidah mereka saja yang masuk ke sorga dan bagian tubuh yang lain tidak.”

Humor ini mengingatkan kita untuk berhenti menjadi orang yang hanya suka mendengarkan pengajaran yang baik, tetapi tidak pernah melakukan apa yang didengarnya.

Humor ini juga mengingatkan kita,berhenti menjadi orang yang hanya fasih berbicara tentang hal kebaikan, tetapi tidak pernah mempraktikkan kebaikan itu sendiri.

Saya percaya ketika kita menjadi PELAKU(DOER), buah-buah yang nyata akan kelihatan sehingga dapat dirasakan, dinikmati, dan memberkati orang lain.

“But be doers of the word, and not only hearers, deluding your own selves.”