Pilih Satu Saja

Hutan sedang kacau-balau. Hari itu terjadi perang besar. Pasukan burung dan pasukan binatang buas sedang berperang.

Ternyata ada satu haiwan yang tidak ikut berperang. Seekor kelawar. Ia hanya bersembunyi dari balik pohon sambil memerhati mereka yang sedang berperang.

Hari itu pasukan binatang buas menang. Dengan segera si kelawar keluar dan bergabung dengan mereka merayakan kemenangan. Ia mengaku dirinya binatang buas.

“Ada kamu pernah melihat burung yang memiliki gigi taring seperti aku? Tentu tidak, bukan? Jadi aku bukan burung, tetapi termasuk binatang buas.” Begitu alasannya setiap kali ada binatang buas yang bertanya.

Waktu pasukan binatang buas lengah berpesta, ternyata pasukan burung sudah merancangkan pembalasan dendam.

Tiba-tiba pasukan burung menyerbu perkampungan binatang buas. Binatang-binatang buas itu kelam kabut kerana tidak ada persiapan. Perang kali ini dimenangi pasukan burung.

Melihat kemenangan pasukan burung di kelawar segera bergabung dengan mereka. Ia mengaku dirinya burung kerana memiliki sayap dan boleh terbang.

Tapi muslihat si kelawar sudah ketahuan. Akhirnya ia dibenci, baik oleh burung maupun oleh binatang buas.

Kononnya sejak itulah kenapa kelawar suka menyembunyikan diri pada siang hari, dan baru keluar untuk mencari makan pada malam hari.

Dalam peperangan, tidak mungkin kita menjejakkan kaki sekaligus di atas dua kubu yang berlawanan. Begitu juga jika kita memilih menjadi orang percaya. Kita harus meninggalkan segala sesuatu yang bertentangan dengannya.

Kita tidak lagi mengejar kepuasan dan keinginan peribadi, tetapi memilih untuk menganut hal-hal yang baik dan benar. Kita tidak dapat mengikuti jalan orang percaya dan memuaskan hawa nafsu daging pada masa yang sama.

Salah Faham

“Sayang, saya rasa kita perlu mulai diet,” kata seorang suami pada isterinya.

Si isteri mencemuh. “Dia menganggap saya semakin gemuk dan hodoh,” fikirnya.

Pada hari yang lain, si isteri, dengan niat menghindarkan suaminya dari kena saman, berkata, “sayang, jangan laju-laju kalau memandu”

Si suami mengerutkan kening, fikirnya, “Huh, selalu saja dia menganggap saya ini tidak tahu aturan.”

Apabila pola komunikasi seperti ini dibiarkan berlarutan, kita boleh membayangkan bagaimana keadaan rumahtangga suami-isteri itu.

Ketidakjelasan dan kesalahfahaman dalam berkomunikasi dapat menimbulkan luka emosional. Komunikasi yang sepatutnya menjadi jambatan penghubung antara manusia, akan berubah menjadi tembok pembatas jika berterusan dengan cara komunikasi yang salah.

“Jikalau seseorang memberi jawab sebelum mendengar, itulah kebodohan dan kecelaannya.” (Proverbs). Jangan terburu-buru berasumsi sebelum kita benar-benar memahami maksudnya. Tanggapan yang kurang teliti hanya menimbulkan masalah.

Apabila kita ragu-ragu atau tidak memahami apa yang disampaikan, jangan segan untuk meminta kejelasan. Metode ini disebut sebagai mendengarkan secara reflektif. Mendengarkan bukan sekadar berdiam diri ketika mitra kita berbicara, melainkan menyelidiki baik-baik untuk memahami maksudnya.

Untuk memastikan, ulangi apa yang diucapkan orang itu, dan berilah dia kesempatan untuk menjelaskan. Contohnya, Si isteri, boleh bertanya baik-baik, “sayang mengajak saya berdiet, ya?” Lalu, biarkan si suami menjelaskan apa maksudnya, dan kemudian si isteri dapat memahami apa yang di sampaikan. Barulah terjadi komunikasi yang jelas dan salah faham pun dapat dihindarkan.

Jawaban Yang Tidak Sesuai Dengan Yang Diharapkan.

Seorang anak meminta kepada ayahnya bunga cantik untuk menghias taman di depan rumahnya.

Namun, betapa kecewanya dia, apabila ayahnya malah memberinya kaktus yang berduri, bukan bunga cantik. Bentuknya tidak menarik, bahkan duri tajam di seluruh permukaannya mudah melukai.

Tapi kerana kasih kepada ayahnya, anak itu tetap menerimanya. Dia memelihara kaktus itu.

Setelah beberapa lama, muncul sepucuk bunga kecil yang sangat indah dan cantik di hujung kaktus itu.

Dia tidak menyangka dengan bersabar, dia kini mendapatkan bunga indah yang diidamkannya.

Ketika kita berdoa kepada Tuhan, terkadang kita juga mendapat jawaban doa yang tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Mungkin jawaban doa yang kita terima sangat berbeza dengan apa yang kita fikir akan kita peroleh. Bahkan, Tuhan seperti memberi kita hal yang susah atau buruk di mata kita.

Ketika menerimanya, kita mungkin merasa sangat kecewa. Akan tetapi, percayalah,asal tidak ada niat jahat di hati kita, Tuhan memperhatikan dan tidak menolak setiap doa kita.

Tuhan tidak pernah salah menjawab doa kita. Kadang Tuhan mengabulkan doa dan permohonan kita dengan cara yang unik, atau tidak serta-merta menjawab doa kita. Dia pasti tidak akan memberi hal buruk kepada kita. Jika jalan-Nya berbeza, Dia selalu ada tujuan yang lebih baik. Setiap perkara yang dipercayakan kepada kita, adalah jambatan menuju berkat dan sukacita.

Kesempatan Adalah Anugerah

Ted Williams adalah seorang gelandangan yang tinggal di kemah pinggir jalan Columbus, Ohio.

Pada tahun 80-an,sebelum hidupnya dihancurkan oleh dadah dan minuman keras dia adalah seorang penyampai radio. Tetapi dia kehilangan kariernya itu akibat ketagihan.

Dia hidup sebagai perompak, penipu, pemalsu, dan pengemis yang keluar masuk penjara.

Namun hidupnya berubah menjadi terkenal apabila sebuah studio rakaman menayangkan suara emasnya melalui YouTube.

Dalam siaran television NBC, William mengatakan dia “siap menjalani kesempatan kedua yang diberikan kepadanya”.

Tuhan juga sentiasa menawarkan kesempatan baru kepada setiap orang berdosa yang mau bertobat dan sungguh-sungguh datang kepadaNya. Dia selalu setia, mengampuni dan menyucikan segala kesalahan kita.

Mungkin dosa itu pada awalnya kelihatan nikmat. Namun,pada akhirnya dosa membawa penderitaan, sengsara, dan ketidaktenangan hidup. Ted Williams telah membuktikan pahitnya hidup dalam dosa. Itu sebabnya kini dia sangat menghargai anugerah kesempatan kedua yang dia terima.

Hidup ini kesempatan dan anugerah, hidupilah dengan bermakna.

Bumerang Diri Sendiri

“Ia membuat lobang dan menggalinya, tetapi ia sendiri jatuh ke dalam pelubang yang dibuatnya.”

Kita hidup di zaman orang tidak lagi segan untuk melakukan perbuatan jahat. Sanggup melakukan segala cara untuk mewujudkan apa yang diinginkan.

Sanggup memasang “jerat” atau “ranjau” untuk mencelakakan dan menghancurkan hidup orang lain tanpa peduli itu teman, kawan, atau lawan,dengan cara bergosip, memfitnah, menyebarkan berita hoax, atau perbuatan apa saja yang berunsur negatif.

Perbuatan seperti ini terjadi di di mana-mana. Tujuannya hanya satu, menjatuhkan atau menghancurkan orang lain yang dianggapnya sebagai saingan atau lawan.

Tanpa mereka sadari perbuatan jahat yang dilakukan itu akan menjadi bumerang yang dapat menghancurkan diri sendiri, atau senjata makan tuan.

“Terhadap dirinya ia mempersiapkan senjata-senjata yang mematikan, dan membuat anak panahnya menjadi menyala. Sesungguhnya, orang itu hamil dengan kejahatan, ia mengandung kelaliman dan melahirkan dusta. Kelaliman yang dilakukannya kembali menimpa kepalanya, dan kekerasannya turun menimpa batu kepalanya.” (Psalm 7)

Orang yang merancangkan kejahatan terhadap orang lain akan berperkara sendiri dengan Tuhan. Ada tertulis: “Rancangan orang jahat adalah kekejian bagi TUHAN,” .

Tuhan tidak pernah melepaskan pengawasan-Nya terhadap semua orang. Kejahatan sekecil apa pun, bahkan niat jahat yang timbul di dalam hati sekalipun Tuhan tahu dan pada waktunya Dia akan bertindak.

Biarlah kiranya kita menjadi orang-orang yang bijaksana dan tidak memasang bumerang untuk diri sendiri.

Mengampuni

..ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami…

Pada 3 July 1988, kapal perang USS Vincennes menembak jatuh sebuah pesawat penumpang Airbus A300 Iran dengan 290 jiwa di dalamnya.

Pencetusnya remeh, kapten kapal USS Vincennes waktu tu berasumsi mereka sedang diserang oleh sebuah pesawat tempur F-14 milik Iran.

Majoriti masyarakat Amerika menentang idea pembayaran ganti rugi kepada para keluarga yang terkorban. Alasannya, mereka masih mengingat perlakuan kejam terhadap tebusan Amerika di Iran.

Namun Presiden Reagan berkeras dan tetap menyetujui pembayaran ganti rugi itu.

Ketika ditanya oleh wartawan bagaimana jika tindakannya itu adalah keutamaan yang buruk, ia menjawab, “Saya tidak pernah melihat belas kasihan sebagai keutamaan yang buruk.”

Daud telah bertindak mengambil Mefiboset cucu Saul ke dalam bagian keluarganya, walaupun Saul telah berlaku jahat kepadanya. Ini kerana Daud tidak mahu memiliki hati yang dikuasai oleh roh dendam. Itu sebabnya dia menaruh belas kasihan kepada Mefiboset dan untuk menunjukkan betapa dia sangat mengasihi dan mengampuni keluarga Saul.

Apa reaksi kita ketika mendapati seseorang, yang mungkin pernah melukai hati kita, dan kini sedang mengalami hal buruk? Apakah kita merasa senang kerana memang sudah sewajarnya hal buruk itu dialaminya sebagai balasan dari kejahatannya, atau kita merasa prihatin, menaruh belas kasihan, dan kemudian berusaha menolongnya?

Biarlah kiranya kasih Tuhan menggerakkan hati kita untuk menaruh belas kasihan dan pengampunan kepada setiap orang yang pernah melukai hati kita.

Hidup Penuh Misteri

Awan gelap memenuhi langit. Kilatan petir menyambar, menyulut kebakaran hutan.

Seekor rusa betina betina menyingkir ke tepian sungai yang curam kerana hendak beranak.

Tanpa menyedari di kanannya ada pemburu yang siap menembaknya. Di kiri pula seekor singa sedang mengintipnya.

Apa yang harus diperbuatnya? Daripada meratapi ancaman situasi, rusa memutuskan fokus untuk melahirkan.

Tiba-tiba datang kilatan petir mengganggu konsentrasi pemburu. Tembakannya meleset dan tertembak singa.

Lalu hujan lebat turun. Pemburu segera berlindung, melupakan buruannya. Rusa itu melahirkan dengan selamat.

Hidup penuh misteri. Manusia tidak dapat menyelami segala pekerjaan Tuhan. Logik tidak selalu berlaku. Keadilan tidak selalu berbicara. Pencarian tidak selalu menghasilkan. Bila-bila saja kematian boleh menjemput.

Pengertian manusia terbatas sebab Tuhan, Sang Penyelenggara kehidupan ini, jauh melampaui kita. Pekerjaan-Nya tidak terselami dan tidak tertandingi. Daripada hanya tercekat dalam lingkaran misteri yang menegangkan, lebih baik kita lebih fokus untuk menjalankan tugas kehidupan yang ada di depan mata sambil menikmati buahnya. Selebihnya biarlah menjadi rahasia pekerjaan Tuhan.

Ada kalanya wajah kehidupan ini tidak ramah. Kiri kanan ada ancaman bahaya. Maju kena,mundur pun kena.Kita seperti terperangkap oleh situasi tidak terkendali. Bingung dan tegang.Serasa ingin menjerit.

Harus bagaimana? Jangan berkecil hati. Hindari berfikir rumit. Kerjakan saja yang harus dan perlu. Selangkah demi selangkah. Percayalah badai pasti berlalu. Kadang Tuhan memakai situasi sulit untuk menuntaskan pekerjaan-Nya.

Saling Mengasihi

“Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.”

Kasih adalah bahasa kehidupan yang dengannya seseorang dikenal baik. Seseorang yang dikenal tidak baik bererti kasihnya tidak cukup dirasakan walau dia memperkenalkan diri sebagai orang yang pengasih. Kasih bukanlah pada apa yang dilakukan bagi diri sendiri tetapi tentang perbuatan pada orang lain.

Kasih adalah kerendahan hati iaitu mengakui bahwa hidupnya bukanlah apa-apa selain dari kasih Tuhan dan segala talenta yang ada adalah untuk kemuliaan Tuhan.

Lemah lembut adalah sikap hidup yang selalu menampakkan tindakan dan perkataan yang tidak menyakiti baik fizikal maupun mental sesamanya. Sopan santun dan keramahan termasuk dalam sikap ini dan dirindukan untuk dialami dari setiap orang tetapi sering sulit dilakukan. Lemah lembut itu adalah bahasa kasih yang merdu.

Sabar adalah kemampuan untuk menanggung dengan tabah segala beban yang ada tanpa mengeluh kerana lamanya waktu dan beratnya beban yang ditanggung. Ketika sabar sudah berbatas hilanglah kasih.

Saling membantu adalah kerelaan untuk memberi waktu, pemikiran, tenaga, dorongan semangat, dan material kepada orang lain untuk menolong dalam keperluannya. Saling membantu dalam hal yang baik adalah kasih.

Wanita Luarbiasa

Sepasang suami isteri,Shane dan Casie sudah 5 tahun tidak tinggal serumah. Rancangan mereka akan bercerai tahun depan. Lagipun Shane sudah ada kekasih baru.

Beberapa bulan kemudian, ada sesuatu terjadi. Shane mengalami kegagalan ginjal yang parah. Cassie tidak sampai hati melihat keadaan itu. “Bagaimanapun, dia masih suamiku,” ujarnya.

Maka Cassie sumbangkan satu ginjal untuk suaminya, tanpa syarat apapun. Rancangan untuk bercerai tetap berjalan.

Namun setelah keduanya pulih dari operasi, mereka jatuh cinta lagi. Shane berkata, “Buat apa aku mencari perempuan lain, jika di sini ada seorang yang mau berkorban begitu besar untukku?”

Akhirnya, Shane meninggalkan kekasih gelapnya dan kembali kepada Cassie.

Pengorbanan isteri sanggup meluluhkan hati suami. Pengabdian isteri adalah kecantikan batin yang tidak ternilai. Pengorbanan isteri ditunjukkan dengan perjuangannya setiap hari. Mulai dari memenuhi keperluan suami dan anak-anaknya sampai menjadi guru dalam keluarga. Dari pagi hingga malam ia berjerih lelah. Mengupayakan yang terbaik, demi masa depan keluarga. Ia lelah, tetapi bahagia.

Banyak suami atau anak memandang remeh pengorbanan isteri atau ibu. Kesibukannya mengurus rumah ataupun bekerja dianggap sudah biasa. “Memang sudah kewajibannya.” Kata mereka. Padahal di balik cerita sukses suami maupun keberhasilan anak, ada pengorbanan isteri atau ibu. Isteri atau ibu kita mungkin belum pernah menyumbangkan ginjalnya. Tapi, pengorbanannya dari hari ke hari tidak pernah kurang. Kita patut menghargainya.

“Banyak wanita telah berbuat baik, tetapi kau melebihi mereka semua.”

Sakit Hati Yang Menghancurkan

Kita semua pernah mendengar nama Adolf Hitler (20 April 1889 – 30 April 1945) pemimpin Parti Nazi di Jerman. Menjadi canselor pada tahun 1933 dan kemudian menyandang gelaran FΓΌhrer und Reichskanzler pada tahun 1934 sampai 1945. Hitler menjadi watak utama Jerman Nazi, Perang Dunia II di Eropa, dan Holocaust, pembunuhan beramai-ramai terhadap kira- kira enam juta orang Yahudi dan berjuta-juta mangsa lain .

Hitler dibesarkan oleh ayahnya dengan menggunakan kekerasan dalam mendidik anak-anaknya. Ayahnya suka memerintah dan mahu anaknya patuh kepada kata-katanya. Hitler kerap bertengkar dengan ayahnya, yang tidak setuju minatnya kepada seni lukis.

Perlakuan ayahnya membuat dia sakit hati dan dendam,dan mempengaruhi pilihan hidup dan tindakannya di kemudian hari. Sebuah pilihan hidup yang pahit dan menyebabkan kehancuran banyak orang.

Dalam kehidupan sehari-hari, dalam keluarga atau ketika kita bersosial dengan orang lain, kita tidak dapat menghindar dari kemungkinan timbulnya perselisihan faham yang boleh menyebabkan sakit hati. Namun kita boleh memilih cara meresponinya. Daripada membalas perilaku orang lain yang telah menyakiti kita, mari kita berdoa dan mengoreksi diri. Sakit hati boleh datang bila-bila saja, tetapi yang paling penting ialah bagaimana respons kita.

“Sesungguhnya, orang bodoh dibunuh oleh sakit hati, dan orang bebal dimatikan oleh iri hati.”