“๐๐๐๐๐ ๐ ๐๐ก๐ข ๐๐๐๐๐ก๐ข๐๐๐ ๐๐ ๐๐ ๐๐๐๐ ๐ ๐๐๐๐ ๐ก๐ ๐๐๐๐๐ ๐ก๐๐๐๐ ๐ฆ๐๐๐ ๐ ๐๐๐๐ข๐๐๐. ๐พ๐๐ ๐๐๐๐ข๐๐๐๐๐ ๐ ๐๐๐๐ก๐-๐๐๐ก๐ ๐ก๐๐๐๐ ๐ค๐ข๐๐ข๐โฆ..๐๐๐๐๐ ๐๐๐ก๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ข๐๐๐๐๐, ๐๐๐๐ ๐๐๐๐ข๐๐ข๐ ๐ ๐๐ฆ๐ ๐ก๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐ค๐ข๐๐ข๐.”
Stephen Hawkins
Suatu malam seorang ibu menghidangkan makan malam berupa telur goreng, sos, dan beberapa keping roti.
Kerana terlalu lelah bekerja seharian, sang ibu memanggang roti sampai hangus. Waktu makanan dihidangkan, anaknya melihat tegang menunggu respon sang ayah.
Tetapi ternyata, sang ayah mengambil roti itu sambil tersenyum, menyapunya dengan mentega, lalu memakannya dengan lahap. Sang ibu meminta maaf, tetapi suaminya menjawab, “Tidak apa-apa, Sayang.”
Sebelum tidur, anaknya menghampiri ayah dan bertanya, mengapa ayah mau makan roti hangus.
Sambil memeluknya, ayah berkata, “Ibumu sudah lelah bekerja. Lagipun roti itu tidak begitu buruk, masih boleh dimakan. Bersyukur saja ia masih bersama kita.”
Hidup kita juga berisi banyak hal yang tidak sempurna. Selain keberhasilan dan kebahagiaan, ada berbagai kegagalan dan kekecewaan. Tergantung apa yang menjadi fokus kita? Bahagian yang negatif, yang membangkitkan keluh kesah? Atau, bahagian yang positif, yang membuat hati kita membara dengan pujian dan syukur?
Selama jantung masih berdetak, kita harus bersyukur atas kebaikan Tuhan yang melimpah dan melingkupi kita. KasihNya, kebajikanNya, pengampunanNya, penyelamatan-Nya, kebajikanNya dan mujizat-Nya nyata nyata dalam kehidupan kita. Dia memberikan kita kecukupan.










