Tidak Ada Yang Sempurna

“๐‘†๐‘Ž๐‘™๐‘Ž๐’‰ ๐‘ ๐‘Ž๐‘ก๐‘ข ๐‘๐‘’๐‘Ÿ๐‘Ž๐‘ก๐‘ข๐‘Ÿ๐‘Ž๐‘› ๐‘Ž๐‘ ๐‘Ž๐‘  ๐‘Ž๐‘™๐‘Ž๐‘š ๐‘ ๐‘’๐‘š๐‘’๐‘ ๐‘ก๐‘Ž ๐‘–๐‘Ž๐‘™๐‘Ž๐’‰ ๐‘ก๐‘–๐‘Ž๐‘‘๐‘Ž ๐‘ฆ๐‘Ž๐‘›๐‘” ๐‘ ๐‘’๐‘š๐‘๐‘ข๐‘Ÿ๐‘›๐‘Ž. ๐พ๐‘’๐‘ ๐‘’๐‘š๐‘๐‘ข๐‘Ÿ๐‘›๐‘Ž๐‘Ž๐‘› ๐‘ ๐‘’๐‘š๐‘Ž๐‘ก๐‘Ž-๐‘š๐‘Ž๐‘ก๐‘Ž ๐‘ก๐‘–๐‘‘๐‘Ž๐‘˜ ๐‘ค๐‘ข๐‘—๐‘ข๐‘‘โ€ฆ..๐‘‡๐‘Ž๐‘›๐‘๐‘Ž ๐‘˜๐‘’๐‘ก๐‘–๐‘‘๐‘Ž๐‘˜๐‘ ๐‘’๐‘š๐‘๐‘ข๐‘Ÿ๐‘›๐‘Ž๐‘Ž๐‘›, ๐‘Ž๐‘›๐‘‘๐‘Ž ๐‘š๐‘Ž๐’‰๐‘ข๐‘๐‘ข๐‘› ๐‘ ๐‘Ž๐‘ฆ๐‘Ž ๐‘ก๐‘–๐‘‘๐‘Ž๐‘˜ ๐‘Ž๐‘˜๐‘Ž๐‘› ๐‘ค๐‘ข๐‘—๐‘ข๐‘‘.”

Stephen Hawkins

Suatu malam seorang ibu menghidangkan makan malam berupa telur goreng, sos, dan beberapa keping roti.

Kerana terlalu lelah bekerja seharian, sang ibu memanggang roti sampai hangus. Waktu makanan dihidangkan, anaknya melihat tegang menunggu respon sang ayah.

Tetapi ternyata, sang ayah mengambil roti itu sambil tersenyum, menyapunya dengan mentega, lalu memakannya dengan lahap. Sang ibu meminta maaf, tetapi suaminya menjawab, “Tidak apa-apa, Sayang.”

Sebelum tidur, anaknya menghampiri ayah dan bertanya, mengapa ayah mau makan roti hangus.

Sambil memeluknya, ayah berkata, “Ibumu sudah lelah bekerja. Lagipun roti itu tidak begitu buruk, masih boleh dimakan. Bersyukur saja ia masih bersama kita.”

Hidup kita juga berisi banyak hal yang tidak sempurna. Selain keberhasilan dan kebahagiaan, ada berbagai kegagalan dan kekecewaan. Tergantung apa yang menjadi fokus kita? Bahagian yang negatif, yang membangkitkan keluh kesah? Atau, bahagian yang positif, yang membuat hati kita membara dengan pujian dan syukur?

Selama jantung masih berdetak, kita harus bersyukur atas kebaikan Tuhan yang melimpah dan melingkupi kita. KasihNya, kebajikanNya, pengampunanNya, penyelamatan-Nya, kebajikanNya dan mujizat-Nya nyata nyata dalam kehidupan kita. Dia memberikan kita kecukupan.

Menghitung Hari Dengan Bijaksana


โ€œ๐ด๐‘—๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘™๐‘Ž๐’‰ ๐‘˜๐‘Ž๐‘š๐‘– ๐‘š๐‘’๐‘›๐‘”๐’‰๐‘–๐‘ก๐‘ข๐‘›๐‘” ๐’‰๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘–-๐’‰๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘– ๐‘˜๐‘Ž๐‘š๐‘– ๐‘ ๐‘’๐‘‘๐‘’๐‘š๐‘–๐‘˜๐‘–๐‘Ž๐‘›, ๐’‰๐‘–๐‘›๐‘”๐‘”๐‘Ž ๐‘˜๐‘Ž๐‘š๐‘– ๐‘๐‘’๐‘Ÿ๐‘œ๐‘™๐‘’๐’‰ ๐’‰๐‘Ž๐‘ก๐‘– ๐‘ฆ๐‘Ž๐‘›๐‘” ๐‘๐‘–๐‘—๐‘Ž๐‘˜๐‘ ๐‘Ž๐‘›๐‘Ž.โ€

Setiap hari adalah hari baru dan satu hari hanya dapat kita jalani satu kali saja. Kemudian hari tersebut berganti dengan hari berikutnya yang sama lamanya namun berbeda keadaannya. Hari yang telah kita lalui itu sudah menjadi masa lalu dan tinggal kenangan. Hari ini merupakan kesempatan, sedangkan hari-hari yang akan datang menjadi suatu pengharapan bagi kita.

Oleh kerana berharganya waktu, mari kita mempergunakannya dengan bijaksana dan memperhatikan hari demi hari dengan sungguh-sungguh, supaya tidak ada satu hari pun yang berlalu dengan sia-sia.

Kita yang telah dikaruniai banyak talenta, pergunakanlah sebaik-baiknya, sebab kita tidak tahu apakah esok kita masih ada kesempatan menyambut matahari menyingsing. “๐พ๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘’๐‘›๐‘Ž ๐‘–๐‘ก๐‘ข, ๐‘๐‘’๐‘Ÿ๐’‰๐‘Ž๐‘ก๐‘–๐‘˜๐‘Ž๐‘›๐‘™๐‘Ž๐’‰ ๐‘‘๐‘’๐‘›๐‘”๐‘Ž๐‘› ๐‘ ๐‘Ž๐‘˜๐‘ ๐‘Ž๐‘š๐‘Ž, ๐‘๐‘Ž๐‘”๐‘Ž๐‘–๐‘š๐‘Ž๐‘›๐‘Ž ๐‘˜๐‘Ž๐‘š๐‘ข ๐’‰๐‘–๐‘‘๐‘ข๐‘, ๐‘—๐‘Ž๐‘›๐‘”๐‘Ž๐‘›๐‘™๐‘Ž๐’‰ ๐‘ ๐‘’๐‘๐‘’๐‘Ÿ๐‘ก๐‘– ๐‘œ๐‘Ÿ๐‘Ž๐‘›๐‘” ๐‘๐‘’๐‘๐‘Ž๐‘™, ๐‘ก๐‘’๐‘ก๐‘Ž๐‘๐‘– ๐‘ ๐‘’๐‘๐‘’๐‘Ÿ๐‘ก๐‘– ๐‘œ๐‘Ÿ๐‘Ž๐‘›๐‘” ๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘–๐‘“, ๐‘‘๐‘Ž๐‘› ๐‘๐‘’๐‘Ÿ๐‘”๐‘ข๐‘›๐‘Ž๐‘˜๐‘Ž๐‘›๐‘™๐‘Ž๐’‰ ๐‘ค๐‘Ž๐‘˜๐‘ก๐‘ข ๐‘ฆ๐‘Ž๐‘›๐‘” ๐‘Ž๐‘‘๐‘Ž, ๐‘˜๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘’๐‘›๐‘Ž ๐’‰๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘–-๐’‰๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘– ๐‘–๐‘›๐‘– ๐‘Ž๐‘‘๐‘Ž๐‘™๐‘Ž๐’‰ ๐‘—๐‘Ž๐’‰๐‘Ž๐‘ก. ๐‘†๐‘’๐‘๐‘Ž๐‘ ๐‘–๐‘ก๐‘ข ๐‘—๐‘Ž๐‘›๐‘”๐‘Ž๐‘›๐‘™๐‘Ž๐’‰ ๐‘˜๐‘Ž๐‘š๐‘ข ๐‘๐‘œ๐‘‘๐‘œ๐’‰, ๐‘ก๐‘’๐‘ก๐‘Ž๐‘๐‘– ๐‘ข๐‘ ๐‘Ž๐’‰๐‘Ž๐‘˜๐‘Ž๐‘›๐‘™๐‘Ž๐’‰ ๐‘ ๐‘ข๐‘๐‘Ž๐‘ฆ๐‘Ž ๐‘˜๐‘Ž๐‘š๐‘ข ๐‘š๐‘’๐‘›๐‘”๐‘’๐‘Ÿ๐‘ก๐‘– ๐‘˜๐‘’๐’‰๐‘’๐‘›๐‘‘๐‘Ž๐‘˜ ๐‘‡๐‘ข๐’‰๐‘Ž๐‘›.โ€

Kita harus selalu waspada dan tidak lengah sedetik pun. Kita harus bertanggung jawab menjalani hidup sepanjang waktu yang diberikan Tuhan, sebab waktu yang kita jalani ini sedang bergerak menuju kekekalan, dan hidup yang kita jalani sekarang ini memiliki dampak kepada kekekalan. A pa pun yang kita lakukan sekarang sangat menentukan status kita di hadapan Tuhan kelak.

Hati Yang Teguh

“๐ป๐‘Ž๐‘ก๐‘– ๐‘š๐‘’๐‘›๐‘”๐‘’๐‘›๐‘Ž๐‘™ ๐‘˜๐‘’๐‘๐‘’๐‘‘๐‘–๐’‰๐‘Ž๐‘›๐‘›๐‘ฆ๐‘Ž ๐‘ ๐‘’๐‘›๐‘‘๐‘–๐‘Ÿ๐‘–, ๐‘‘๐‘Ž๐‘› ๐‘œ๐‘Ÿ๐‘Ž๐‘›๐‘” ๐‘™๐‘Ž๐‘–๐‘› ๐‘ก๐‘–๐‘‘๐‘Ž๐‘˜ ๐‘‘๐‘Ž๐‘๐‘Ž๐‘ก ๐‘ก๐‘ข๐‘Ÿ๐‘ข๐‘ก ๐‘š๐‘’๐‘Ÿ๐‘Ž๐‘ ๐‘Ž๐‘˜๐‘Ž๐‘› ๐‘˜๐‘’๐‘ ๐‘’๐‘›๐‘Ž๐‘›๐‘”๐‘Ž๐‘›๐‘›๐‘ฆ๐‘Ž.”

Kita meresponi segala hal di dunia ini dengan hati. Situasi juga mempengaruhi hati tetapi hati itu sendiri menentukan situasi hidup setiap orang dan dengan demikian hati menentukan suasana kehidupan.

Kepekaan adalah kemampuan untuk mengerti dan merasakan keadaan hati orang lain, baik itu kesenangan maupun kesedihan, serta membantunya untuk keluar dari kesedihan atau kesusahan yang dialaminya. Turut merasakan keadaan orang yang bersedih pun sudah merupakan kekuatan bagi yang lemah, jalan terang bagi yang berduka. Semakin peka seseorang terhadap sesamanya berarti semakin penuh kasih ia.

Semakin hati seseorang tertuju kepada orang lain, semakin baiklah orang itu tetapi semakin ingin berkuasa demi kepentingannya sendiri, semakin lemah kualiti hidupnya dan semakin mempersulit kehidupan di sekitarnya.

Hati yang teguh adalah kemampuan untuk menanggung beban kesedihan dan kesusahannya sendiri. Orang yang mampu menanggung sendiri hidupnya termasuk setiap kesedihannya adalah orang yang kuat.

Keadaan hati seseorang itu terpancar dari wajah dan expresinya. Jika hatinya ‘sihat’ , expresi wajahnya ceria, riang dan mudah tersenyum. Apakabar hatimu? “๐‘Œ๐‘Ž๐‘›๐‘” ๐’‰๐‘Ž๐‘ก๐‘–๐‘›๐‘ฆ๐‘Ž ๐‘ก๐‘’๐‘”๐‘ข๐’‰ ๐พ๐‘Ž๐‘ข๐‘—๐‘Ž๐‘”๐‘Ž๐‘– ๐‘‘๐‘’๐‘›๐‘”๐‘Ž๐‘› ๐‘‘๐‘Ž๐‘š๐‘Ž๐‘– ๐‘ ๐‘’๐‘—๐‘Ž๐’‰๐‘ก๐‘’๐‘Ÿ๐‘Ž, ๐‘ ๐‘’๐‘๐‘Ž๐‘ ๐‘˜๐‘’๐‘๐‘Ž๐‘‘๐‘Ž-๐‘€๐‘ข๐‘™๐‘Ž๐’‰ ๐‘–๐‘Ž ๐‘๐‘’๐‘Ÿ๐‘๐‘Ž๐‘ฆ๐‘Ž.”

Give And Take

โ€œ๐‘†๐‘’๐‘”๐‘Ž๐‘™๐‘Ž ๐‘ ๐‘’๐‘ ๐‘ข๐‘Ž๐‘ก๐‘ข ๐‘ฆ๐‘Ž๐‘›๐‘” ๐‘˜๐‘Ž๐‘š๐‘ข ๐‘˜๐‘’๐’‰๐‘’๐‘›๐‘‘๐‘Ž๐‘˜๐‘– ๐‘ ๐‘ข๐‘๐‘Ž๐‘ฆ๐‘Ž ๐‘œ๐‘Ÿ๐‘Ž๐‘›๐‘” ๐‘๐‘’๐‘Ÿ๐‘๐‘ข๐‘Ž๐‘ก ๐‘˜๐‘’๐‘๐‘Ž๐‘‘๐‘Ž๐‘š๐‘ข, ๐‘๐‘’๐‘Ÿ๐‘๐‘ข๐‘Ž๐‘ก๐‘™๐‘Ž๐’‰ ๐‘‘๐‘’๐‘š๐‘–๐‘˜๐‘–๐‘Ž๐‘› ๐‘—๐‘ข๐‘”๐‘Ž ๐‘˜๐‘’๐‘๐‘Ž๐‘‘๐‘Ž ๐‘š๐‘’๐‘Ÿ๐‘’๐‘˜๐‘Ž. “

Semua orang berharap diperlakukan baik oleh orang lain: dihargai, dihormati, didengar, diperhatikan dan sebagainya. Jika kita ingin dihargai orang lain belajarlah menghargai orang lain, jika kita ingin diperhatikan, belajarlah untuk memperhatikan, jika ingin mendapatkan perlakuan yang ramah dari orang lain, belajarlah berlaku ramah terhadap mereka, jika kita ingin orang lain menepati janjinya, maka kita pun harus belajar menepati janji. Apa yang ingin suami perbuat terhadap isteri, isteri pun harus berbuat demikian kepada suami. Inilah yang disebut hukum kesamaan.

Ada ayat mengatakan โ€œdan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.โ€ Di zaman sekarang ini banyak orang hanya melihat kepentingan sendiri saja dan ini menyebabkan keretakan sebuah hubungan, baik itu dalam kehidupan berumah tangga, pertemanan, persahabatan atau bermasyarakat.

Sesungguhnya hukum kesamaan adalah sangat alamiah, sederhana dan mudah untuk dipraktikkan dalam kehidupan kita sehari-hari, tidak merugikan malah justru mendatangkan dampak yang positif bagi diri sendiri dan juga orang lain. Kalau kita memperlakukan orang lain dengan sangat baik, maka orang itu pun cenderung akan berbuat seperti apa yang telah kita perbuat terhadapnya.

Hendaklah kita saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat. ๐‘ด๐’‚๐’“๐’Š ๐’Œ๐’Š๐’•๐’‚ ๐’Ž๐’†๐’Ž๐’–๐’๐’‚๐’Š๐’๐’š๐’‚ ๐’•๐’†๐’“๐’๐’†๐’ƒ๐’Š๐’‰ ๐’…๐’‚๐’‰๐’–๐’๐’–.

Kesulitan Yang Mengubah Kita

“๐พ๐‘–๐‘ก๐‘Ž ๐‘š๐‘’๐‘š๐‘’๐‘Ÿ๐‘™๐‘ข๐‘˜๐‘Ž๐‘› ๐‘š๐‘Ž๐‘ ๐‘Ž-๐‘š๐‘Ž๐‘ ๐‘Ž ๐‘ ๐‘ข๐‘˜๐‘Ž๐‘Ÿ ๐‘ข๐‘›๐‘ก๐‘ข๐‘˜ ๐‘š๐‘’๐‘›๐‘—๐‘Ž๐‘‘๐‘– ๐‘˜๐‘ข๐‘Ž๐‘ก, ๐‘—๐‘–๐‘˜๐‘Ž ๐‘ก๐‘–๐‘‘๐‘Ž๐‘˜, ๐‘˜๐‘–๐‘ก๐‘Ž ๐‘Ž๐‘˜๐‘Ž๐‘› ๐‘ก๐‘’๐‘ก๐‘Ž๐‘ ๐‘™๐‘’๐‘š๐‘Ž๐’‰.”

Seorang anak mengeluh pada ayahnya tentang hidupnya yang sulit. Ia tidak tahu lagi harus berbuat apa dan ingin menyerah saja. Ia lelah berjuang. Setiap satu persoalan terpecahkan, persoalan yang lain muncul.

Ayahnya yang seorang tukang masak, membawa anaknya ke dapur. Ia mengambil tiga periuk, mengisinya dengan air dan meletakkannya pada tungku yang sedang menyala.

Beberapa saat kemudian air dalam periuk itu mendidih. Pada periuk pertama, ia memasukkan lobak. Pada periuk kedua, ia memasukkan telur. Dan pada periuk ketiga ia memasukkan beberapa biji kopi tumbuk. Ia membiarkan ketiganya mendidih. Selama itu si anak terdiam seribu bahasa.

Dua puluh minit kemudian, sang ayah mematikan api. Lalu mengambil lobak dari dalam periuk dan meletakkannya pada sebuah piring. Kemudian ia mengambil telur dan meletakkannya pada piring yang sama. Terakhir ia menyaring kopi yang diletakkan pada piring itu juga. Ia lalu menoleh pada anaknya dan bertanya, โ€œApa yang kamu nampak, Nak?โ€. Lobak, telur, dan kopi,โ€ jawab sang anak.

Ia membimbing anaknya mendekat dan memintanya untuk memegang lobak. Anak itu melakukan apa yang diminta dan mengatakan bahwa lobak itu terasa lembut. Kemudian sang ayah meminta anaknya memecah telur. Setelah telur itu dipecah dan dikupas, sang anak mengatakan bahwa telur rebus itu kini terasa keras. Kemudian sang ayah meminta anak itu merasa kopi. Sang anak tersenyum ketika merasa aroma kopi yang sedap itu. โ€œApa maksud semua ini, ayah?โ€ tanyanya. Sang ayah menjelaskan bahwa setiap benda tadi telah mengalami hal yang sama, yaitu direbus dalam air mendidih, tetapi selepas perebusan itu mereka berubah menjadi sesuatu yang berbeza.

Lobak yang sebelumnya kuat dan keras, setelah direbus dalam air mendidih, berubah menjadi lembut dan lemah. Telur pula, sebaliknya, yang sebelumnya mudah pecah, setelah direbus menjadi keras dan kukuh. Sedangkan biji kopi tumbuk berubah menjadi sangat unik. Biji kopi, setelah direbus, malah mengubah air yang merebusnya itu.

โ€œMaka, yang manakah dirimu?โ€ tanya ayah pada anaknya. โ€œpada waktu dalam kesulitan menghadang langkahmu, perubahan apa yang terjadi pada dirimu? Apakah kamu menjadi lobak, telur atau biji kopi?โ€

Tanam Kebiasaan Yang Baik Dalam Hidup.

Pada suatu hari seorang tua yang bijaksana berjalan melalui hutan bersama seorang pemuda yang terkenal tidak bertanggung jawab dan keras kepala. Orang tua itu menghentikan langkahnya, lalu menunjuk sebuah pohon yang masih kecil. โ€œcabutlah pohon ituโ€ katanya. Pemuda itu membungkuk dan hanya dengan jari saja dengan mudah ia dapat mencabut pohon itu sampai ke akar-akarnya.

Mereka berjalan lebih jauh lagi dan orang tua itu berhenti di depan sebuah pohon yang agak besar. โ€œCoba cabut pohon ini pulaโ€ katanya. Sekali lagi si pemuda menuruti perintah itu, namun kali ini ia menggunakan kedua tangannya dan dengan sekuat tenaga mencabut pohon tersebut sampai ke akar-akarnya.

Mereka berjalan lagi lalu berhenti di pohon yang sangat besar,โ€œsekarang cabut pohon iniโ€ kata orang tua itu.

โ€œWah, itu tidak mungkin!โ€ protes si pemuda. Saya tidak dapat mencabut pohon besar tersebut.โ€

Orang tua itu menjawab, โ€œKamu benar. Kebiasaan, entah baik maupun buruk, sama seperti pohon yang masih kecil, dapat dicabut dengan sangat mudah. Kebiasaan yang akarnya mulai mendalam seperti pohon yang sudah agak besar, untuk mencabutnya diperlukan usaha dan tenaga yang kuat.

Kebiasaan yang sudah lama telah berakar sangat mendalam, sehingga orang itu sendiri tidak dapat mencabutnya. ๐ฝ๐‘Ž๐‘”๐‘Ž๐‘™๐‘Ž๐’‰ ๐‘‘๐‘–๐‘Ÿ๐‘–๐‘š๐‘ข ๐‘Ž๐‘”๐‘Ž๐‘Ÿ ๐‘˜๐‘’๐‘๐‘–๐‘Ž๐‘ ๐‘Ž๐‘Ž๐‘› ๐‘ฆ๐‘Ž๐‘›๐‘” ๐‘ ๐‘’๐‘‘๐‘Ž๐‘›๐‘” ๐‘˜๐‘Ž๐‘š๐‘ข ๐‘ก๐‘Ž๐‘›๐‘Ž๐‘š๐‘˜๐‘Ž๐‘› ๐‘Ž๐‘‘๐‘Ž๐‘™๐‘Ž๐’‰ ๐‘˜๐‘’๐‘๐‘–๐‘Ž๐‘ ๐‘Ž๐‘Ž๐‘›- ๐‘˜๐‘’๐‘๐‘–๐‘Ž๐‘ ๐‘Ž๐‘Ž๐‘› ๐‘๐‘Ž๐‘–๐‘˜.โ€

Berdoa kepada Tuhan dan ubah sedikit demi sedikit perilaku yang buruk menjadi baik. Walaupun Kadangkala kita gagal, jangan putus asa,ulangi lagi. Jika kita memiliki sikap ingin berubah, kita pasti dapat mencabut dan membuang โ€œAKARโ€ buruk dan jahat itu.

Manusia Bijaksana, Baik, Berani dan Kuat Itu Adalahโ€ฆ

Manusia paling bijaksana itu, mungkin manusia yang paling tersakiti oleh sekitarnya tapi dia memilih untuk menelan rasa itu menjadikannya pelajaran yang paling berharga untuk terus melangkah ke hadapan.

Manusia paling baik dan murah hati itu, walaupun bukan orang kaya tapi dia tidak bosan-bosan berbuat baik kerana dia tahu apa itu kekurangan dan menyadari bahawa kita hidup perlu bertolong-tolongan.

Manusia paling berani itu, mungkin pernah menjadi orang yang paling penakut dan tersudutkan. Tapi dia memutuskan untuk mulai berani kerana dia menyadari kita sebenarnya tidak pernah berjalan sendiri. Ada Tuhan yang menyertai dan berjalan di hadapan kita.

Manusia paling kuat itu, mungkin mereka yang paling sering menangis dan meneteskan airmata. Tapi dia memilih melakukannya diam-diam, kemudian menyeka wajahnya, tersenyum di luar dan menjadi lebih kuat setiap hari.

Setiap Orang Ada Cerita Hidupnya. Janganlah Cepat Menghakimi.

Janganlah menghakimi maka kamupun tidak akan dihakimi.

Seorang gadis berusia 24 tahun sedang berada di kereta api bersama dengan ibunya. Ia melihat keluar melalui jendela keretaapi dan berteriak, โ€œmama, lihat pohon-pohon itu berjalan!โ€

Mamanya tersenyum, namun ada pasangan muda yang duduk di dekatnya, memandang perilaku kekanak-kanakan gadis yang berusia 24 tahun dengan kasihan. Tiba-tiba si gadis kembali berseru โ€œmama, awan itu berlari mengejar kita!โ€

Pasangan itu tidak dapat menahan perasaan rimas mereka dan berkata kepada ibu gadis tersebut, โ€œMengapa tidak membawa anak kamu ke doktor sakit jiwa?โ€ ibu itu tersenyum dan berkata;

โ€œSaya sudah membawa dia ke doktor, dan kami baru saja pulang. Anak saya buta sejak lahir, dia baru mendapat donor mata dan baru dapat melihat hari iniโ€.

Sahabat-sahabat,
Setiap orang di dunia ini ada cerita tersendiri. Jangan terlalu cepat menilai atau menghakimi orang lain sebelum kita benar-benar mengenal mereka. Kerana mungkin kenyataan yang terjadi dapat mengejutkan kamu. Siapakah kamu, sehingga kamu menghakimi hamba orang lain? Entahkah ia berdiri, entahkah ia jatuh, itu adalah urusan tuannya sendiri. Tetapi ia akan tetap berdiri, kerana Tuhan berkuasa menjaga dia terus berdiri.

Melihat Dari Sisi Yang Baik.

Suatu hari ketika dalam perjalanan pulang kerja Aley dirompak. Pada waktu itu dia sedang memandu dan terperangkap dalam kesesakan jalanraya. Tiba-tiba dia didatangi dua pemuda mengacukan pistol dan memaksa menyerahkan uang dalam dompetnya. Aley menuruti saja permintaan perompak itu.

Ketika sampai di rumah, Aley menceritakan kejadian itu kepada suaminya. Lalu suaminya bertanya bagaimana perasaannya. Marah? Menyesal?

“Tidak,” katanya. “Buat apa? Itu tidak akan mengembalikan uang yang hilang. Malah syukur cuma uang di dompet yang mereka ambil, bukan nyawa saya. Dan syukurnya lagi, saya yang dirompak bukan yang merompak. Semoga uang itu boleh berguna buat mereka.”

Di balik setiap kejadian atau keadaan yang kita alami, termasuk yang tidak menyenangkan sekalipun, selalu ada sisi-sisi baiknya. Kuncinya, kita jangan terjebak dalam kemarahan dan kekecewaan yang berpanjangan.

Kita tidak akan kehilangan sukacita dan rasa syukur jika kita menjalani segala situasi dengan penyerahan diri kepada Tuhan, dan menyakini bahwa di balik semua itu ada hikmahnya. Mungkin ini tidak akan menyelesaikan masalah tapi at least kita masih ada sukacita.

Menegur Atau Menghakimi? (Ada Bezanya).

Menegur dan menghakimi itu suatu yang sangat berbeza. Kita memang perlu menegur tapi kita tidak perlu menghakimi orang lain. Apa beza menegur dan menghakimi?

๐Œ๐ž๐ง๐ž๐ ๐ฎ๐ซ :

1. Cara penyampaian yang lebih baik. Intonasi suara lebih santai dan tidak emosi.

2.Menegur dengan cara berkelas, bukan di depan umum sehingga suasana menjadi tidak nyaman. Tetapi memilih berbicara secara empat mata.

3.Memberi masukan yang baik atau menasihati dengan cara positif walaupun orang yang ditegur itu salah.

๐Œ๐ž๐ง๐ ๐ก๐š๐ค๐ข๐ฆ๐ข :

1. Menyampaikan dengan kalimat kasar, bahkan menghardik.

2.Bersembunyi dibalik topeng menegur atau menasihati padahal membully.

3.Nada suara meninggi dan memarahi.

4.Pelaku penghakiman biasanya merasa dirinya yang paling benar, dan berhak menghakimi seseorang tersebut.

Jika sedang menasihati seseorang mari kita belajar untuk lebih memperhatikan penggunaan kata-kata dan intonasi suara kita supaya orang yang dinasihati merasa kita bukan sedang menasihati tetapi menghakimi dirinya.