
“๐พ๐๐ก๐ ๐๐๐๐๐๐๐ข๐๐๐ ๐๐๐ ๐-๐๐๐ ๐ ๐ ๐ข๐๐๐ ๐ข๐๐ก๐ข๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐ข๐๐ก, ๐๐๐๐ ๐ก๐๐๐๐, ๐๐๐ก๐ ๐๐๐๐ ๐ก๐๐ก๐๐ ๐๐๐๐๐.”
Seorang anak mengeluh pada ayahnya tentang hidupnya yang sulit. Ia tidak tahu lagi harus berbuat apa dan ingin menyerah saja. Ia lelah berjuang. Setiap satu persoalan terpecahkan, persoalan yang lain muncul.
Ayahnya yang seorang tukang masak, membawa anaknya ke dapur. Ia mengambil tiga periuk, mengisinya dengan air dan meletakkannya pada tungku yang sedang menyala.
Beberapa saat kemudian air dalam periuk itu mendidih. Pada periuk pertama, ia memasukkan lobak. Pada periuk kedua, ia memasukkan telur. Dan pada periuk ketiga ia memasukkan beberapa biji kopi tumbuk. Ia membiarkan ketiganya mendidih. Selama itu si anak terdiam seribu bahasa.
Dua puluh minit kemudian, sang ayah mematikan api. Lalu mengambil lobak dari dalam periuk dan meletakkannya pada sebuah piring. Kemudian ia mengambil telur dan meletakkannya pada piring yang sama. Terakhir ia menyaring kopi yang diletakkan pada piring itu juga. Ia lalu menoleh pada anaknya dan bertanya, โApa yang kamu nampak, Nak?โ. Lobak, telur, dan kopi,โ jawab sang anak.
Ia membimbing anaknya mendekat dan memintanya untuk memegang lobak. Anak itu melakukan apa yang diminta dan mengatakan bahwa lobak itu terasa lembut. Kemudian sang ayah meminta anaknya memecah telur. Setelah telur itu dipecah dan dikupas, sang anak mengatakan bahwa telur rebus itu kini terasa keras. Kemudian sang ayah meminta anak itu merasa kopi. Sang anak tersenyum ketika merasa aroma kopi yang sedap itu. โApa maksud semua ini, ayah?โ tanyanya. Sang ayah menjelaskan bahwa setiap benda tadi telah mengalami hal yang sama, yaitu direbus dalam air mendidih, tetapi selepas perebusan itu mereka berubah menjadi sesuatu yang berbeza.
Lobak yang sebelumnya kuat dan keras, setelah direbus dalam air mendidih, berubah menjadi lembut dan lemah. Telur pula, sebaliknya, yang sebelumnya mudah pecah, setelah direbus menjadi keras dan kukuh. Sedangkan biji kopi tumbuk berubah menjadi sangat unik. Biji kopi, setelah direbus, malah mengubah air yang merebusnya itu.
โMaka, yang manakah dirimu?โ tanya ayah pada anaknya. โpada waktu dalam kesulitan menghadang langkahmu, perubahan apa yang terjadi pada dirimu? Apakah kamu menjadi lobak, telur atau biji kopi?โ








