Menjadi Superstar

“Dan orang-orang bijaksana akan bercahaya seperti cahaya cakrawala, dan yang telah menuntun banyak orang kepada kebenaran seperti bintang-bintang, tetap untuk selama-lamanya.”

Menjadi superstar adalah dambaan banyak orang di dunia ini. Orang berduyun-duyun untuk ikut dalam pertandingan seperti American Idol, America Got Talent atau Asia Got Talent dan sebagainya, dengan tujuan ingin menjadi bintang terkenal.

Bagi pemahaman kebanyakan orang Superstar adalah orang yang hebat, memiliki prestasi luar biasa, dikagumi oleh banyak orang, sukses atau orang yang terkenal atau populer.

Namun di mata sang Pencipta kita, Superstar adalah orang yang berhasil dalam menjalankan panggilan hidupnya iaitu bekerja dan menghasilkan buah. “Dan orang-orang bijaksana akan bercahaya seperti cahaya cakrawala, dan yang telah menuntun banyak orang kepada kebenaran seperti bintang-bintang, tetap untuk selama-lamanya.”

Daniel, sekalipun hidup di tengah-tengah bangsa yang menyembah kepada berhala, ia tidak terbawa arus. Ia tetap mampu menjaga hidupnya berkenan kepada Tuhan sehingga kehidupannya bercahaya dan menjadi berkat bagi banyak orang. Dia adalah Superstar pada zamannya. Kita juga boleh menjadi Superstar jika kita mahu.

Bimbang

“Jangan bimbang, jangan takut…”


Sejak Daud berjaya mengalahkan Goliat timbul kebencian dan iri hati dalam diri Saul terhadapnya. Saul berusaha membunuh Daud namun gagal. Daud ada kesempatan 2 kali untuk membunuh Saul, tapi dia tidak melakukannya.

Daud percaya bahwa Tuhan sentiasa melindunginya. Namun Daud pernah mengalami keruntuhan iman dan kebimbangan membayanginya. Dia terlalu memikirkan hal buruk yang belum terjadi,sehingga ia memutuskan untuk lari ke negeri orang Filistin. Daud lupa akan kedahsyatan kuasa Tuhan yang berulang kali telah melepaskannya dari rancangan-rancangan jahat manusia.

Kitapun sering bimbang sesuatu yang buruk akan terjadi. Kita membiarkan hati dan fikiran kita dibelenggu oleh kebimbangan. Research menguraikan bahawa 40% kebimbangan manusia adalah tentang hal-hal yang tidak terjadi, 30% tentang hal yang sudah terjadi, 12% tentang kesihatan, dan 10% tentang keresahan sehari-hari. Jadi 92% kebimbangan kita sebenarnya adalah tidak perlu.

Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau. Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah.

Menangis

“Jiwa tidak akan memiliki pelangi jika mata tidak memiliki air mata.”

John Vance Cheney

Semua orang pernah menangis. Menangis adalah bahasa yang paling tinggi. Menangis adalah ungkapan perasaan kasih yang besar atau penyesalan, ketakutan, dan kesakitan yang teramat sangat. Namun tergantung apa atau siapa yang ditangisi. Kanak-kanak yang belum boleh berkomunikasi secara verbal menyampaikan perasaannya, hidupnya, semuanya dengan tangisan.

Menangis bukan hanya mengurangi stres dan memperbaiki perasaan kita, ia dapat membantu kita menjaga kesihatan tubuh. Bagaimana?

1. Kuat menghadapi stres

Air mata adalah terapi, dan menangis adalah katarsis yang merupakan salah satu teknik untuk menyalurkan emosi yang terpendam. Meskipun menangis tidak dapat menyelesaikan masalah, mengubah situasi, atau mengembalikan seseorang ke dalam hidup kita. Namun, menangis telah terbukti secara ilmiah untuk membuat kita merasa lebih baik. Ia adalah salah satu proses pemulihan tubuh dari tekanan emosi.

2. Mengurangkan rasa sakit

Ketika kita menangis dan dipeluk, didekap, atau dibelai. Ini akan meningkatkan perasaan nyaman dan sejahtera. Ini akan membantu mengurangkan perasaan sakit kita.


3. Baik untuk kesihatan

Menangis bukan hanya berpengaruh terhadap kesihatan mental dan emosional, tetapi juga kesihatan fizikal. Menangis dapat melepaskan hormon yang membuat kita merasa lebih baik, serta dapat menurunkan kadar hormon yang menyebabkan kecemasan ekstrim dan stres. Menangis juga dapat melembabkan mata, mencegah terjadinya dehidrasi, membunuh bakteria, dan membuang racun berbahaya pada tubuh.

Kesimpulannya, menangis bukanlah tanda bahwa kita lemah dan tidak mampu menangani masalah asam garam kehidupan. Tetapi menangis menandakan bahwa kita ada solusi lain dalam menghadapi permasalahan tanpa perlu melarikan diri dari masalah.

24 Jam Untuk Setiap Orang

“Everybody has 24 hours and the question is, what do you do with your 24 hours? That’s what makes everybody equal.”

Stedman Graham

Ada kajian yang dilakukan di Singapore tentang bagaimana rata-rata seseorang itu menggunakan waktu hidupnya selama 70 tahun.

– 23 tahun untuk tidur
– 17 tahun untuk bekerja
– 11 tahun untuk menonton TV/bermain
– 6 tahun dalam perjalanan
– 6 tahun untuk makan
– 3 tahun untuk bersiap-siap
– 3 tahun untuk pergi ke tempat ibadah.

Itulah perkiraan bagaimana negara yang terkenal berdisiplin itu menggunakan waktu mereka. Bagaimana dengan kita? Apakah kita sudah mengisi kehidupan kita dengan hal-hal yang penuh makna?

Setiap orang masing-masing diberikan waktu sepanjang 24 jam. Dengan waktu itu, kita diberikan tanggung jawab untuk mengelola waktu itu dengan sebaik-baiknya.

Kita boleh memilih bagaimana mempergunakan waktu hidup yang kita miliki.

1. Kita menghabiskan hidup kita dengan hal yang sia-sia.

2.Kita menginvestasikan waktu kita untuk sesuatu yang berharga, sesuatu yang akan bertahan melampaui masa hidup kita.

Apakah kita sudah membuat kira-kira waktu dengan bijaksana? Apakah waktu itu menguasai kehidupan kita atau kita yang menguasainya? Apakah kita menggunakannya untuk hal-hal kekekalan atau sekadar untuk mengejar cita-cita peribadi?

Kerana itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, kerana hari-hari ini adalah jahat.

Hopelessness

“Feeling hopeless is just a slower way of being dead.”

Akibat pandemic, Diego kehilangan pekerjaan dan dia sudah berusaha menghantar permohonan kerja di banyak perusahaan tapi belum ada yang menerimanya.

Ia mulai down dan kehilangan harapan. Setiap hari ia selalu murung.

Melihat keadaan Diego, ibunya pun mengajaknya pergi ke suatu tempat.

Ternyata mereka pergi ke kuburan. Diego terkejut. “Kenapa ibu mengajak saya ke sini?” tanyanya kehairanan.

Sambil menunjuk batu nisan, ibunya berkata, “Di sinilah tempat orang-orang yang tidak lagi punya pengharapan. Selama kita masih hidup, selalu ada harapan.”

Diego tersadar. Keyakinan dirinya pulih dan harapannya pun kembali datang. Ia tahu ia masih ada harapan.

Pengharapan di dalam diri manusia hilang tatkala meninggal dunia. Namun bagi Tuhan, tidak ada yang mustahil. Tulang-tulang kering pun boleh diubahkan-Nya menjadi tentera yang sangat besar.

Tulang kering berbicara kehidupan yang mati secara spiritual. Hidup tanpa tujuan, tanpa pengharapan, dan tidak lagi mampu melihat masa depan.

Mungkin kita merasakan atau dikatakan sebagai orang yang tidak ada masa depan. Mungkin juga kita mengganggap diri kita sudah mati bagaikan tulang-tulang kering. Tapi ketahuilah bahwa bersama Tuhan, kita selalu memiliki pengharapan dan masa depan yang indah.

Bahagia Cara Sendiri

“Bukan bahagia yang membuat kita bersyukur, tetapi bersyukur yang membuat kita bahagia.”

Di sebuah wad hospital ada 2 katil pesakit,yang satu dekat dengan jendela dan yang satu lagi jauh dari jendela. Setiap hari Kai, pesakit yang terbaring lemah di katil dekat jendela menceritakan apa yang dia lihat kepada Teo pesakit yang terbaring di katil satunya lagi.

“Apa yang kamu lihat hari ini?” tanya Teo.

Kai menjawab, “Di luar ada anak-anak kecil berlari riang sedang main dengan anjing kesayangannya. Ada gemerlap lampu-lampu taman yang indah. Ada beberapa anak muda sedang berbaring santai di taman. Dan banyak sekali angsa-angsa di kolam.” Dengan riangn Kai bercerita.

Hari ke hari Teo bertanya kepada Kai, dan Kai terus menceritakan apa yang dia lihat di luar jendela.

Pada suatu malam, Kai sesak nafas. Tapi Teo membiarkan saja keadaan itu sedangkan dia boleh membantu menekan loceng kecemasan untuk memanggil nurse. Dalam hatinya, “Ini kesempatanku untuk pindah ke katil sebelah jika Kai mati, jadi boleh melihat pemandangan di luar.”

Esok harinya Kai meninggal dan Teo memberitahu nurse, “Saya mau pindah ke katil dekat jendela.” Teo pun dipindahkan ke katil sebelah. Waktu dia menoleh ke jendela,ternyata hanya tembok yang ada di pemandangan itu.

Terkadang kita selalu merasa diri tidak bahagia dan selalu melihat orang lain lebih bahagia. Suka berandai-andai. Andai aku kaya seperti dia, andai aku punya suami yang baik seperti dia,andai aku ada isteri seperti dia, andai gajiku besar seperti dia, andai begitu dan andai begini…

Setiap orang ada kesusahan masing-masing. Orang yang bahagia adalah orang yang selalu melihat hidup ini indah, berfikir positif walaupun hanya “tembok” di depan mata tapi yang dia lihat adalah visinya dan selalu ceria serta bersemangat menjalani kehidupan. Bersyukurlah telah diberikan kehidupan.

Jika Tersesat, Segera Balik Ke ‘Basecamp’.

“Tidak perlu panik jika tersesat. Kita hanya perlu mengubah kemana kita ingin pergi.”

imakelar

Ada sekumpulan anak muda hiking di gunung. Tapi sudah 3 jam berlalu, mereka belum juga sampai di tempat tujuan sesuai dengan anggaran waktu. Namun mereka berkeras bahwa laluan mereka itu betul dan tetap meneruskan perjalanan.

Setelah hampir 5 jam berjalan mereka sadar dan mengakui bahwa mereka sudah tersalah jalan. Laluan perjalanan yang mereka tempuh tidak sesuai map. Mereka sepakat untuk patah balik dan turun ke basecamp.

Sesampainya di basecamp mereka bertemu dengan pekerja di sana. “Kamu bernasib baik kerana cepat menyadari kamu sudah sesat”, kata pekerja itu. “laluan tadi menuju area tanah runtuh yang belum stabil dan sangat berbahaya.”

Kita pun mungkin ada pengalaman yang sama. Setelah beberapa saat kita melakukan sesuatu, tiba-tiba kita menyadari bahwa tindakan kita itu tidak betul dan kitapun cepat-cepat “kembali ke basecamp“.

Tetapi ada orang walaupun tahu bahwa langkahnya sudah salah atau akan salah, ia tetap meneruskannya dan mengabaikan peringatan-peringatan Tuhan.

Mengeraskan hati dan mengabaikan semua tanda yang jelas dan dapat difahami hanya akan mengundang kecelakaan dan malapetaka dalam hidup kita.

“…orang yang mengeraskan hatinya akan jatuh ke dalam malapetaka.”

Berterima Kasih Dengan Masalah?

“Kita akan berbahagia jika mampu mengubah masalah menjadi hikmah.”

Semua orang kalau boleh, tidak mau ada masalah bukan? Kita selalu menganggap masalah itu musuh yang perlu dihindari. Tetapi tahukah anda bahawa kita sebenarnya perlu berterima kasih dengan masalah itu. Aiks?! Kenapa begitu?

Masalah adalah cara yang paling ampuh dan mujarab untuk mengajar kita tentang apa yang baik dan apa yang buruk (good and bad). Bahkan masalah, kesulitan atau penindasan boleh membawa seseorang mendekat kepada Tuhan.

Namun ada juga yang memilih untuk menjauh dan lari meninggalkan Tuhan. Semua itu tergantung bagaimana sikap dan respons kita terhadap masalah itu.

Daud pahlawan yang mengalahkan Goliat itu berkata, “Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu.” Daud faham bahawa masalah adakalanya terjadi akibat dari kesalahan kita sendiri. Jika kita peka, ini adalah kesempatan bagi kita untuk mengoreksi dan memperbaiki diri.

Namun tidak semua orang dapat memandang setiap permasalahan dengan cara pandang yang positif. Kita berterima kasih jika Tuhan menegur kita melalui masalah, kerana Dia menghajar orang yang dikasihi-Nya. Jadi bukan tanpa tujuan jika Tuhan mengizinkan masalah terjadi dalam hidup ini.

Kita patut berterima kasih kerana peringatan-peringatan Tuhan ini membuat kita semakin melekat kepada Tuhan, menyadari keterbatasan dan tidak lagi memegahkan diri sendiri.

Marah

“πΎπ‘œπ‘›π‘‘π‘Ÿπ‘œπ‘™ kata-katamu ketika kamu sedang marah kerana kadang-kadang kata-kata yang diucapkan dalam kemarahan meninggalkan bekas luka yang tidak dapat disembuhkan.”

Kita semua pasti pernah merasa marah kan? Sampai saat ini, saya belum pernah bertemu dengan orang yang tidak ‘pandai’ marah. Tuhan saja pun boleh marah apalagi kita yang hanya manusia.

Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis. Sebab itu, kita sering mendengar orang berkata,” jangan cepat marah”, “jangan lama-lama marahnya” atau “jangan tidur dalam keadaan marah”.

Marah yang tidak dikontrol akan merugikan. Jadi penting untuk kita belajar mengontrol amarah itu. Kerana jika tidak demikian, kita mungkin akan melukai orang lain bahkan orang-orang yang kita sayang. Kadangkala setelah dilukai dan disakiti, orang-orang di sekitar akan mulai menjauhi kita dan mungkin berhujung kita akan menjadi ‘lonely’ sebab tidak ada orang yang suka dekat dengan pemarah.

Marah yang terkendali dan penuh dengan teguran yang baik pasti berbeza hasilnya. Saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah, sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran.

Cermin Kehidupan

“Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, kerana dari situlah terpancar kehidupan.”

Ada cerita tentang seorang ratu yang cantik tetapi penuh dengan sifat dengki dan iri hati. Setiap hari,ratu itu akan berdiri di depan cermin ajaib dan bertanya, “Cermin ajaib, siapakah wanita tercantik di negeri ini?” Dan setiap hari juga cermin ajaib menjawab, “Ratuku adalah wanita paling cantik di negeri ini.”

Waktu terus berlalu. Sampai bertahun-tahun kemudian, sang ratu seperti biasa bertanya pada cermin ajaib, “Cermin ajaib, siapakah wanita tercantik di negeri ini?”

Betapa terkejutnya ia ketika cermin ajaib itu menjawab, “Paduka Ratu memang cantik, tetapi Puteri Salju seribu kali lebih cantik.”

Seperti dalam dongeng itu, cermin tidak pernah berbohong. Apabila seseorang berwajah cantik berdiri di hadapannya, ia akan memantulkan bayangan wajah yang jelita.

Hati kita ibarat cermin kehidupan. Apa yang ada di dalamnya akan terpancar keluar dengan sendirinya. Ketika kita mengisi hati dengan kasih, sukacita, dan kemurahan, kehidupan kita dapat menjadi berkat bagi orang lain.

Namun jika ada iri hati, amarah, serta kebencian, kehidupan kita akan menjadi batu sandungan. Manusia mungkin dapat berpura-pura tampil baik,tetapi itu hanyalah sementara. Tidak ada kepura-puraan yang bertahan. Cepat atau lambat ia akan terpancar.

Mari kita isi perbendaharaan hati kita dengan hal-hal yang baik dan benar. Tidak ada kebusukan di dalamnya sehingga di mana pun kita berada, kita menjadi terang.