Perintah

Perintah dan undangan adalah suatu yang berbeza. Kalau undangan, kita ada pilihan untuk menerima atau menolak, untuk hadir atau tidak.

Manakala perintah pula adalah suatu yang harus kita kerjakan samada kita suka ataupun tidak. Contohnya dari orang tua, atasan, atau pihak pemerintah. Kalau membantah,melanggar atau tidak taat, kita akan menerima hukuman ataupun amaran.

Hidup di dunia ini, banyak perintah yang harus kita lakukan. Salah satu perintah terpenting adalah perintah untuk saling mengasihi. Secara pratikal ini tidak mudah, terutama kalau kita harus mengasihi seseorang yang menyakiti kita.

Mengampuni adalah salah satu bentuk kasih. Perintah ini harus kita lakukan walaupun perasaan kita tidak nyaman. Kita harus senantiasa saling mengasihi dalam perkataan dan perbuatan.

Berbuat baik kepada orang yang jahat, memberikan pertolongan kepada orang yang menipu kita, memaafkan saudara yang memfitnah kita adalah hal-hal yang tidak mudah untuk dipratikkan.

Percayalah jiwa kita lebih tenang jika kita mempraktikkan perintah untuk saling mengasihi ini.

“coronavirus should have been a wake up call to everyone who lose a love one, to change there disturbing ways by stopping racist cause when you bleed red I bleed red just like You do , stop killing each other an build together to get this hustle, love everyone an be a team.” – Shaneika Marie

Dia Belum Mengenal Saya.

Suatu hari seorang murid mendatangi seorang guru. Tanpa diduga, murid itu datang hanya untuk meludahi muka guru tersebut.

Ada murid lain yang sedang bersama guru itu segera bergerak maju untuk membelah gurunya. Namun guru itu memberi isyarat kepadanya untuk membiarkannya pergi.

“Bukan saya yang diludahinya. Ia belum mengenal saya. Ia meludahi gagasannya sendiri tentang saya, yang ia dengar dari orang lain,” kata guru.

Perkataan itu membuat murid itu merasa bersalah. Keesokan harinya ia datang kembali kepada sang guru, katanya: “Saya hendak meminta maaf atas perbuatan saya kemarin.”

“Perbuatan yang mana?” tanya sang guru.

“Meludahi Anda,” sahutnya.

“Tidak ada yang perlu dimaafkan, kerana saya yang hari ini bukanlah saya yang kemarin. Seperti kamu hari ini, yang juga berbeda dari kamu yang kemarin.”

Seperti sungai yang selalu mengalirkan air baru setiap hari, demikian pula hidup kita. Kita pada hari ini bukan lagi kita yang kemarin. Dan perubahan ini tidak berhenti dalam kehidupan kita saja, melainkan tersalur menjadi berkat bagi sesama.

Leafy Plant – π‘―π’‚π’Š π’€π’–𝒏𝒖𝒔!

Yunus panas hati sebab orang Niniwe yang bukan sebangsanya tidak ditunggangbalikkan oleh Tuhan atas dosa mereka setelah mereka bertobat dari kelakuan buruk itu. Tuhan mendengarkan nubuatan Yunus.

Kerana terlalu kesal Yunus menanti sambil memandang dari jauh tentang apa yang akan terjadi atas Niniwe selanjutnya. Lalu atas penentuan TUHAN tumbuhlah sebatang pohon berdaun (Leafy Plant) melampaui kepala Yunus untuk menaunginya, agar ia terhibur dari pada kekesalan hatinya. Yunus sangat bersukacita kerana pohon berdaun itu.

Kekesalan hati Yunus disebabkan ada rasa permusuhan terhadap Niniwe, sehingga dia mengharapkan malapetaka terjadi atas mereka dan bukan kebaikan.

Namun hati Yunus yang kesal terhadap Niniwe berubah menjadi sukacita. Penyebab Yunus kesal adalah kerana selalu berfikir untuk dirinya sendiri. Dan pada waktu itu, penghiburan sebenar yang diperlukan Yunus bukanlah terlindung dari panas matahari tetapi bagaimana terlindung dari panasnya hatinya sendiri. Itulah sukacita yang sesungguhnya.

Kitapun selalu kesal kerana terlalu memikirkan kepentingan diri sendiri. Kita jadi marah dan panas hati bila sesuatu terjadi tidak sesuai dengan keinginan kita. Seperti Yunus, kita juga perlu dilindungi dari diri sendiri.

Semua orang yang berlindung dan bernaung pada Tuhan akan bersukacita, mereka akan bersorak-sorai selama-lamanya.

See For Yourself (π‘¨π’π’‚π’Žπ’Š π‘Ίπ’†π’π’…π’Šπ’“π’Š)

Seorang pemuda bernama Max menemui seorang tua bijak bernama Mr.Brown yang tinggal di sebuah desa yang begitu damai. Dengan santun, Max menyampaikan maksud dan tujuannya.

β€œMr.Brown, saya ingin menemukan jawaban, bagaimana caranya membuat diri sendiri selalu gembira dan bahagia serta sekaligus dapat membuat orang lain selalu gembira?” tanya Max.

Sesaat, Mr.Brown menatap sambil menilai kesungguhan raut wajah Max. β€œterus terang saya terkejut mendapat pertanyaan seperti itu dari seorang anak muda sepertimu,ada keinginan yang tidak biasa. Baiklah, untuk memenuhi keinginanmu agar kamu dapat selalu gembira dan membuat orang lain juga gembira, maka saya akan memberimu empat kalimat,” jawab Mr.Brown.

β€œPertama, anggap dirimu sendiri seperti orang lain. Apa yang kamu faham tentang kalimat ini?”

Max dengan gembira menjawab, β€œJika saya dapat menganggap diri saya seperti orang lain, maka saat saya menderita, sakit dan sebagainya, dengan sendirinya perasaan sakit itu akan jauh berkurang. Begitu juga sebaliknya, jika saya mengalami kegembiraan yang luar biasa, dengan menganggap diri sendiri seperti orang lain, maka kegembiraan itu tidak akan membuatku lupa diri. Apakah betul Mr.Brown?”

Mr.Brown mengangguk-angguk. β€œKalimat kedua, anggap orang lain seperti dirimu sendiri.”

Max terlihat berfikir sejenak. β€œDengan menganggap orang lain seperti diri kita, maka saat orang lain sedang tidak beruntung, kita dapat berempati, bahkan menghulurkan tangan untuk membantu. Kita juga dapat menyadari akan keperluan dan keinginan orang lain. Berjiwa besar serta penuh toleransi. Betul, Mr.Brown?”

Mr.Brown kembali mengangguk-angguk. β€œKalimat ketiga, anggap orang lain seperti mereka sendiri.”

Max berfikir lagi. Tak lama, ia mengutarakan pendapatnya, β€œKalimat ketiga ini menunjukkan bahwa kita harus menghargai privasi orang lain, sehingga kita tidak perlu saling mengganggu wilayah dan menyakiti orang lain. Setiap orang berhak menjadi dirinya sendiri.”

β€œBagus, bagus sekali!” kata Mr.Brown. β€œNah, sekarang kalimat keempat, anggap dirimu sebagai dirimu sendiri. Kalimat yang terakhir ini memang sesuatu yang tidak biasa. Jadi, renungkan baik-baik,” kata Mr. Brown.

Sampai beberapa waktu, Max tampak kebingungan. Wajahnya berkerut, tanda bahwa ia berusaha mencari arti dari kalimat Mr.Brown.β€œKalimat ini meminta kita untuk menemukan keberadaan jati diri kita sendiri. Tapi Mr.Brown, setelah memikirkan keempat kalimat tadi, saya merasa ada ketidakcocokan, bahkan ada yang kontradiktif.

Bagaimana caranya saya dapat merangkum keempat kalimat tersebut menjadi satu? Dan, perlu waktu berapa lama untuk mengerti semua kalimat itu sehingga aku dapat selalu gembira dan sekaligus menggembirakan orang lain juga?”

Spontan, Mr.Brown menjawab, ”Mudah. Renungkan dan gunakan waktumu seumur hidup untuk belajar dan mengalaminya sendiri.”

“And you will know the truth, and the truth will set you free.”

Tidak Ada Yang Sia-sia.

Suatu pagi Kiko pergi ke danau untuk berjalan-jalan. Ketika sedang berjalan di sekitar danau, dia melihat seorang nenek tua yang sedang memberus tempurung seekor kura-kura.

Kiko menghampirinya dan bertanya;
β€œNenek, apa yang sedang nenek lakukan?”

β€œOh ini, saya sedang membersihkan lumut yang tumbuh di tempurung kura-kura ini. Saya suka kura-kura dan saya ingin melakukan sesuatu untuk membantu mereka,” jawab nenek.

Kiko bertanya lagi, β€œOh, sudah berapa ekor kura-kura yang nenek sudah bantu bersihkan tempurungnya?”

β€œDari pagi saya baru membersihkan 2 tempurung kura-kura saja, kura-kura di tangan saya ini adalah yang ketiga, saya baru saja mulai membersihkannya.”

Sambil sedikit tertawa, Kiko berkata, β€œTapi nek, di danau ini, entah ada berapa banyak kura-kura, dan berapa banyak yang dapat nenek bantu bersihkan tempurungnya? Apa artinya hanya membersihkan beberapa ekor kura-kura saja?”

Nenek menjawab, β€œSaya tidak tahu ada berapa ekor kura-kura di danau ini, tapi saya yakin, kura-kura yang sedang saya bersihkan ini, jika dia dapat berbicara, dia pasti akan berterima kasih.”

Tidak pernah ada kebaikan yang sia-sia, kebaikan yang kita lakukan mungkin tidak dapat mengubah dunia, namun pasti dapat mengubah satu kehidupan, iaitu makhluk yang kita tolong.

β€œLove and kindness are never wasted. They always make a difference. They bless the one who receives them, and they bless you, the giver.” – Barbara De Angelis

Jireh

Jireh adalah lokasi pengikatan Ishak. Abraham menamakan tempat itu “Tuhan Menyediakan /Yahweh Jireh” setelah Tuhan menyediakan seekor domba jantan untuk dikorbankan menggantikan Ishak.

Tuhan menyediakan menurut waktu-Nya, bukan waktu kita. Dia selalu memberikan apa yang kita perlukan. Pemberian-Nya tidak pernah terlambat dan tidak pernah terlalu cepat. Dia tau apa yang terbaik bagi kita. Dia memerhatikan kita setiap jam, setiap minutes dan setiap detik.

Burung-burung di udara saja dipeliharaNya apalagi kita semua, manusia yang begitu dikasihNya. Oleh itu, jangan kuatir di dalam hidup, Tuhan pasti akan selalu menyediakan. Dia tidak pernah meninggalkanmu. Ketika kamu gagal atau pun sakit, Dia tetap hadir bersamamu.

Tuhan bukan hanya mampu menyediakan, Dia juga mampu membuat hidup kita berkelimpahan. Adakalanya memang kita harus melalui masa-masa yang sulit sebagai ujian iman, namun percayalah bahwa TUHAN tidak akan menguji kita melebihi kekuatan kita dan pada akhirnya Dia akan memberikan jalan keluar untuk setiap pergumulan kita.

The Moment I Stopped Complaining.

Complaining identik dengan mengeluh. Oleh kerana banyaknya masalah yang dihadapi, manusia mulai mengeluh bahkan hampir menyerah.

Namun ketika kita berhenti mengeluh dan mulai bersyukur, ada perubahan yang luarbiasa terjadi dalam diri kita.

1. Orang akan suka dan senang dengan kita.

Apabila terbiasa bersyukur, kita akan menjadi rendah hati mudah berterima kasih untuk kebaikan orang lain.Oleh itu, orang suka dan mau bergaul dengan kita.

2. Tidur lebih nyenyak.
Bersyukur meningkatkan kualiti tidur kita. Menurut Journal of Psychosomatic Research 2009, orang yang senantiasa mengucap syukur tidur lebih nyenyak dan bangun lebih segar setiap hari.

3. Mental lebih kuat dan Sihat.
Risiko depresi dan bunuh diri sangat rendah pada orang yang senantiasa bersyukur.

4. Meningkatkan kesihatan fizikal.
Bersyukur meningkatkan imunisasi tubuh. Bersyukur dikaitkan dapat menstabilkan tekanan darah dan mengurangkan rasa sakit atau terluka.

5. Semakin bersemangat untuk mencapai “goals” hidup.
Orang yang terbiasa bersyukur cenderung lebih konsentrasi, antusias dan bersemangat berbanding orang yang tidak banyak bersyukur.

6. Menjadi pemimpin yang lebih baik.
Bersyukur mampu mengembangkan potensi kepemimpinan seseorang dan dapat menghargai pekerjaan orang lain dengan lebih baik.

7. Mudah pulih dan bangkit dari kesedihan atau kesulitan yang dialami. – Mampu mengelola stres dengan baik.

8. Lebih tenang dan jauh dari kekuatiran.
Sekalipun hidup dalam situasi yang sulit atau bahkan hidup dalam kemiskinan, rasa syukur membuat seseorang itu lebih tenang dan bahagia.

9. Menghargai diri sendiri dengan lebih baik.
Dapat menerima dirinya sendiri dengan segala kelebihan dan kekurangan yang ada. Ia tidak menghakimi diri, tidak membandingkan diri dengan orang lain dan tidak melakukan hal-hal yang merusak dirinya sendiri.

Saat kita mengambil keputusan untuk berhenti mengeluh dan menggantikannya dengan ucapan syukur, rasa indah dan bahagia itu mulai mengambil alih hidup kita. π‹πžπ­’𝐬 𝐒𝐭𝐨𝐩 𝐂𝐨𝐦𝐩π₯𝐚𝐒𝐧𝐒𝐧𝐠.

Our Lives Matter

Perjalanan hidup kita seperti proses menghasilkan sesuatu benda yang begitu indah dan berharga mahal.
Dan setiap proses yang dilalui tidak ada yang kebetulan. Suatu proses yang direncanakan dan tidak mudah iaitu diolah, diremukkan, dibentuk.

Begitu juga kita. Harus melalui berbagai tekanan, kesulitan, masalah dan juga penderitaan, yang membawa kita kepada dukacita. Namun apabila kita mampu menguasai diri dan mengaturnya dengan baik, serta membiarkan tangan Sang Pencipta bekerja dalam hidup kita, kehidupan kita akan menjadi luar biasa dan berbeza.

Dukacita yang kita alami hari ini adalah sarana yang membawa kita pada sebuah kehidupan yang lebih baik lagi. Di mana ketika mempelajari sesuatu dari kesulitan yang kita alami, kita pun bertindak mengubah diri dan menjadi indah. Kita berharga di mata Sang Pencipta.

Proses membentuk pasu.

Parable of the Ten Virgins.

Ada satu cerita tentang sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki. Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana. Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak, sedangkan gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka.

Tetapi kerana mempelai itu lama tidak datang-datang juga, mengantuklah mereka semua lalu tertidur. Waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Songsonglah dia! Gadis-gadis itupun bangun semuanya lalu membereskan pelita mereka.

Gadis-gadis yang bodoh berkata kepada gadis-gadis yang bijaksana: Berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu, sebab pelita kami hampir padam. Tetapi jawab gadis-gadis yang bijaksana itu: Tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu.

Lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan beli di situ. Akan tetapi, waktu mereka sedang pergi untuk membelinya, datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup Kemudian datang juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata: Tuan, tuan, bukakanlah kami pintu! Tetapi ia menjawab: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu. Kerana itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya.

Minyak adalah lambang persekutuan yang karib dengan Sang Pencipta, iman yang sejati dan kebenaran hidup. Menunggu memang suatu pekerjaan yang sangat membosankan, sebab itu banyak orang gagal dalam proses menunggu ini. Mereka tidak bertahan dan putus asa,kesetiaan menjadi luntur dan “gelora api cinta” itu pun menjadi padam. Sudah siap sediakah kita menyambut kedatangan Sang mempelai?



No Longer A Slave To Fear.

Seorang gadis kecil menaiki keretapi untuk pertama kalinya. Matanya melebar terpesona melihat pepohonan hijau, keretapi lain dan tanah pertanian di sekitarnya.

Ketika keretapi mendekati sebuah sungai, gadis kecil itu ketakutan dan menjerit, “mama! Keretapi akan tercebur ke sungai!” Namun,ada jambatan membawa keretapi itu ke seberang.

Kemudian waktu keretapi meluncur ke arah gunung, gadis itu kembali berteriak ketakutan, “mama! kita akan melanggar gunung itu!” Namun,ada terowong membuat keretapi itu menembusi gunung itu.

“Oh,” kata gadis kecil itu lagi, “pasti ada seseorang yang pergi mendahului kita, dan membuatkan jalan bagi kita.”
Itulah yang Sang Pencipta kita lakukan bagi semua orang yang percaya kepadaNya.

Jika ketakutan membayangi dan mengancam. Ingatlah Sang Pencipta. Dialah yang menenteramkan kita sepanjang jalan kehidupan ini. Dia telah pergi terlebih dahulu dan mempersiapkan jalan bagi kita. Kita dapat berjalan melewati apa pun sebab Dia menyertai kita. Jangan takut!.

“I’m no longer a slave to fear, I am a child of God. You split the sea, So I could walk right through it. You drown my fears in perfect love. You rescued me and I will stand and sing, I am a child of God.”