Lepaskan Belenggu Masa Lalu

Jika kita membaca kajian terhadap pemimpin-pmimpin dunia, seperti Abraham Lincoln, Franklin D. Roosevelt, Sir Winston Churchill, Clara Barton, Helen Keller, Mahatma Gandhi, Bunda Teresa, Dr. Albert Schweitzer, dan Martin Luther King Jr.,25% dari mereka memiliki kecacatan fizikal yang serius dan 50% lainnya telah mengalami tindakan kekerasan di masa kanak-kanaknya atau dibesarkan di dalam kemiskinan.

Neil Rudenstein pernah menjadi presiden Harvard University. Latar belakang keluarga Rudenstein sama sekali bukan dari kalangan akademik tinggi. Ayahnya hanyalah seorang penjaga penjara dan ibunya seorang waitress.

Para pemimpin atau tokoh dunia tersebut tidak mempedulikan latar belakang kurang baik dari dirinya, keluarganya, atau lingkungannya. Mereka dapat melihat keadaan mereka dari sudut positif. Bahkan mereka tidak pernah mengasihani diri mereka sendiri atau meminta orang lain mengasihani mereka.

Kita tidak dapat mengubah masa lalu, tetapi kita dapat merusak masa kini yang sangat baik jika kita terus mengasihani diri atau mengharapkan orang lain untuk mengasihani kita.

Jangan biarkan masa lalu atau latar belakang kita membelenggu kehidupan sehingga menghalang kita untuk meraih kesuksesan. Terus maju dan berkarya. Bawalah semua masalah kita ke hadirat Tuhan. Percayalah, kuasa dan karya Tuhan sungguh ajaib bagi kita.

Kamu Adalah Garam Dunia

“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.”

Selain melazatkan makanan atau membuat sesuatu yang tawar menjadi ada rasa, garam juga digunakan sebagai pengawet makanan, mencegah pembusukan,alternatif untuk menghalau kuman dan mencegah infeksi gigitan serangga. Antara makanan yang diawetkan dengan garam adalah telur, ikan, daging dan sebagainya. Makanan yang diawetkan dengan garam dapat dikonsumsi beberapa bulan.

Namun, hakikat cara kerja garam itu bersifat tersembunyi,perlahan-lahan tapi pasti. Tersamar, tidak ketara, dan secukupnya saja. Garam itu melazatkan makanan tanpa menjadi makanan itu sendiri. Meleleh, melebur dan akhirnya tidak terlihat lagi,yang tinggal hanya rasanya.

Keberadaan kita di dunia ini maunya seperti garam yang dapat memberi rasa bagi dunia yang sedang tawar ini, rasa yang dapat dinikmati dan berguna bagi semua orang. Menjadi garam dunia menuntut kita memberkati dengan tidak menonjolkan diri, memberi manfaat tanpa mempamer diri.

Di balik sebutir garam itu tersembunyi kerendahan hati. Menjadi garam dunia itu kita berkorban untuk tetap tulus dan jujur meskipun banyak kelicikan dan kepicikan di dunia ini. Menjadi garam dunia itu berarti kita memberkati satu sama lain dalam kerendahan hati.

Kebaikan Dibalas Kebaikan

“Carry out a random act of kindness, with no expectation of reward, safe in the knowledge that one day someone might do the same for you.”

Princess Diana

Seorang ibu tunggal biasa menolong Curtis Jackson, seorang homeless yang dia jumpa semasa dalam perjalanan ke pejabatnya.

Suatu hari ibu itu kehilangan pekerjaan dan rumahnya. Bersama anaknya yang masih kecil, mereka tinggal dalam kereta.

Ketika polis menjumpai mereka,polis itu mengancam akan mengambil anaknya jika mereka tidak mempunyai tempat tinggal yang sesuai. Lalu mereka pindah ke hotel.

Siapa yang membayar sewa hotel? Curtis Jackson. Dari upah bekerja kasar, Curtis mampu membayar sewa hotel ibu dan anaknya dalam waktu cukup lama. Sehingga mencapai sekitar 9,000 dolar.

Kadang Tuhan menghendaki kita memberi saat kita sendiri sedang tidak berlebih atau bahkan kita dalam kekurangan. Bila Tuhan menghendaki kita bermurah hati pada orang yang Dia tunjukkan, mari kita taat. Percayalah, Tuhan tahu apa yang kita perlukan. Jika Dia berkehendak memelihara seseorang melalui kita, Dia pasti berkuasa juga untuk memelihara kita.

Ora Et Labora

“…Jikalau bukan Tuhan yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan Tuhan yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga.”

Ora Et Labora adalah ungkapan bahasa Latin yang bermaksud berdoa dan bekerja . Ungkapan ini sebagai penegasan bahwa berdoa dan bekerja adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan, saling melengkapi, dan ada keseimbangan.

Kita tidak boleh hanya berdoa saja tanpa melakukan sesuatu. Jadi harus disertai dengan tindakan, usaha, atau bekerja. Sebaliknya kita juga tidak boleh bekerja saja tanpa disertai berdoa, sebab bumi dan segala isinya, termasuk hidup kita, adalah milik Tuhan, Sang Pencipta dan Penyedia.

Pekerjaan kita dan semuanya adalah pemberian Tuhan. Mengawali hari dengan doa akan membuat kita tetap rendah hati di hadapan Tuhan. Doa menjaga kita supaya tidak melupakan Tuhan dalam setiap pekerjaan yang kita lakukan.

Mungkin kita berfikir bahwa semua yang kita miliki adalah hasil kerja keras semata. Memang benar kita bekerja keras dan berkeringat bahkan sampai menitiskan air mata untuk memperolehinya.

Namun, pernahkah kita renungkan bahwa ada kekuatan yang lebih besar dari diri kita, bahkan alam semesta? Iaitu Dia yang mampu memberikan segala apa yang kita perlukan? Tuhan kita bukan hanya Sang Pemberi, melainkan juga Pemilik segala sesuatu.

Berdoa tanpa bekerja atau bekerja tanpa berdoa akan berujung pada kesia-siaan. Dengan mengingat dan menerapkan ora et labora, pasti Tuhan memberkati jerih payah kita.

Slow Down

“Slow down and everything you are chasing will come around you.”


-John De Paola

Di tahun baru ini mungkin ada banyak resolusi yang ingin kita capai,sehingga kita senantiasa ingin bergerak dengan cepat. Kita berfikir untuk lebih produktif dan efisien, kita perlu memadatkan agenda, tergesa-gesa menyelesaikan makan atau memandu dengan terburu-buru. Namun kita tertanya-tanya kenapa kita tidak gembira.

Carol Odell, seorang penulis sebuah kolum konsultasi bisnes, mengatakan bahwa memperlambatkan pergerakan hidup dapat memberi kesan positif bagi kita di tempat kerja dan di rumah. Dia percaya ketergesa-gesaan dapat memengaruhi pengambilan keputusan kita dan menyebabkan kita mengabaikan hal-hal penting serta orang-orang yang kita kasihi.

Itu sebabnya Carol menganjurkan setiap orang untuk memperlambatkan pergerakan hidup, dan bahkan menyarankan idea yang agak radikal dengan sengaja menunggu lampu lalu lintas menjadi merah dan menggunakan waktu itu untuk meditasi.

Mungkin sudah waktunya kita mulai memperlambatkan pergerakan agar kita dapat menikmati berkat-berkat Tuhan dan lebih gembira dalam hidup ini.

“Tanpa pengetahuan kerajinanpun tidak baik; orang yang tergesa-gesa akan salah langkah. “

Special Guest

Pagi itu Eric tukang kasut bangun lebih awal dari biasa. Dia membersihkan kedainya, kemudian kembali ke dalam rumahnya, menyalakan api di tungku, dan menyiapkan meja. Hari ini dia mengambil keputusan untuk tidak bekerja.

Dia menunggu kedatangan, seorang tetamu istimewa iaitu Tuhan. Malam sebelumnya Tuhan datang dalam mimpinya dan memberitahu Eric bahwa Dia akan datang mengunjunginya besok.

Eric yang excited dan penuh sukacita duduk di ruangan yang nyaman dan menunggu. Kemudian dia mendengar langkah kaki di luar dan ketukan pada pintu “dia sudah datang,” fikir Eric, sambil lari ke arah pintu dan membukanya. Ternyata itu hanyalah posmen. Wajahnya merah dan jari-jarinya biru kerana kedinginan. Dia menatap Eric sambil menelan air liur melihat cerek berisi teh di tungku. Eric mengajak dia duduk menghangatkan diri di dekat tungku dan memberikannya segelas teh.

Posmen itu berkata: “Terima kasih, teh ini sedap.” Kemudian dia menghilang di tengah cuaca dingin di luar.

Setelah posmen itu pergi, Eric membersihkan lagi mejanya. Lalu dia duduk di dekat jendela untuk menunggu kedatangan tetamunya. Dia yakin bahwa tetamu itu akan datang.

Tiba-tiba dia melihat seorang anak laki-laki yang sedang menangis. Eric memanggilnya dan mengetahui bahwa anak itu kehilangan jejak ibunya di kota dan tidak tahu jalan untuk pulang. Kemudian,Eric menulis “Tunggu saya. Saya akan kembali segera.” pada sehelai kertas dan meletakkannya di atas meja. Kemudian dia membiarkan pintu terbuka sedikit. Dia memegang tangan anak kecil itu dan membawanya pulang.

Ternyata perjalanan itu mengambil masa yang lebih lama dari jangkaan. Hari sudah mulai agak gelap waktu dia sampai di rumahnya. Ketika sampai di rumah Eric terkejut mendapati ada seseorang di dalam rumahnya sambil memandang ke luar jendela. Hatinya berdebar. “Pasti Tuhan, yang sudah berjanji untuk datang.”fikirnya.

Ketika membuka pintu Eric mendapati bahwa orang itu adalah perempuan yang tinggal di tingkat atas flatnya. Perempuan itu kelihatan sedih dan lelah. Dia memberitahu bahwa anaknya sedang sakit parah,dia tidak tahu mau berbuat apa.

Eric merasa kasian dan ikut bersedih. Perempuan itu hidup sendiri dengan anaknya sejak suaminya meninggal dalam kecelakaan. Jadi dia ikut wanita itu. Mereka bersama-sama menyelimuti anaknya dengan kain basah. Eric duduk di tepi katil anak laki-laki itu, sementara ibunya beristirahat sejenak.

Ketika Eric kembali ke rumahnya, hari sudah larut malam. Eric sangat lelah dan sungguh kecewa lalu membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Hari sudah larut. Tuhan belum juga datang.

Tiba-tiba dia mendengar suara Tuhan yang berkata, “Terima kasih, kerana menghangatkan tubuh saya di rumahmu hari ini. Terima kasih kerana menunjukkan jalan ke rumah. Dan terima kasih atas dukungan dan bantuanmu. Anakku, saya berterima kasih kerana hari ini saya telah menjadi tetamu istimewamu.”

” Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”

Lembaran Baru

Kita sudah memulai lembaran yang baru di tahun yang baru ini. Mari kita tidak mengingat-ingat dan meratapi kegagalan-kegagalan yang lalu. Kini saatnya kita mengarahkan pandangan ke depan dan menata langkah yang baru.
“…𝑎𝑘𝑢 𝑚𝑒𝑙𝑢𝑝𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑎𝑝𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑒𝑙𝑎𝒉 𝑑𝑖 𝑏𝑒𝑙𝑎𝑘𝑎𝑛𝑔𝑘𝑢 𝑑𝑎𝑛 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑎𝑟𝑎𝒉𝑘𝑎𝑛 𝑑𝑖𝑟𝑖 𝑘𝑒𝑝𝑎𝑑𝑎 𝑎𝑝𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖 𝒉𝑎𝑑𝑎𝑝𝑎𝑛𝑘𝑢, 𝑑𝑎𝑛 𝑏𝑒𝑟𝑙𝑎𝑟𝑖-𝑙𝑎𝑟𝑖 𝑘𝑒𝑝𝑎𝑑𝑎 𝑡𝑢𝑗𝑢𝑎𝑛 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑚𝑒𝑚𝑝𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒𝒉 𝒉𝑎𝑑𝑖𝑎𝒉,”

Kita jadikan tahun ini sebagai tahun di mana kita akan mengalami dan menikmati janji-janji Tuhan dalam kehidupan kita. Namun untuk meraih janji-janji itu,kita harus memperhatikan beberapa hal.

𝐏𝐞𝐫𝐭𝐚𝐦𝐚, kita harus memiliki kesabaran. Kita harus bersabar dan harus meneguhkan hatimu kita. Kita tidak lagi bersungut-sungut dalam apa pun keadaannya. Seperti petani yang harus bersabar menunggu hingga musim menuai tiba. Dalam masa penantian itu,petani tidak tinggal diam. Sebaliknya mereka tetap bekerja,mengairi tanaman, memberi baja, mencabut rumput, dan membasmi serangga perosak tanaman. Panas terik, hujan lebat, petir, tidak mematahkan semangatnya. Petani tetap teguh,setia dan fokus pada janji Tuhan.

𝐊𝐞𝐝𝐮𝐚, kita harus bertekun. Jika kita membaca kisah Ayub, meskipun mengalami ujian dan penderitaan yang hebat dan berat, hatinya tetap berpaut kepada Tuhan kerana dia tahu bahwa ujian terhadap iman menghasilkan ketekunan, dan kerana ketekunannya hidup Ayub dipulihkan secara luar biasa.

Mari kita berjalan di tahun ini dengan sabar dan tekun, yakini bahwa Dia membuat segala sesuatu indah pada waktunya.

Tahun Yang Baru

Hari ini kita melangkah ke tahun yang baru. Banyak impian dan harapan wujud di benak setiap orang. Banyak juga ramalan bahwa hari-hari di depan kita tidak semakin mudah.

Tetapi mari kita belajar untuk tetap tenang. Ketenangan itu adalah keputusan dan bukan keadaan. Yang bermaksud, seburuk apa pun situasi yang ada dan membuat hati tidak tenang kita dapat memutuskan untuk tetap tenang. Kerana kita mempunyai Tuhan yang tidak pernah meninggalkan kita dan pertolongan-Nya selalu tepat pada waktunya.

Dunia kita ini sudah semakin kehilangan ketenangan. Banyak orang gelisah dan khuatir. Tetapi di tahun yang baru ini kita diingatkan lagi bahwa kunci untuk hidup tenang adalah memiliki penyerahan diri penuh kepada Tuhan. Hanya Dia yang dapat kita andalkan.

Orang yang tenang akan kuat menghadapi persoalan apa pun. Orang yang tidak tenang pula akan cenderung menuju ke arah fikiran yang negatif. Lalu keliru dalam membuat keputusan.

Kerana itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang supaya kita kuat dalam situasi apapun.

Hikikmori

Hikikomori adalah istilah bahasa Jepun untuk menggambarkan orang yang suka menyendiri dan menjauhi kehidupan sosial. Mereka mengurung diri dalam bilik selama beberapa waktu, bertahun-tahun, bahkan sampai berpuluh-puluh tahun. Mereka melakukannya kerana tidak tahan menanggung tekanan hidup. Mereka stres dan depresi.

Menurut analisis yang dilakukan NHK untuk acara Fukushi Network, penduduk hikikomori di Jepun mencapai lebih dari 1.6 juta orang. Total perhitungan NHK hampir sama dengan perkiraan Zenkoku Hikikomori KHJ Oya no Kai sebanyak 1,636,000 orang.

Menurut survei Kementerian Kesihatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan, 1.2% penduduk Jepun pernah mengalami hikikomori. 2.4% di antara individu berusia 20 tahun pernah sekali mengalami hikikomori (1 di antara 40). Dibandingkan dengan perempuan, laki-laki yang mengalami hikikomori adalah empat kali ganda.

Tekanan hidup dialami oleh semua orang, tanpa memandang bulu.Jika saat ini kita mengalami tekanan, stres, bahkan depresi, ingatlah bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Berserulah kepadaNya. PertolonganNya tidak pernah terlambat sesuai dengan waktunya Tuhan. Waktu Tuhan pasti yang terbaik walau kadang tidak dapat dimengerti. Tetap percaya.

Penyesalan Selalu Datang Terlambat

Tertunduk lesu. Itulah yang terjadi pada seorang laki-laki melihat isterinya terbaring di ranjang hospital dengan penuh luka-luka di badannya.

Laki-laki itu menyesal kerana tidak menghantar motorsikalnya untuk di servis,padahal isterinya sudah banyak kali memberitahu brek motosikal itu ada masalah.

Pada hari itu,isterinya membawa motosikal itu agak laju sebab terburu-buru menjemput anaknya di sekolah, lalu melanggar kendaraan lain kerana brek motorsikal itu rusak.

Isteri masuk hospital, motorsikal rusak, dan harus membayar ganti rugi pemilik kendaraan yang dilanggar isterinya.

Penyesalan pasti selalu datang terlambat, setelah kita merasakan berbagai kesusahan yang terjadi. “Seandainya aku…, ” itulah yang selalu diucapkan.

Penyesalan juga dirasakan oleh Daud kerana perbuatannya yang mengambil Batsyeba dari suaminya. Daud harus menanggung konsekuensi yang berat dari dosanya itu. Dan Daud menyingkapi penyesalan itu dengan bertobat.

Jika ketika ini kita menyesal kerana melakukan sesuatu yang tidak benar, sehingga harus menanggung berbagai kerugian, jangan terus menyalahkan diri sendiri. Jadikan ini pelajaran berharga dan bangkit kembali. Mintalah kekuatan dari Tuhan agar kita mampu menjalaninya dengan melakukan berbagai hal yang berguna dan membangun.