Oh Duniaku!

Oh duniaku! Hidup di zaman sekarang ini sungguhlah teramat berat,cabaran yang kita hadapi semakin besar. Banyak hal dan kejadian yang kita alami di dunia ini aneh dan sulit untuk difahami.

Oh duniaku! Hidup yang bersih dan jujur sudah sulit untuk ditemukan. Orang jujur dan hidup bersih semakin tertekan sedangkan mereka yang hidup dalam ketidakjujuran dan hidup menyimpang dari kebenaran semakin berleluasa. Orang-orang miskin semakin tertindas dan mengalami ketidakadilan.

Oh duniaku! Di zaman sekarang ini keadilan dapat dijualbeli, yang benar disalahkan dan yang salah dibenarkan. Semuanya boleh dibeli jika seseorang itu berpangkat dan berduit.

Oh duniaku! Dosa tidak lagi dianggap sebagai dosa, tetapi sudah ditoleransi. Kefasikan justru dijunjung dan dihargai.

Namun seburuk apa pun keadaan dunia ini mari kita kuatkan hati dan semangat agar tidak terbawa arus dunia dengan memiliki cara hidup yang berbeda. Kita adalah garam dan terang dunia. Di tengah pembusukan dunia yang terjadi begitu cepatnya, garam dan terang dunia berfungsi memberikan rasa dan cahaya.

Selalu Menyertaimu

Suatu ketika seorang anak kecil memutuskan untuk pergi berenang di sebuah danau di belakang rumahnya. Kerana mau cepat terjun ke dalam air dingin, ia lari melalui pintu belakang, sambil meninggalkan kasut, stokin dan pakaiannya.

Ia melompat ke dalam air, tanpa menyadari bahwa sewaktu berenang ke tengah danau, seekor buaya sedang berenang ke arah arahnya. Ibunya yang di rumah sedang melihat keluar melalui jendela ketika itu melihat buaya dan anaknya makin saling mendekati.

Dalam ketakutannya, ia berlari ke arah danau, berteriak dan menjerit-jerit pada anaknya sekuat tenaga. Mendengar suaranya, anak kecil itu jadi waswas dan berbelok balik menuju ibunya. Tapi sudah terlambat…

Ketika ia sampai pada ibunya, buaya itu sempat mencapainya. Dari pinggir danau, ibu itu dengan pantas menangkap tangan anaknya yang kakinya sedang digigit buaya. Maka terjadilah pertarungan yang luar biasa di antara ibu dan buaya itu. Buaya itu jauh lebih kuat dari ibu itu, tetapi sang ibu dengan semangat juang yang tinggi tidak mau melepaskan tangan anaknya.

Pada waktu itu,seorang pemburu kebetulan sedang melalui tempat itu, ia mendengar suara jeritan, lalu dengan pantas ia berlari ke sumber suara jeritan yang didengarnya, lalu membidik dan menembak mati buaya tersebut.

Apa yang luarbiasa,setelah berminggu-minggu di hospital, anak kecil itu terselamat. Kakinya memang sangat terluka parah, penuh parut akibat serangan ganas buaya, dan pada tangannya, ada goresan garutan dalam sekali akibat kuku-kuku ibunya yang menancap kedalam dagingnya waktu ia terus bertahan menyelamatkan anaknya yang tercinta.

Reporter surat kabar lokal yang mewawancarai anak itu tentang trauma yang dialaminya, bertanya apakah ia mau menunjukkan bekas-bekas lukanya. Anak itu menaikkan celananya dan menunjukkan parut gigitan buaya. Kemudian, dengan bangga, ia berkata pada reporter itu, “Tapi coba lihat tangan-tanganku. Ada juga parut-parut bekas luka di tanganku. Aku dapat ini sebab ibuku tidak melepaskan aku.”

Kitapun sama seperti anak kecil itu. Kita pun ada luka-luka. Bukan akibat gigitan buaya. Tapi akibat luka-luka kehidupan masa lalu yang menyakitkan. Mungkin beberapa di antaranya begitu buruk dan telah membuat kita begitu menyesalinya. Akan tetapi, beberapa luka-luka itu adalah kerana Tuhan tidak melepaskan kita. Dia menjaga dan menyertai kita.

Di tengah pergumulan, Tuhan ada di sana sambil memegang tangan kita. Ia mau melindungi dan menyediakan segalanya. Tapi terkadang kitalah yang secara bodoh melangkah ke dalam situasi berbahaya. Kolam renang hidup kita penuh dengan mara bahaya dan kita lupa bahwa musuh sedang menunggu untuk menyerang. Di saat itulah mulai ada peperangan, dan sekiranya kita dapatkan parut-parut luka cinta kasih-Nya pada tangan-tangan kita, bersyukurlah, sebab itu kerana Ia tidak pernah dan tidak akan melepaskan kita. Dia selalu menyertai kita.

Grace

𝑮𝒓𝒂𝒄𝒆. (Kasih karunia) boleh diartikan sebagai sesuatu yang mampu memberikan kebahagiaan, kesukaan, suka cita, kehangatan dalam berbicara dan tindakan kebaikan. Penerimaan tanpa syarat dan membawa damai sejahtera.
Kita dan dunia ini memerlukan kasih karunia.

Ada sebuah cerita tentang seorang ayah memutuskan berdamai dengan anak laki-lakinya yang melarikan diri ke sebuah kota. Dengan penuh penyesalan, sang ayah memasang iklan dalam surat kabar , “Paco jumpa papa di Hotel Montana hari Selasa tengah hari. Semua sudah dimaafkan. Papa.”

Paco adalah nama yang sangat umum. Ketika sang ayah yang sangat merindukan anak laki-lakinya itu datang ke hotel pada Selasa tengah hari yang dinanti-nanti itu, ia tidak pernah menyangka apa yang akan ditemuinya,sekitar 800 pemuda bernama Paco menunggu papa mereka. Dan 800 Paco itu juga ternyata juga memerlukan pengampunan papa mereka.

Bayangkan bagaimana masing-masing Paco itu suatu hari membuka surat kabar dan membaca kalimat itu, “Paco… semua sudah dimaafkan. Papa.” Betapa hati mereka tersentuh dan dipenuhi dengan pengharapan yang besar bahwa iklan itu benar ditujukan kepada mereka. Betapa mereka mengharapkan bahwa papa merekalah yang menulis iklan itu. Betapa hati mereka merindukan pengampunan, penerimaan kembali.

Begitupun kita dan dunia ini sangat memerlukan 𝑮𝒓𝒂𝒄𝒆. Selama kita hidup di dunia ini, tidak ada lagi alasan untuk tidak bersyukur kepada Tuhan, dengan cara hidup di dalam melakukan hal-hal yang baik, kerana kita hidup oleh kasih karunia saja(𝑮𝒓𝒂𝒄𝒆).

Cerita Di Suatu Malam Natal

Pada suatu Malam Natal, seorang isteri mengajak suaminya menghadiri sebuah kebaktian malam Natal di gereja. Suaminya menolak. la berkata, “Tidak. Saya akan menjadi orang munafik jika saya menghadiri kebaktian malam Natal, sementara saya tidak sedikit pun percaya akan hal-hal seperti itu.”

Maka pergilah sang isteri ke gereja seorang diri. Sang suami sendirian di rumah, duduk di sofa dekat perapian, sebab di luar ada badai salju yang cukup hebat dan udara amat dingin.

Dalam ketenangan ia menikmati kehangatan, tiba-tiba ia mendengar suara benturan yang cukup kuat di jendela kaca rumahnya. Ia bangkit dan melihat ke luar. Di tengah badai salju, di tengah cuaca dingin, ia melihat tiga burung kecil terkapar di tanah yang sudah diselimuti salju yang tebal. Ketiga burung itu rupanya mau masuk ke rumah mencari kehangatan, tetapi terbentur kaca jendela.

Laki-laki itu melihat burung-burung itu mencoba untuk bangkit dan melompat. Mereka tahu, mereka tidak dapat terus berada di situ atau mereka akan mati. Laki-laki itupun tahu, burung-burung itu tidak mempunyai tempat lain untuk menyelamatkan diri, kecuali masuk ke dalam rumah.

Oleh itu, ia segera mengenakan pakaian panas, kasut boot, pelindung kepala, dan sebagainya lalu berjalan ke luar rumah untuk menyelamatkan burung-burung itu. Tetapi burung-burung itu tidak mengerti maksud baik laki-laki tersebut. Jadi setiap kali laki-laki itu menghulurkan tangannya untuk menangkap, burung-burung itu melompat menjauh.

Laki-laki itu segera kembali ke dalam rumah. la mengambil beberapa potong roti. Lalu menebarkan potongan-potongan roti itu untuk mepancing burung-burung itu masuk ke dalam rumah. Burung-burung itu mulai memakan potongan-potongan roti itu, bergerak semakin dekat ke rumah. Tetapi ketika sudah cukup dekat, dan burung-burung itu melihat laki-laki itu di depan pintu, mereka ketakutan dan kembali terbang menjauh.

Laki-laki itu putus asa. la begitu ingin menolong, tetapi burung-burung itu tidak mau ditolong. Padahal ia tahu bahwa tanpa pertolongan, burung-burung itu pasti akan mati kedinginan. Dengan menghela napas panjang ia berkata kepada dirinya sendiri, “seandainya aku dapat menjadikan diriku sama seperti mereka, menjadi burung, pasti mereka akan mempercayaiku, dan mereka akan selamat. Tetapi bagaimana mungkin aku menjadi burung?”

Sementara itu, dari kejauhan ia mendengar bunyi lonceng gereja, mengingatkan orang bahwa kebaktian malam Natal akan dimulai 5 menit lagi. Laki-laki itu tersentak. Baru sekarang ia mengerti Natal itu. Yesus telah melakukan apa yang tidak mungkin ia lakukan. la tidak mungkin menjadi burung. Tetapi Yesus telah menjadi manusia. Namun, walaupun begitu, ia dan banyak orang tetap begitu bodoh.

Seperti burung yang tahu akan binasa tetapi tetap saja tidak mau dan tidak bersedia untuk diselamatkan.
Kali ini laki -laki itu tidak mau bertindak bodoh lagi. Ia segera mengenakan pakaian terbaiknya. Berjalan menuju gereja, merayakan malam Natal. Di halaman rumah, ia melihat burung-burung itu telah mati. “Aku tak mau mengalami nasib yang serupa,” katanya dalam hati.

Benih Yang Baik Menghasilkan Buah Yang Baik.

Pada suatu hari yang seorang pemuda sedang berjalan menelusuri jalanan kota. Di sebelah kanan dan kirinya berderetan kedai yang menjual berbagai jenis barang.

Tiba-tiba langkah pemuda itu terhenti di depan sebuah kedai. Pemuda itu terkejut kerana melihat Tuhan sedang duduk di salah satu gerai.

Pemuda itu menghampiri-Nya dan bertanya, “Apa yang Engkau jual?”

Tuhan menjawab, “Apa yang kauinginkan?”

Pemuda itu berkata, “Aku inginkan kebahagiaan, ketenangan fikiran, dan kebebasan dari rasa takut… untuk diriku dan seisi dunia ini.”

Tuhan tersenyum dan berkata, “Di sini Aku tidak menjual buah. Yang Kujual hanya benihnya.”

Kita perlu menyadari dalam kehidupan ini betapa pentingnya menaburkan benih-benih tindakan yang baik. Kerana “…𝑎𝑝𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑡𝑎𝑏𝑢𝑟 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔, 𝑖𝑡𝑢 𝑗𝑢𝑔𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑑𝑖𝑡𝑢𝑎𝑖𝑛𝑦𝑎.” Kita tidak dapat berharap menikmati buah-buah berkat jika kita tidak menyadari pentingnya melakukan bagian kita iaitu menabur benih.

Apakah kita cemas dengan keadaan diri kita? Mintalah pertolongan Tuhan dan mulailah menaburkan benih-benih tindakan dan tanggapan yang baru hari ini. Pada saat waktunya tiba nanti, kita akan menuai hasilnya. Benih yang kita tabur hari ini menentukan buah yang akan kita tuai besok. Jika kita menabur benih yang baik,kita pasti akan menuai buah yang baik.

Hidup Adalah Hidup

Mother Teresa pernah berkata:

𝐼𝑛𝑖 𝑏𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑡𝑒𝑛𝑡𝑎𝑛𝑔 𝑏𝑒𝑟𝑎𝑝𝑎 𝑏𝑎𝑛𝑦𝑎𝑘 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑘𝑖𝑡𝑎 𝑙𝑎𝑘𝑢𝑘𝑎𝑛,
𝑇𝑎𝑝𝑖 𝑡𝑒𝑛𝑡𝑎𝑛𝑔 𝑏𝑒𝑟𝑎𝑝𝑎 𝑏𝑎𝑛𝑦𝑎𝑘 𝑘𝑖𝑡𝑎 𝑚𝑒𝑛𝑐𝑖𝑛𝑡𝑎𝑖 𝑎𝑝𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑘𝑖𝑡𝑎 𝑙𝑎𝑘𝑢𝑘𝑎𝑛.
𝐵𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑡𝑒𝑛𝑡𝑎𝑛𝑔 𝑏𝑒𝑟𝑎𝑝𝑎 𝑏𝑎𝑛𝑦𝑎𝑘 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑘𝑖𝑡𝑎 𝑏𝑒𝑟𝑖𝑘𝑎𝑛,
𝑇𝑎𝑝𝑖 𝑡𝑒𝑛𝑡𝑎𝑛𝑔 𝑏𝑒𝑟𝑎𝑝𝑎 𝑏𝑎𝑛𝑦𝑎𝑘 𝑐𝑖𝑛𝑡𝑎 𝑘𝑖𝑡𝑎 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑚𝑒𝑚𝑏𝑒𝑟𝑖.“

Begitu indah melihat orang-orang yang berjiwa besar. Orang yang tidak mempersalahkan siapa pun, tidak membandingkan dirinya dengan orang lain. Seperti malaikat, inilah jiwa yang besar dari orang-orang yang kaya secara rohani walaupun miskin secara material.

Hidup adalah kesempatan, gunakan itu.

Hidup adalah keindahan, kagumi itu.

Hidup adalah mimpi, wujudkan itu.

Hidup adalah cabaran, harungi itu.

Hidup adalah kewajiban, penuhi itu.

Hidup adalah pertandingan, jalani itu.

Hidup adalah mahal, jaga itu.

Hidup adalah kekayaan, simpan itu.

Hidup adalah kasih, nikmati itu.

Hidup adalah janji, genapi itu.

Hidup adalah kesusahan, atasi itu.

Hidup adalah nyanyian, nyanyikan itu.

Hidup adalah perjuangan, terima itu.

Hidup adalah tragedi, hadapi itu.

Hidup adalah perjalanan, lewati itu.

Hidup adalah terlalu berharga, jangan sia-siakan itu.

Hidup adalah hidup, berjuanglah.

Wajahmu Memancarkan Kebahagiaan Hatimu

“𝑆𝑒𝑝𝑒𝑟𝑡𝑖 𝑎𝑖𝑟 𝑚𝑒𝑛𝑐𝑒𝑟𝑚𝑖𝑛𝑘𝑎𝑛 𝑤𝑎𝑗𝑎𝒉, 𝑑𝑒𝑚𝑖𝑘𝑖𝑎𝑛𝑙𝑎𝒉 𝒉𝑎𝑡𝑖 𝑚𝑎𝑛𝑢𝑠𝑖𝑎 𝑚𝑒𝑛𝑐𝑒𝑟𝑚𝑖𝑛𝑘𝑎𝑛 𝑚𝑎𝑛𝑢𝑠𝑖𝑎 𝑖𝑡𝑢.”

Beberapa pendulang emas sedang mencari emas di pinggir hutan. Setelah beberapa jam salah seorang dari mereka menemukan sebuah batu yang istimewa. Setelah memecahkannya, ia melihat bahwa batu itu mengandung emas.

Dengan penuh semangat mereka bekerja, dan tidak lama kemudian mereka menemukan sejumlah besar logam mulia yang mereka cari. Dengan hati yang dipenuhi kegembiraan yang meluap-luap mereka berteriak, “Kita menemukannya! Kita menemukan emas! Kita kaya!”

Oleh kerana bekalan tidak mencukupi,mereka singgah membelinya di sebuah kota. Selama berada di kota, tidak seorang pun dari mereka menceritakan tentang hal itu. Namun sekelompok lelaki telah berkumpul dan siap mengikuti mereka.

Mereka berkata, “Kalian pasti sudah menemukan emas.”

Para pendulang emas itu hairan, “Siapa yang memberitahu kamu?”

“Tidak seorang pun,” jawab mereka. “𝑊𝑎𝑗𝑎𝒉 𝑘𝑎𝑙𝑖𝑎𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑎𝑡𝑎𝑘𝑎𝑛𝑛𝑦𝑎.”

Hal yang serupa juga akan dialami saat seseorang bertemu kebahagiaan dan sukacita. Dari wajah kita akan mengatakan kita sedang bahagia dan bersukacita. Saat kita sedih,marah dan kepahitan, wajah kita juga akan mengatakannya.

Apapun yang terkandung di hati kita,akan terpancar di wajah kita. Sebab itu ada ayat mengatakan,
“𝐽𝑎𝑔𝑎𝑙𝑎𝒉 𝒉𝑎𝑡𝑖𝑚𝑢 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑠𝑒𝑔𝑎𝑙𝑎 𝑘𝑒𝑤𝑎𝑠𝑝𝑎𝑑𝑎𝑎𝑛 𝑘𝑒𝑟𝑎𝑛𝑎 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑠𝑖𝑡𝑢𝑙𝑎𝒉 𝑡𝑒𝑟𝑝𝑎𝑛𝑐𝑎𝑟 𝑘𝑒𝒉𝑖𝑑𝑢𝑝𝑎𝑛.”

Kita Hidup Hanya Satu Kali Saja

“𝐷𝑎𝑛 𝑠𝑎𝑚𝑎 𝑠𝑒𝑝𝑒𝑟𝑡𝑖 𝑚𝑎𝑛𝑢𝑠𝑖𝑎 𝑑𝑖𝑡𝑒𝑡𝑎𝑝𝑘𝑎𝑛 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑚𝑎𝑡𝑖 𝒉𝑎𝑛𝑦𝑎 𝑠𝑎𝑡𝑢 𝑘𝑎𝑙𝑖 𝑠𝑎𝑗𝑎, 𝑑𝑎𝑛 𝑠𝑒𝑠𝑢𝑑𝑎𝒉 𝑖𝑡𝑢 𝑑𝑖𝒉𝑎𝑘𝑖𝑚𝑖…”

Kita lahir ke dunia hanya satu kali dan kita hidup juga hanya satu kali saja. Hidup ini adalah kesempatan untuk melakukan banyak kebaikan yang benar kepada orang- orang di sekeliling kita sebelum kita kembali kepada sang Pencipta.

Kehidupan yang hanya sekali itu akan diakhiri dengan kematian dan itu menjadi hari penghakiman untuk menerima keselamatan dan menentukan tujuan akhir hidup kita. Apakah kita terpilih untuk menerima mahkota kehidupan atau tidak.

Hidup adalah kesempatan untuk mengasihi sesama manusia dan terlebih lagi mengasihi Tuhan kita. Dia datang menyatakan kasihNya bagi manusia hanya sekali. Ia tidak akan datang lagi sebagai manusia dan kedatangan-Nya tidak lagi untuk menanggung dosa.Ia datang sebagai penyelamat.

Tidak lama lagi kita akan menyambut ulang tahun kelahiran Juruselamat. Mari kita renungkan apakah kita sudah mempergunakan setiap kesempatan hidup kita dengan melakukan kebaikan dan kebenaran? Seandainya belum, mulai lakukan sekarang. Syukur kita masih diberi kesempatan.

Sanjungan Yang Melalaikan

Suatu hari di dalam hutan, rubah melihat seekor gagak terbang dengan sepotong daging di paruhnya. Sang gagak itu hinggap di dahan pohon.

Rubah yang dari pagi belum makan, mau mendapatkan daging tersebut. Ia pun berjalan hingga ke bawah pohon yang dihinggapi gagak tadi.

“Selamat petang, Gagak yang cantik!” serunya. “Betapa mempesonanya penampilanmu hari ini. Matamu tampak cerah, paruhmu bersih dan bulumu berkilau.”

Mendengar pujian itu, gagak menoleh ke bawah. Senang sekali hatinya mendapat pujian dan sanjungan dari rubah.

Melihat reaksi gagak, rubah melanjutkan rancangannya. Ia memuji gagak lebih jauh lagi.

“Melihat penampilanmu yang luar biasa, pasti suaramu juga sangat merdu melebihi suara burung lain di hutan ini. Nyanyilah satu lagu, aku ingin mendengarnya.

Merasa tersanjung, gagak mengangkat kepalanya dan bersiap membuka suara.

Ia lupa, ada daging di paruhnya. Potongan daging itu jatuh ke tanah dan segera diambil oleh rubah, sementara gagak terus bernyanyi.

Ketika ia selesai bernyanyi dan rubah sudah pergi jauh dari situ, gagak baru menyadari apa yang telah terjadi. Ia menyesal, sudah lengah hanya kerana pujian sang rubah.

Demikian juga kita senantiasa perlu bersikap waspada dan tidak lengah. Ada orang yang memberi pujian hanya kerana ingin mengambil keuntungan atau ada niat jahat terhadap kita.

Orang-orang bermulut manis akan melontarkan kata-kata pujian yang berlebihan secara berulang-ulang, namun jika kita waspada kita akan dapat merasakan bahwa hal itu diutarakan secara tidak tulus atau “mempunyai maksud yang tersembunyi” kerana ada keinginan untuk mencari keuntungan untuk kepentingan diri sendiri.

“𝑆𝑒𝑝𝑒𝑟𝑡𝑖 𝑝𝑒𝑐𝑎𝒉𝑎𝑛 𝑝𝑒𝑟𝑖𝑢𝑘 𝑏𝑒𝑟𝑠𝑎𝑙𝑢𝑡𝑘𝑎𝑛 𝑝𝑒𝑟𝑎𝑘, 𝑑𝑒𝑚𝑖𝑘𝑖𝑎𝑛𝑙𝑎𝒉 𝑏𝑖𝑏𝑖𝑟 𝑚𝑎𝑛𝑖𝑠 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝒉𝑎𝑡𝑖 𝑗𝑎𝒉𝑎𝑡.”

Selalu Ada Malaikat Menjaga Kita

“𝐼𝑛𝑔𝑎𝑡𝑙𝑎𝒉, 𝑗𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛𝑔𝑔𝑎𝑝 𝑟𝑒𝑛𝑑𝑎𝒉 𝑠𝑒𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑎𝑛𝑎𝑘-𝑎𝑛𝑎𝑘 𝑘𝑒𝑐𝑖𝑙 𝑖𝑛𝑖. 𝐾𝑎𝑟𝑒𝑛𝑎 𝐴𝑘𝑢 𝑏𝑒𝑟𝑘𝑎𝑡𝑎 𝑘𝑒𝑝𝑎𝑑𝑎𝑚𝑢: 𝐴𝑑𝑎 𝑚𝑎𝑙𝑎𝑖𝑘𝑎𝑡 𝑚𝑒𝑟𝑒𝑘𝑎 𝑑𝑖 𝑠𝑜𝑟𝑔𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑠𝑒𝑙𝑎𝑙𝑢 𝑚𝑒𝑚𝑎𝑛𝑑𝑎𝑛𝑔 𝑤𝑎𝑗𝑎𝒉 𝐵𝑎𝑝𝑎-𝐾𝑢 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖 𝑠𝑜𝑟𝑔𝑎.”

Malaikat adalah makhluk yang kudus dan penuh kebaikan. Ia menjaga dan melindungi manusia yang tulus,murni dan suci hatinya seperti anak-anak kecil.

Malaikat berhubungan dengan manusia untuk menjalankan tugasnya melayani orang-orang yang harus memperoleh keselamatan, dan malaikat selalu hadir dalam setiap zaman.

Kita bersyukur kerana Tuhan yang kita yang maha baik telah menugaskan malaikat untuk menjaga,menolong dan menyertai kita para pewaris keselamatan. Kita tidak perlu takut untuk berjalan.

“𝑆𝑒𝑠𝑢𝑛𝑔𝑔𝑢𝒉𝑛𝑦𝑎 𝐴𝑘𝑢 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑢𝑡𝑢𝑠 𝑠𝑒𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑎𝑙𝑎𝑖𝑘𝑎𝑡 𝑏𝑒𝑟𝑗𝑎𝑙𝑎𝑛 𝑑𝑖 𝑑𝑒𝑝𝑎𝑛𝑚𝑢, 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑚𝑒𝑙𝑖𝑛𝑑𝑢𝑛𝑔𝑖 𝑒𝑛𝑔𝑘𝑎𝑢 𝑑𝑖 𝑗𝑎𝑙𝑎𝑛 𝑑𝑎𝑛 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑚𝑒𝑚𝑏𝑎𝑤𝑎 𝑒𝑛𝑔𝑘𝑎𝑢 𝑘𝑒 𝑡𝑒𝑚𝑝𝑎𝑡 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑒𝑙𝑎𝒉 𝐾𝑢𝑠𝑒𝑑𝑖𝑎𝑘𝑎𝑛.”